Wednesday, December 14, 2016

Kesaksian Anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Tentang Kebobrokan HTI


Harist Abu Ulya, salah satu tokoh HTI yang dianggap provokator oleh Ujang, sehari-hari menggunakan produk kapitalisme.

Benteng NKRI, Bogor. Pada minggu lalu (2/6/2016) saya sholat dzuhur di masjid kampus Institute Pertanian Bogor (IPB). Sambil menunggu teman yang akan menjemput saya ke tempat kos-kosannya, saya duduk di serambi masjid. Ketika saya sedang sibuk mengirim pesan WhatsApp kepada teman saya, tiba-tiba seorang mahasiswa duduk di dekat saya.

Kami berkenalan dan mahasiswa tersebut bernama Ujang (bukan nama sebenarnya).
Mahasiswa tersebut kemudian mengajak saya ngobrol ke sana kemari. Awalnya kami sekedar basa basi dan ngobrol tentang asal usul dan kegiatan kami sehari-hari. Namun akhirnya kami ngobrol masalah politik yang sedang menjadi bahan pembicaraan di negeri ini.Slah satu pembicaraan kami adalah mengenai lika-liku kelompok Islam radikal.

Ujang mengaku bahwa dia masih aktif di salah satu ormas Islam yang terkenal, yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Akan tetapi, dia juga menyatakan keinginannya untuk keluar dari HTI.  

Ketika saya tanya mengapa dia tertarik bergabung dengan HTI, dia menjawab bahwa dulu dia tertarik dengan kampanye HTI untuk menegakkan khilafah Islamiyah. Lalu, ketika saya tanya lagi mengapa dia ingin meninggalkan HTI, dengan panjang lebar dia menjelaskan alasannya seperti ini.

Menurut Ujang, khilafah Islamiyah yang digembar-gemborkan oleh HTI hanyalah sekedar barang dagangan yang dijual HTI untuk mengeruk keuntungan dari para anggotanya.

Dengan jualan isu khilafah Islamiyah, para pemimpin HTI berhasil meyakinkan para anggotanya untuk menyumbangkan uang kepada HTI.  Sayangnya, uang tersebut tidak digunakan untuk kesejahteraan umat Islam secara keseluruhan, akan tetapi hanya digunakan untuk memperkaya para para pemimpin HTI.

Ujang selanjutnya menuturkan, bahwa dia sudah muak dengan kemunafikan yang dipertontonkan oleh para pemimpin dan anggota HTI. Misalnya, mereka mengatakan bahwa demokrasi adalah suatu bentuk kekafiran. Akan tetapi, mereka sendiri justru mengamalkan demokrasi dengan banyak melakukan demo-demo.

Ujang menambahkan, kalau HTI memang sungguh-sungguh menentang demokrasi, seharusnya HTI mengharamkan kegiatan demonstrasi. Rupanya, HTI sengaha aktif melakukan demo agar HTI banyak mendapatkan publikasi media. Nah, publikasi media inilah yang kemudian mereka pakai untuk menarik sumbangan dari para donatur. Mereka ingin membuktikan bahwa mereka telah melakukan kegiatan. Jadi, tujuan dari semua kegiatan demo HTI adalah semata-mata untuk mendapatkan uang dari para donaturnya. HTI tidak sungguh-sungguh ingin memperjuangkan kepentingan umat Islam. 

Ujang pun mengkritisi sikap HTI yang plin plan dan tidak konsisten. Di satu sisi, HTI sering mengkritik kapitalisme dan neoliberalisme serta menyalahkan kapitalisme dan neoliberalisme atas semua permasalagan yang melanda umat Islam.

Ironisnya, selama ini para pemimpin dan anggota HTI justru memenjadi agen-agen kapitalisme dan neoliberalisme. Mereka banyak menggunakan dan mempromosikan produk-produk kapitalisme dan neoliberalisme dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Bukan saja mereka menggunakan gadget-gadget buatan kaum kapitalis dan neoliberalis, bahkan di dalam kegiatan kaderisasi mereka, mereka juga mencontoh model kaderisasi kaum kapitalis dan neoliberalis. Misalnya, mereka menyebarkan paham-paham radikal mereka melalui internet dan media elektronik lainnya.

Ujang juga menjelaskan bahwa selama ini para tokoh HTI menjadi provokator dan dengan aktif mengadu domba kaum Muslimin Indonesia dengan pemerintah Indonesia yang sah.

Ujang mencontohkan, ketika para tokoh HTI berbicara di depan komunitas radikal (misalnya: para anggota Islamic State/ISIS), mereka mengatakan bahwa pemerintah Indonesia adalah pemerintahan kafir yang harus diganti/dilawan. Akan tetapi, ketika para tokoh HTI berbicara di depan para pejabat Indonesia, mereka mengatakan bahwa HTI tidak menentang pemerintah Indonesia dan HTI ingin membantu pemerintah menumpas kelompok radikal.

Nampaknya HTI sengaja ingin memprovokasi kelompok radikal agar mereka melakukan aksi-aksi teror melawan pemerintah. HTI juga ingin membuat pemerintah sibuk membasmi kelompok radikal agar pemerintah tidak melibas keberadaan HTI.

Di samping itu, para tokoh HTI juga sering mengajak kelompok radikal lainnya untuk berjihad (melakukan aksi-aksi serangan) melawan pemerintah, akan tetapi para tokoh HTI sendiri tidak berani berjihad.

Pada akhir pembicaraan kami, Ujang mengatakan bahwa dengan segala kemunafikan HTI ini, HTI pasti tidak akan berhasil membodohi kaum Muslimin Indonesia. HTI sudah pasti akan gagal dalam menjalankan bisnis/jualan khilafah Islamiyahnya di Indonesia. (BNKRI-069).   

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...