Sunday, July 31, 2016

Quran dan Peperangan Kekal

Quran dan Peperangan Kekal

Rusia baru-baru ini telah melarang kitab-kitab suci utama Islam – termasuk Sahih Bukhari – oleh karena kitab-kitab suci kaum Muslim itu diyakini telah mempromosikan “eksklusivitas (supremasisme) dari salah satu agama dunia” yaitu Islam. Atau menurut kata-kata yang dipakai oleh seorang asisten senior jaksa agung Rusia, Ruslan Galliev, kitab-kitab suci Islam itu telah melahirkan “para militan Islam” yang menimbulkan munculnya permusuhan etnis dan religius.
Oleh Raymond Ibrahim ; 26 November 2014
Jika Sahih Bukhari, sebuah koleksi hadis setebal 9 volume yang disusun di abad ke-9 dan yang dianggap oleh Muslim Suni sebagai kitab suci kedua terpenting setelah Qur’an, dilarang, karena dianggap menyebarkan permusuhan, lalu bagaimana dengan Quran?
Disamping itu, jika Sahih Bukhari berisi pernyataan-pernyataan yang mendukung terorisme yang diperuntukkan bagi kebesaran nabi Islam, serta seruan untuk membunuh orang-orang Muslim yang meninggalkan Islam, maka Quran, kitab suci Islam yang paling penting, juga penuh dengan ayat-ayat intoleransi dan seruan untuk melakukan kekerasan terhadap orang-orang non-Muslim. Sebuah contoh kecil seruan Allah untuk memerangi kafir seperti yang ada di bawah ini:
  • “Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari merek” (Quran Sura al Anfaal 8:12).
  • “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk” (Quran Sura at Taubah 9:29).
  • “Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian!” (Quran Sura at Taubah 9:5).
  • “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Quran Sura al Baqarah 2:216).
Inilah sebagian kecil teks-teks Quran yang memicu kekerasan dan intoleransi.
Sebagai contoh, sementara saya memberikan argument yang lebih lengkap disini, kendati Muslim diseluruh dunia, khususnya ke 57 anggota OKI terus mendorong pengesahan hukum “penistaan agama” di arena Internasional, maka ada satu ironi yang sangat besar yang hilang, khususnya pada sisi orang Muslim sendiri yaitu: Jika hukum-hukum seperti ini melarang film-film dan kartun-kartun yang menghina Islam, maka mereka pun, secara logis, perlu melarang agama Islam itu sendiri – satu-satunya agama dalam dunia ini yang teks-teks intinya secara aktif menghina dan melecehkan agama-agama yang lain.
Arti kata “penistaan” itu sendiri adalah “menghitamkan reputasi orang lain” atau “menilai secara salah atau tidak adil akan reputasi orang lain/sesuatu yang lain, dengan cara menghina atau memberi label”.
Kalau demikian apa kaitan hal ini dengan teks-teks religius inti Islam – bukan hanya Sahih Bukhari tetapi Quran itu sendiri, yang secara kasat mata telah menghina, melecehkan dan menghitamkan reputasi dari agama-agama lainnya?
Coba bandingkan dengan Kekristenan saja. Quran sura 5:73 mengatakan:
“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” Ayat Quran ini telah melakukan penistaan terhadap doktrin Trinitas dalam Kekristenan.
Bahkan dalam ayat Quran lainnya, Quran mengatakan bahwa orang Kristen akan pergi ke neraka karena berpegang pada doktrin Trinitas itu,
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Quran sura 5:72)

Dan mengutuki mereka,
“Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?”

Tentu saja ayat-ayat di atas telah menista agama Kristen dan ajaran intinya – belum lagi jika menyebut permusuhan yang ditujukan bagi orang-orang yang mempraktekkannya.
Singkatnya, argumentasi yang dipakai sehingga kitab-kitab suci Islam harus dilarang didasarkan pada alasan bahwa kitab-kitab suci Islam itu telah menyebabkan perpecahan, dan kekerasan sebab kitab-kitab suci Islam itu telah menimbulkan permusuhan terhadap non-Muslim.
Kitab suci Perjanjian Lama memang ada menyebut mengenai kekerasan maupun pembunuhan yang dilakukan oleh umat Israel terhadap (sebagai contoh) bangsa Kanaan. Namun yang patut diperhatikan adalah bahwa kisah-kisah mengenai kekerasan yang terjadi di masa lampau dalam sejarah Israel, hanya berlaku pada masa itu – dan tidak dapat diaplikasikan sebagai perintah untuk melakukan kekerasan pada masa kini.
Namun hal ini sangat berbeda jika kita kaitkan dengan Quran maupun Hadis, sebab perintah untuk melakukan kekerasan dan pembunuhan terhadap non-Muslim, tidak hanya berlaku pada masa lampau tetapi juga dapat diaplikasikan pada masa kini, oleh karena teks-teks sakral kitab-kitab suci Islam itu umumnya tidak memiliki konteks.
Jadi perintah Tuhan dalam Perjanjian Lama kepada orang Ibrani untuk memerangi dan membunuh orang-orang Het, Amori, Kanaan, Yebus dsb. – semuanya adalah bangsa-bangsa spesifik untuk sebuah waktu dan tempat yang spesifik juga.
Seringkali orang Muslim berargumen bahwa ayat-ayat Quran juga terikat dengan musuh-musuh yang bersifat temporal dan historis, termasuk para penyembah berhala di Mekah, dan juga kekaisaran Bizantium dan Sassanian.
Namun demikian, masalahnya adalah bahwa Allah dalam Quran memerintahkan Muslim untuk memerangi “Ahli Kitab” (yaitu orang-orang Yahudi dan Kristen yang masih eksis hingga saat ini), hingga mereka membayar pajak dengan patuh dan dalam keadaan tunduk (Quran Sura 9:29), dan Allah juga memerintahkan Muslim untuk “memenggal pada penyembah berhala kapanpun Muslim menemukan mereka” (Quran 9:5).
Bukankah ayat-ayat ini yang telah meng-inspirasi Boko Haram, ISIS, Al Qaeda, Al Shabaab, FPI dan kelompok-kelompok Islam radikal lainnya, yang hingga saat ini masih dengan sangat aktif memerangi orang-orang yang mereka anggap kafir? 
Dua bentuk ‘kata penghubung” yaitu kata “hingga” (hata) dan “kapanpun” (haythu), mendemonstrasikan natur perintah ini yang bersifat ‘berulang-ulang’ dan ‘dapat dilakukan dimana pun’. Masih ada “Ahli Kitab” yang masih belum “merasa diri mereka sebagai orang-orang yang telah ditundukkan sepenuhnya” (khususnya mereka yang ada di seluruh Amerika, Eropa dan Israel), serta “para penyembah berhala” yang belum dipenggal lehernya “kapan pun” orang Muslim menemukan mereka (khususnya yang ada di Asia dan sub Sahara Afrika).
Faktanya adalah, semua perintah untuk melakukan kekerasan yang terdapat dalam kitab-kitab suci Islam adalah sifatnya yang terbuka dan generik yaitu: “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. (Quran sura al Anfaal 8:39)
Hal ini memastikan bahwa, sepanjang Quran dipandang sebagai firman Tuhan yang bersifat literal, maka para pembacanya akan terus-menerus eksis dalam sebuah dunia yang dikotomis, yaitu Muslim versus non-Muslim.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...