Monday, September 12, 2016

Antara Suharto dan Muhammad (memperingati hari pengkhianatan Soeharto)

Judul tulisan Sdr. Koentyo Soekadar yang saya yakin orang Indonesia, bukan sesuatu yang luar biasa karena di antara anak bangsa ini banyak yang senang mencaci-maki pemimpin atau bekas pemimpin bangsanya sendiri. 


Kebiasaan itu tidak kita temukan di bangsa yang besar, bangsa yang beradab karena rakyatnya sudah beradab atau memiliki pandangan hidup yang baik. Orang Jerman menceritakan Hitler apa adanya tanpa caci maki dan tanpa pembelaan, Hitler sudah menjadi bagian dari sejarah bangsa Jerman sehingga perlu diajarkan di sekolah-sekolah tanpa mencaci-maki atau menghinanya. Bill Clinton yang pernah dihebohkan karena aktivitas seksualnya, hingga sekarang tetap dihormati oleh orang Amerika bahkan istrinya sekarang menjabat sebagai Menlu.

Bangsa yang besar menempatkan orang yang telah bejasa bagi kelangsungan hidup bangsanya dengan hormat. Apa pun yang pernah dilakukan bekas sang pemimpin keberadaannya dalam sejarah bangsa itu tidak bisa dihapus dan karena kepada anak cucu harus diajarkan perjalanan sejarah bangsanya maka mau tidak mau apa yang pernah dilakukan bekas pemimpin itu juga harus diajarakan dan untuk membangkitkan rasa bangga pada anak cucu orang cenderung menceritakan yang baik-baik bukan menutupi yang buruk tetapi lebih menonjolkan jasanya.

Demikian juga anak yang baik tidak akan membeberkan apa yang dilakukan ayahnya walaupun banyak hal buruk yang dilakukan ayahnya, karena dia tahu jika ayah sendiri dijelek-jelekan di muka umum dia sendiri yang akan menanggung malu, orang akan mengatakan anak tidak akan jauh dari bapaknya. Saya rasa tidak ada orang waras yang berpikir akan menghapus keberadaan ayahnya dalam sejarah hidupnya karena hal itu tidak mungkin dilakukan. Dan anak juga tidak bisa mengatakan kalau saja saya jadi anak SBY maka nasib saya akan lebih bahagia. Biar dia anak pemulung ya harus menerima dan harus tetap menghormati orang tuanya, itulah ajaran yang benar.

Menempatkan bekas pemimpin dengan terhormat adalah perbuatan yang wajar tetapi ada bangsa yang malah berlebihan, berupaya mengangkat harkat bangsanya di mata dunia dengan cara mencari cerita pembenaran atas tindakan buruk yang dilakukan tokoh bangsanya, memanipulasi sejarah agar tokoh bangsanya tampak menjadi lebih baik.

Lenin adalah salah satu contoh di mana cerita kehebatannya ditulis lebih dari keadaan sebenarnya bukan hanya agar diidolakan oleh orang Rusia tetapi juga agar dikagumi di seluruh dunia demi keuntungan bangsa Rusia. Muhammad adalah contoh yang lebih ekstrim. Perampokan terhadap orang sebangsanya diceritakan oleh bangsa Arab sebagai perintah Awloh memerangi orang kafir, mengawini banyak perempuan hingga 11 orang diceritakan sebagai perbuatan baik menampung janda perang. Cerita Kabah yang dibangun semasa Arab Kuno tidak ada lagi dalam sejarah Saudi Arabia karena jika ditulis dengan benar akan bertentangan dengan isi al-Quran yang menurut Muhammad berisi kata-kata Awloh dan di dalam al-Quran Muhammad menyebutkan Kabah dibangun oleh Nabi Ibrahim, tokoh Yahudi yang hidup sekitar 2000 tahun sebelum Masehi di mana waktu itu belum ada orang yang hidup di Padang Pasir Arabia. Dengan sengaja bangsa Arab menulis sejarah Kabah disesuaikan dengan al-Quran demi kepentingan bangsa Arab tentunya.

Anehnya kebanyakan orang Indonesia yang senang mencaci-maki Sukarno atau Suharto, mengagumi Muhammad melebihi kenyataan yang ada, bahkan menyembahnya sebagai Nabi. Dan tampaknya kebiasaan menjelek-jelekan Sukarno atau Suharto tidak banyak dilakukan oleh orang yang tidak menyembah Muhammad sebagai nabi karena mungkin mereka diajarkan untuk memaafkan sesama manusia apa lagi orang yang sudah meninggal.

Jadi kalau kita mau menjadi bangsa yang besar yang harus dilakukan sangat jelas, STOP MENGHUJAT PEMIMPIN SENDIRI APALAGI YANG SUDAH MENINGGAL. Bagaimana kita mengharapkan menjadi bangsa yang dihormati bangsa lain kalau di dalam tubuh bangsa kita sendiri ada atau banyak yang tidak mau menghormati bangsa sendri. Kita tidak perlu meniru apa yang dilakukan Muhammad yang menghina bangsanya sendiri, leluhurnya sendiri, yaitu suku Quraisy sebagai penyembah berhala.

Salam Damai


--- In nasional-list@yahoogroups.com, koentyo soekadar wrote:
>
>
> Hari ini, tanggal 11 Maret, hari yang diresmikan oleh Soeharto sebagai hari peresmian coup d'etat oleh Soeharto terhadap Pemerintahan Resmi Soekarno melalui apa yang dikenal dengan nama surat supersemar. Dengan surat yang tidak pernah jelas keberadaannya ini, yang jelas-jelas rekayasa dari Soeharto untuk melegalisasi coup d'etat-nya, mulailah jaman kelam sejarah Indonesia secara resmi.
>
> Oleh karena itu marilah kita bersama-sama mengheningkan cipta untuk saudara-saudara kita yang telah menjadi korban rezim dikmilfas Soeharto, yang secara langsung, yaitu 3 juta korban pembunuhan rezim tersebut, ditambah dengan seluruh Rakyat Indonesia dikurangi dengan beberapa gelintir manusia antek-antek dan kroni Soeharto.
>
> Apakah jaman kelam ini akan kita tolerir kelanjutannya?
>
>
>
> MERDEKA, MERDEKA, MERDEKA .......... !!!!!
>
>
>
> KS

SUMBER: http://memahamiperbedaanagama.blogspot.co.id/search/label/Antara%20Suharto%20dan%20Muhammad
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...