Monday, September 12, 2016

Waktu masih menyembah berhala Muhammad memang al-Amin, tapi berubah menjadi kejam setelah memimpin Islam

Waktu masih menyembah berhala Muhammad memang al-Amin, tapi berubah menjadi kejam setelah memimpin Islam

Seorang Muslim Indonesia yang bermukim di Tunisa menghubungi saya lewat chatting, mengatakan walau kita berbeda tapi kita saudara sebangsa dan dari pembicaraan dia minta saya membuat tulisan tentang perang yang dilakukan Muhammad. Ini jawaban saya tapi tentu terbuka untuk dibaca oleh siapa saja.

Harus diakui bahwa sebelum mengangkat dirinya menjadi nabi, Muhammad adalah orang yang baik, menjadi suami dari seorang istri yang usianya 25 tahun lebih tua dan dari perkawinan itu mendapatkan 4 putri dan 2 putra. Sebagai penyembah berhala bersama suku Quraisy lainnya, Muhammad juga rajin melakukan tawaf mengelilingi Kabah sehingga suatu hari diberi kehormatan mengatur pemindahan Hazar Aswad (Batu Hitam) karena itu dia diberi julukan al-Amin, orang yang dapat dipercaya.

Waktu mulai mencoba kariernya sebagai nabi, Muhammad juga pasti tidak berpikir akan menjadi pemimpin perang, tidak terpikir akan melakukan pembunuhan apa lagi pembataian. Muhammad hanya berusaha memperkenalkan al-Quran, kitab yang menurut pemikirannya akan menjadi kitab suci bagi bangsa Arab yang setara dengan kitab Taurat yang berisi hukum sedangkan riwayat hidupnya yang akan setara dengan Injil sudah disebut di masa awal pengajarannya bahwa kitab itu akan ada dan akan ditulis setelah kematiannya.

Selama 3 tahun Muhammad berusaha mendapatkan murid, ternyata tidak mudah tetapi ahirnya ada beberapa orang yang mau menjadi pengikutnya dari kalangan miskin dan sebagian adalah budak yang biasa hidup dalam kekerasan atau korban kekerasan. Waktu kegiatannya membacakan ayat al-Quran di sekitar Kabah ditegur oleh suku Quraisy, salah seorang pengikutnya mengambil rahang unta, memukul salah satu orang Quraisy sehingga terjadi pertumpahan darah pertama atas nama Islam yang kemudian berbuntut hubungan yang tidak baik dengan orang-orang Quraisy. Untuk mendapatkan lahan yang kondusif bagi penyebaran agama barunya, Muhammad hijrah ke Madinah dan kedatangannya ke Madinah juga dengan maksud damai, bisa dibuktikan dari dibuatnya Piagam Madinah.

Harapan Muhammad dapat hidup damai di Madinah ternyata tidak menjadi kenyataan, karena tidak ada sumber hidup yang dapat digali untuk memenuhi kebutuhannya dan kebutuhan pengikutnya. Jalan keluarnya merampok kafilah Quriasy yang lewat dekat Madinah. Awalnya perampokan itu tidak dipimpin Muhammad sendiri, seorang budak yang sudah dibebaskan yang diangkat menjadi anak angkatnya disuruh memimpin perampokan itu tetapi gagal. Lalu Muhammad melatih orang-orangnya agar mahir menggunakan senjata dan kemudian memimpin sendiri perampokan dan ternyata berhasil. Setelah terjadi beberapa kali perampokan suku Quraisy tidak bisa tinggal diam, mereka mengirim tentara untuk menertibkan jalur perdagangan yang melewati daerah dekat Madinah dan terjadilah perang dan perang itu dimenangkan oleh Muhammad yang membuktikan bahwa Muhammad bisa menjadi pemimpin perang.

Keberhasilan Muhammad memimpin perang banyak dibantu oleh kamahirannya mengeluarkan ayat-ayat al-Quran untuk memotivasi para pengikutnya. Bahwa perang yang harus dilakukan adalah memenuhi perintah Allah Swt, dilantunkan ayart berikut:

9:111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Sewaktu satu suku Yahudi di Madinah diusir dilantunkan ayat berikut:

59:2. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama[1463]. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan.
[1463]. Yang dimaksud dengan ahli kitab ialah orang-orang Yahudi bani Nadhir, merekalah yang mula-mula dikumpulkan untuk diusir keluar dari Madinah.

Di samping adanya ayat-ayat yang terus dikeluarkan sesuai kebutuhan, semangat perang juga dipicu oleh pembagian harta rampasan perang yang kemudian bukan hanya dalam bentuk harta benda tetapi juga wanita tawanan yang dibagi-bagi. Pengikut setianya yang sebagian berasal dari kalangan budak perlu dipelihara terus semangat perangnya dengan janji-janji harta rampasan yang banyak.

48:20. Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu[1401] dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus.
[1401]. Maksudnya: Allah menjanjikan harta rampasan yang banyak kepada kaum muslimin, sebagai pendahuluan dari harta rampasan yang banyak yang dikaruniakan-Nya itu, Allah memberikan harta rampasan yang mereka peroleh pada perang Khaibar itu.

Untuk menghadapi penguasa Mekah, Muhammad mengubah taktik tidak menyerang dengan kekerasan tetapi minta ijin melakukan Tawaf dan ahirnya perjalanan itu dapat dilakukan walau belum bisa masuk ke Kabah tetapi sudah ada perjanjian dengan orang Quraisy bahwa tahun berikutnya Muhamamd boleh masuk ke Kabah. Pulang dari perjalanan yang tidak menghasilkan harta rampasan perang, pengikutnya banyak yang kecewa dan untuk menghilangkan ke kecewaan itu Muhammad tidak terduga menggerakkan pasukkannya menyerbu ke pemikiman Yahdui di Khaibar.

Kemudian Mekah dapat direbut tetapi perang tidak pernah selesai, peragn harus terus dikobarkan sehingga kekuasaan Islam terus meluas setelah Muhamamd meninggal. Kekuasaan Kalifah di dunia ini berlangsung sekitar 1000 tahun dan dalam masa kekuasaan kafilah itu Islam dipoles agar tidak lagi menjadi agama perang, disusun beragam cerita pembenaran, ada berbagai cabang ilmu yang dikembangkan untuk menampilkan Islam sebagai agama yang tampaknya benar dan sekarang di mana perang sudah dianggap sebagai kejahatan ayat-ayat perang yang pernah dilantunkan Muhammad untuk memotivasi pengikutnya diusahakan dibaca dengan makna yang berbeda tatapi apa pun yang dilakukan sejarah yang sudah digores Muhammad yang sebagian tercantum di dalam al-Quran tidak pernah bisa dihapus.

SUMBER: http://memahamiperbedaanagama.blogspot.co.id/search/label/Waktu%20masih%20menyembah%20berhala%20Muhammad%20memang%20al-Amin
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...