purchase books written by me.

purchase books written by me.
harga buku Rp. 21.000,- atau US$ 7.00

Monday, September 29, 2014

cara mamad dapet wahyu nyontek n ngarang n nepu n kerasukan setan ha...7x



Blog / Muhammad Menerima Wahyu

Ketika Muhammad memberitahu Khadijah, “Khadijah, aku pikir aku telah menjadi gila,” instingnya untuk melindungi si narsisis yang sedang membutuhkan langsung tergerak. Seorang yang menderita ‘inverted narcissism’ bergantung kepada pendamping narsisisnya untuk memenuhi kebutuhan narsistiknya. Ia mengupayakan kehebatannya dalam bayangan pendamping narsisisnya. Khadijah dihadapkan kepada dua pilihan: Mengakui bahwa pendamping narsisisnya telah menjadi gila dan menghadapi ejekan orang-orang yang mencemooh dirinya ketika ia menikah dengan Muhammad atau mendukung halusinasinya dan mendorongnya untuk merintis karir kenabian. Pilihan pertama berarti dipermalukan di depan publik dan pilihan kedua berarti kemuliaan. Pilihan yang sangat jelas baginya. Inverted narcissism adalah kebalikan dari narsisis. Pegangannya terhadap realita sama rapuhnya dengan orang yang narsisis.
Gua Hira
Suatu malam, saat tidur di gua Hira, Muhammad mengalami hal yang aneh. Ia merasakan sakit di bagian rusuknya, seolah-olah seseorang telah menendangnya. Ia terbangun dan tidak melihat siapa pun. Ia mencoba untuk tidur lagi dan kembali merasa seseorang menendang bagian rusuknya, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Hal ini terjadi tiga kali, hingga ia melihat sebuah penampakan cahaya putih dan di dalam cahaya itu berdiri sesosok manusia. Kata Rasulullah,  “Ia mendatangiku saat aku tidur, dengan selimut brokat yang di atasnya terdapat tulisan, dan berkata, ‘Baca!’ Aku berkata, ‘Apa yang harus kubaca?’ Ia membekapku dengan selimut itu untuk ketiga kalinya sampai aku berpikir ini adalah kematian dan ia berkata lagi, ‘Baca!’ Aku berkata, ‘Apa yang harus kubaca?’ – dan aku mengatakan ini hanya demi menyelamatkan diriku darinya, jangan-jangan ia akan melakukan hal yang sama lagi terhadapku. Ia berkata:
‘Baca dalam nama Allahmu yang menciptakan,
Yang menciptakan manusia dari gumpalan darah,
Baca! Allahmu adalah yang paling dermawan,
Yang mengajar dengan pena,
Mengajarkan apa yang tidak diketahui manusia’”.[1]

Sulit untuk dipercaya bahwa Tuhan akan berkomunikasi dengan para nabiNya dengan cara yang lucu seperti ini. Apa yang dialami Muhammad adalah contoh khas kejang yang disebabkan oleh epilepsi lobus temporal. 
Muhammad tertegun. Ia melihat ke kiri dan ke kanan dan kemanapun ia menoleh ia melihat Jibril berdiri di depannya. Itu adalah petunjuk yang jelas bahwa sosok yang ia lihat hanya ada di dalam kepalanya, bukan di luar dirinya. Itu adalah bagian dari imajinasinya. Kita tidak bisa memiliki bukti yang lebih baik lagi bahwa apa yang ia alami adalah halusinasi.
Muhammad berpikir ia telah kerasukan setan, atau kerasukan roh penyair. Untuk alasan tertentu, ia membenci para penyair. Ia berkata, “Lebih baik perut kalian dijejali dengan nanah, daripada menjejali (pikiran seseorang) dengan puisi.”[2] Ia berkata, “Tidak ada makhluk Allah yang lebih membenci aku daripada penyair atau orang kesurupan. Aku bahkan tidak bisa memandang mereka. Aku berpikir, celakalah jika aku ini penyair atau orang yang kesurupan? Orang Quraisy tidak akan pernah mengatakan hal ini kepadaku! Aku akan pergi ke puncak bukit dan menjatuhkan diriku ke bawah supaya aku terbunuh dan dapat beristirahat dengan tenang. Jadi aku berangkat untuk melaksanakannya dan kemudian, saat aku di tengah perjalanan menuju puncak bukit, aku mendengar suara dari langit berkata, ‘O Muhammad! Engkau adalah rasul Allah dan aku adalah Jibril.’ Aku mendongakkan kepalaku ke arah langit untuk melihat (siapa yang berbicara), dan sesungguhnya, Jibril dalam wujud manusia dengan kaki mengangkang di cakrawala berkata, ‘Wahai Muhammad! Engkau adalah rasul Allah dan aku adalah Jibril.”[3]
Ilustrasi: usaha bunuh diri ala Muhammad
Muhammad pulang ke rumah dengan ketakutan dan gemetar. “Aku mendatangi Khadijah dan duduk di pangkuannya dan merapatkan diriku padanya.”[4] Ia kemudian menceritakan pengalamannya. “Lindungi aku, lindungi aku,” ia memohon isterinya. Cobalah untuk membayangkan Muhammad, pria berusia empat puluh tahun, duduk di pangkuan Khadijah, seperti seorang balita, dan Khadijah berusaha menenangkannya.
“Puer Aeternus,” kata Sam Vaknin, “remaja abadi, Peter Pan yang abadi, adalah fenomena yang sering dikaitkan dengan narsisme patologis. Orang-orang yang menolak untuk menjadi dewasa memberi kesan kepada orang lain sebagai orang yang egois dan penyendiri, suka merajuk dan bandel, congkak dan penuntut – singkatnya: seperti anak kecil atau kekanak-kanakan. Orang narsisistik adalah orang dewasa parsial. Ia berusaha menghindari kedewasaan. Beberapa narsisis bahkan kadang-kadang menggunakan nada suara kekanak-kanakan dan meniru bahasa tubuh balita. Mereka menolak atau menghindari tugas-tugas dan fungsi orang dewasa. Mereka tidak mau berusaha menguasai ketrampilan orang dewasa atau pendidikan formal orang dewasa. Mereka melemparkan tanggungjawab orang dewasa kepada orang lain, termasuk dan khususnya kepada orang-orang terdekat dan terkasih mereka. Mereka tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak pernah menikah, tidak pernah membesarkan anak-anak, menyembunyikan asal-usul, tidak memelihara persahabatan yang sejati atau hubungan yang bermakna.”[5]
Semua ini cocok dengan Muhammad, kecuali bahwa ia menikah, bukan hanya sekali tetapi berkali-kali. Tetapi apakah itu benar-benar pernikahan? Hubungannya dengan Khadijah adalah hubungan ibu dan anak. Ia tidak pernah berfungsi sebagai seorang pria – seorang pencari nafkah, seorang pelindung. Ia tidak pernah memenuhi tanggungjawabnya sebagai suami atau ayah. Ia bukan anggota masyarakat yang aktif. Ia tinggal sebagai seorang penyendiri di gua. Dan setelah Khadijah wafat, ia menjadi kumbang seksual, menikahi atau hanya bersetubuh dengan sejumlah wanita, tanpa ikatan pernikahan yang sebenarnya dengan mereka. Bagaimana seorang pria berusia limapuluhan bisa menciptakan hubungan pernikahan yang berarti dengan wanita yang seharusnya menjadi anaknya atau bahkan cucunya? Tak satupun hubungan Muhammad yang sesuai dengan definisi pernikahan, yang merupakan kemitraan dari dua orang yang sepadan. Para isteri dan gundiknya hanyalah sekedar objek untuk dinikmati, mainan untuk dimainkan atau sebagaimana ditekankan oleh orang Muslim, sebagai pion dalam langkah politiknya.
Ketika Muhammad memberitahu Khadijah, “Khadijah, aku pikir aku telah menjadi gila,”[6] instingnya untuk melindungi si narsisis yang sedang membutuhkan langsung tergerak. Seorang yang menderita ‘inverted narcissism’ bergantung kepada pendamping narsisisnya untuk memenuhi kebutuhan narsistiknya. Ia mengupayakan kehebatannya dalam bayangan pendamping narsisisnya. Khadijah dihadapkan kepada dua pilihan: Mengakui bahwa pendamping narsisisnya telah menjadi gila dan menghadapi ejekan orang-orang yang mencemooh dirinya ketika ia menikah dengan Muhammad atau mendukung halusinasinya dan mendorongnya untuk merintis karir kenabian. Pilihan pertama berarti dipermalukan di depan publik dan pilihan kedua berarti kemuliaan. Pilihan yang sangat jelas baginya. Inverted narcissism adalah kebalikan dari narsisis. Pegangannya terhadap realita sama rapuhnya dengan orang yang narsisis.
Jika Khadijah adalah wanita normal, ia tentu akan terkejut dan akan meminta bantuan. Ia tentu akan memanggil pengusir setan atau tabib untuk menyembuhkan suaminya. Sesungguhnya jika ia memang normal ia tidak akan pernah menikahi Muhammad. Tetapi sebagai penderita ‘inverted narcissism’, ia meyakinkan Muhammad bahwa ia telah menjadi seorang nabi. Ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari hal itu wahai Abul Qasim. Allah tidak akan memperlakukan engkau demikian sebab ia tahu tentang kejujuranmu, kau sungguh dapat dipercaya, karaktermu yang baik, dan kebaikanmu. Hal ini tidak mungkin, sayangku. Bersukacitalah, dan berbesar hatilah. Sesungguhnya demi dia yang memegang jiwaku, aku memiliki harapan bahwa engkau akan menjadi nabi bagi orang-orang ini.”[7]
Hadis mengatakan bahwa Khadijah berangkat menemui sepupu tuanya Waraqa ibn Naufal yang telah menjadi Kristen. Ia memberitahu sepupunya apa yang telah terjadi kepada suaminya dan sepupunya meyakinkan dirinya bahwa Muhammad telah menerima wahyu yang sama yang diterima oleh Musa dan Yesus. Kebetulan sekali, Waraqa meninggal tidak lama setelah menyatakan Muhammad sebagai nabi Tuhan sehingga tidak ada seorangpun yang dapat menyanggah apa yang diklaim oleh Muhammad dan Khadijah. Namun, ada sesuatu dalam cerita itu yang membuatnya janggal. Dikatakan bahwa Waraqa mengenali Muhammad sebagai nabi karena pengetahuannya akan kitab-kitab suci. Hal ini tidak benar. Tidak ada dalam kitab suci Yahudi maupun Kristen yang mengisyaratkan tentang akan datangnya seorang nabi dari Arabia.
Ceritanya berlanjut dengan mengatakan bahwa Waraqa meramalkan Muhammad akan ditolak dan diusir oleh kaumnya. Apakah Waraqa seorang cenayang? Bagaimana ia bisa mengetahui hal-hal ini? Hadis ini, jika bukan buatan Muhammad tentunya merupakan karangan bertahun-tahun kemudian.


[1] Ibn Ishaq. 105
[2] Bukhari 8:73:175 dan Muslim 28:5609
[3] Ibn Ishaq. 106
[4] Ibn Ishaq. 106
[5] samvak.tripod.com/narcissistinfantile.html
[6] Tabari v. 3, h. 849








keideotan mamad : Muhammad mempercayai semua apa yang didengarnya ( QS 9:61 ). http://antikrismuhammad.blogspot.com/2014/05/keideotan-mamad-muhammad-mempercayai.html

Biang kerok
Europe

#52083 Apr 14, 2014
my name is Khan wrote:
<quoted text>
Perkataan yang keluar dari hati terdalam(yang penuh kedengkian).
al-quran jelas lah Firman allah, Laiknya Zabur,Taurat,Injil.(berasal dari sumber yang sama) Yiutu Allah SWT(Tuhan semua Mahluk).
alquran berasal dari dalam selimut aisha dan muhammad...
Tabari Vl7, halaman 7
Aisyah berkata “wahyu datang padanya
(Rasulullah) ketika ia dan aku bersamanya di
bawah sebuah selimut.”
Bukhari Vol 5 Bk57 N 119
Nabi berkata,”Demi Allah, wahyu Ilahi tak
pernah datang padaku ketika aku berada di
bawah selimut salah pun dari isteri-isteriku,
kecuali Aisyah.”
sumber : http://www.topix.com/forum/world/malaysia/TPEK5AU9RFUB8QNM6/p2387#c52080

Proses dan Cara Turunnya Wahyu


Sebelum menuju kepada pembahasan inti, tidak ada salahnya membahas terlebih dahulu mengenai apa definisi dari wahyu tersebut. Pengertian wahyu secara bahasa adalah bisikan, isyarat cepat, bisikan ke dalam hati, isyarat yang sangat rahasia. Sedangkan menurut istilah wahyu adalah segala sesuatu yang datangnya dari Allah yang secara langsung dihujamkan kedalam hati seorang hamba pilihan (nabi dan rasul).
Dikalangan ulama sampai saat ini sering diperdebatkan bagaimana sebenarnya proses turunnya wahyu tersebut, apakah turunya seperti batu yang dilempar dengan keras? Apakah seperti suara yang sangat keras dan dahsyat? Tentu semunya penuh rahasia yang harus dipecahkan. Tetapi berdasarkan Al-qur’an mengenai proses turunnya wahyu kepada Nabi dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Wahyu disampaikan melalui mimpi Nabi Muhammad s.a.w.
2.      Wahyu disampaikan kepada Nabi Muhammad s.a.w dengan cara dibisikkan ke dalam jiwanya. (Qs. Asy-Syura: 51-52)
3.      Wahyu disampaikan dengan cara kedatangan malaikat yang menyerupai seorang laki-laki, sebagaimana Jibril pernah datang kepada Nabi sebagai seorang laki-laki yang bernama Dihyah Ibn Khalifah, seorang laki-laki yang tampan.
4.      Wahyu datang kepada Nabi s.a.w., melalui Jibril yang memperlihatkan rupanya yang asli dengan enam ratus sayap yang menutup langit.
5.      Wahyu disampaikan oleh Allah dengan cara membicarakannya secara langsung kepada Nabi s.a.w., di belakang hijab, baik dalam keadaan Nabi sadar atau sedang terjaga, sebagaimana di malam Isra’, atau Nabi sedang tidur.
6.      Israfil turun membawa beberapa kalimat dan wahyu sebelum Jibril datang membawa wahyu Al-qur’an. Menurut ‘Amir Asy-Sya’by, Israfil menyampaikan kalimat dan beberapa ketetapan kepada Nabi s.a.w., selama tiga tahun, sesudah itu, barulah Jibril datang membawa wahyu Al-qur’an.
7.      Ketika Nabi Muhammad s.a.w., berada di atas langit pada malam Mi’raj, Allah s.w.t., menyampaikan wahyu-Nya kepada beliau tanpa perantara malaikat sebagaimana Allah pernah berfirman secara langsung kepada Nabi s.a.w.

8.      Wahyu disampaikan dengan menyerupai suara lebah.
9.      Wahyu disampaikan dengan menyerupai suara gemercikan lonceng, yakni Nabi mendengar suara lonceng sangat keras sehingga beliau tidak kuat menahan gemercingannya. Menurut riwayat-riwayat yang shahih, Nabi s.a.w., menerima wahyu yang datang dengan suara keras menyerupai suara lonceng. Dengan sangat berat, ke luar peluh dari dahi Nabi s.a.w., meskipun ketika itu hari sangat dingin. Bahkan unta yang sedang ditunggangi beliau menderum ke tanah. Pernah pula Nabi menerima wahyu dengan cara yang sama, ketika itu karena beratnya, beliau letakkan pahanya di atas paha Zaid bin Tsabit dan Zaid pun merasakan betapa beratnya paha Nabi s.a.w. (Subhi Shahih, 1985: 25).
Kritikan Kaum Oreintalis Terhadap Proses Turunnya Wahyu
Dari sekian banyak cara wahyu turun separti yang disebutkan di atas, ternyata di permasalhkan oleh kaum Oreintalis, salah satunya H. A. R. Gibb dalam Muhammedanism (1989: 28) meraka memandang bahwa cara-cara penyampaian wahyu kepada Nabi Muhammad s.a.w., merupakan cara-cara yang tidak masuk akal, dan ketika itu Muhammad adal dalam tidak sadar, bahkan menyatakan Muhammad terkena panyakint ayan dan “sawan” (lihat dalam Hasbi Ash-Shidieqie, Sejarah Ilmu Tafsir, hlm 23). Alasan-alasan oreintalis berkaitan dengan hal itu adalah sebagai berikut:
·         Wahyu yang disampaikan melalui mimpi. Dalam pandangan ilmu jiwa, orang yang sedang bermimpi adalah orang yang sedang tidak sadar atau berada di alam bawah sadar. Dengan demikian, sangat tidak logis jika orang yang sedang tidak sadar menerima pesan-pesan dari Tuhan dengan baik dan benar. Bahkan dalam hukum Islam sendiri ditegaskan bahwa orang yang sedang tidur tidak termasuk sebagai orang yang wajib melaksanakan hukum atau hukum menjadi gugur disebabkan mukallaf sedang tidur.
·         Wahyu disampaikan dengan gemercingan lonceng, suara lebah, dan bisikan yang rahasia adalah kenaifan karena tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa Muhammad memahami bahasa lebah dan bahasa lonceng.
·         Wahyu disampaikan secara langsung oleh Jibril dengan rupa aslinya, saat itu Muhammad ketakutan hingga tidak sanggup menerima kalimah wahyu. Dengan demikian, penyampaian wahyu dengan cara tersebut tidak komonikatif apalagi keadaan psikologis Muhammad terganggu dengan bentuk dan rupa Jibril yang asli yang menakutkan Muhammad.
·         Wahyu disampaikan melalui Jibril yang menyerupai seoran laki-laki, hal ini jelas bukan Jibril yang asli, sebab yang asli bukan manusia. Dengan demikian, wahyu disampaikan tidak orisinil.
·         Wahyu disampaikan oleh Tuhan secara langsung ketika Muhammad sedang Isra’ dan Mi’raj. Hal ini jelas tidak masuk akal, bahkan bertentangan dengan dengan ayat Al-qur’an yang menyatakan bahwa Allah adalah Dzat yang tidak sebanding dengan makhluk-Nya yang tidak akan dapat dilihat dengan kasat mata. Dapat dilihat dalilnya dalam surah Asy-Syura: 51 yang artinya: “Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir  atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” Dalam surah Asy-Syura ayat 51menyatakan dengan jelas dan tegas bahwa manusia mana pun dan siapa pun tidak akan dapat berkononikasi secara lansung dengan Allah, sebagaimana halnya manusia dengan manusia berhadap-hadapan, kecuali melalui perantaraan wahyu yang disampaikan melalui bisikan manusia, di belakang hijab atau melalui Jibril yang menyerupai seseorang.
Tuduhan oreintalis terhadap orisinalitas wahyu Al-qur’an yang disampaikan kepada Nabi sebagai bualan semata-mata dan suatu kejadian yang tidak normal, tentu memerlukan jawaban yang rasional dan filosofis. Bahwa wahyu sebagai sumber hukum Islam adalah benar, tetapi dengan tuduhan di atas pula, kebenaran statemen itu memerlukan rasionalisasi filosofis sehingga keyakinan terhadap wahyu bukan semata-mata karena adanya legalitas dari ayat-ayat Al-qur’an, melainkan dilengakapi dengan argumentasi ontologis yang kuat, bahwa wahyu Allah itu akurat dan dengan demikia, kitabullah pun senantiasa akurat.
Sumber  
 Saebani, Ahmad, Beni –Filsafat Hukum Islam, Bandung: CV Pustaka Setia, 2007.

jibril ntu bukan malekat mas tapi SETAN. HA...7X

JADE MAMAD TREMA WAHYU DARE SETAN TAUK. HA...7X

BUKTI YAH DARE HADIS MAMAD KALO SUARA LONCENG BERASAL DARE SETAN. HA....7X

ANTIKRIS = MUHAMMAD http://antikrismuhammad.blogspot.com/2012/01/antikris-muhammad.html

BUKTI SETAN = OLO. HA...7X http://allahswtadalahiblis.blogspot.com/2013/03/bukti-setan-olo-ha7x.html

YBU AMEN

Setelah pengalaman buruk di Gua Hira membuat Muhammad tertekan, Khadijah mengirim Muhammad pada Waraqa agar meyakinkan Muhammad bahwa dia dipanggil untuk jadi nabi Allah. Waraqa ternyata berhasil meyakinkan Muhammad dan bertanggungjawab atas ditulisnya kebanyakan ayat² Qur’an di awal Islam. Waraqa menyelipkan doktrin² Ebionit tentang Yesus ke dalam Qur’an, yang mengatakan bahwa Yesus adalah nabi, dan Dia tidak disalib, tapi Tuhan membuat orang lain jadi tampak seperti Yesus. Orang ini disalib karena orang² mengira dia adalah Yesus. Doktrin ini awalnya diciptakan oleh Simon, dukun dari Samaria, yang lalu menciptakan aliran bid’ah yang dinamakan Simonisme. Alirannya lalu menjadi akar doktrin yang kemudian dikembangkan oleh para Gnostik di masa depan. Hyppolytus menulis di bukunya yang berjudul “The Refutation of all heresies” (Bantahan terhadap semua pemahaman bid’ah) tentang gagasan Simon mengenai Yesus:
Yesus Kristus dirubah, dan diserupakan dengan para penguasa dan kekuatan dan malaikat, datang untuk pemulihan (berbagai hal). Dan lalu tampaknya Yesus muncul sebagai manusia, padahal sebenarnya dia bukanlah orang. Dan tampaknya dia menderita, padahal sebenarnya tidak mengalami penderitaan, tapi tampak demikian pada pandangan masyarakat Yahudi. [100]
[100] Hyppolytus, The Refutation of All Heresies, jilid VI , Bab xiv
Gagasan bahwa Tuhan membuat orang lain mirip Yesus dan lalu disalib ternyata diterima oleh kelompok² bid’ah yang terkenal dengan nilai² amoralnya, seperti sex bebas dan berhubungan dengan perdukunan. Waraqa adalah salah satu umat aliran² ini.
Waraqa juga merupakan salah satu pendiri kelompok kepercayaan Hanif. Dalam keterangan pertama biografi Muhammad yang ditulis Ibn Hisyam di abad ke-8 M, tertulis:
Kaum Hanif atau Ahnaf adalah kelompok kecil yang dimulai oleh empat orang Sabian di Mekah. Mereka adalah Zayd bin Amru bin Nafil, Waraqa bin Naufal, Ubaydullah bin Jahsh, dan Uthman Bin al-Huwayrith. [101]
Para pendiri agama Hanif ini punya hubungan keluarga dengan Muhammad. Mereka adalah keturunan Loayy, salah satu kakek moyang Mumammad. Terlebih lagi, Waraqa bin Naufal dan Uthman Bin al-Huwayrith adalah sepupu Khadijah. Kita tahu akan hal ini dari silsilah keluarga Muhammad yang ditulis oleh Ibn Hisyam. [102] Ubaydullah bin Jahsh adalah sepupu Muhammad dari pihak ibu. Muhammad menikahi janda Ubaydullah, yakni Umm Habibah. Semua ini mengungkapkan dekatnya hubungan antara Muhammad dan para pendiri agama Hanif.
[101] Ibn Hisham 1, hal. 242: dikutip oleh Jawad Ali, vi, hal. 476
[102] Ibn Hisham, bagian pertama; hal. 63 dan 76
Kelompok ini tak dikenal diluar Mekah, tapi Umayya bin Abi al-Salt, sepupu Muhammad dari pihak ibu, dianggap sebagai anggota kelompok ini. Dia hidup di kota Taif. Tertulis bahwa banyak orang yang lalu menerima agama ini dan mencampurkannya dengan berbagai aliran polytheisme, paganisme, dan perdukunan. Sangatlah tak tepat jika dikatakan mereka menganut kepercayaan Abraham dan nabi² lain di Perjanjian Lama. Sungguh menggelikan bahwasanya umat Muslim percaya bahwa kelompok pagan ini menganut kepercayaan yang benar.
Dongeng² yang mereka percayai dan cantumkan dalam puisi² mereka juga tertulis di Qur’an karena Muhammad adalah bagian kelompok ini sewaktu dia masih muda. Dia mengatakan bahwa dia percaya pada imamat mereka, dan dia pun diketahui punya hubungan erat dengan kelompok ini. Dia terpengaruh akan ajaran² mereka, seperti misalnya surga penuh dengan free sex. Semua ini menunjukkan bahwa Muhammad sangat terlibat dengan kelompok Hanif dan juga menyerap gagasan² mereka. Di Qur’an kita dapatkan sebagian dari dongeng² Hanif.
Dalam Qur’an, kita menemukan jiwa agama Jin Arab. Contohnya bisa dilihat dari para setan yang bekerja bagi Sulaiman di Sura al-Anbiya’(21) , ayat 81 dan 82:
[128] Al-Jaheth, al-Haiwan, 6, hal. 187; dikutip oleh Jawad Ali, Al-Muffassal, vi, 723
Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.
Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu; dan adalah Kami memelihara mereka itu,
Ayat 81 menerangkan bahwa Sulaiman membuat angin jadi pelayannya. Di bawah perintahnya, angin pergi ke tanah yang diberkati Allah, yakni Harran, sebagaimana yang dikatakan sumber lain. Angin berperan sebagai pelayan dewa² penuh kuasa dan raja² besar merupakan tema umum dalam agama² kuno Timur Tengah.
Al-Sabuni, penafsir Qur’an modern dari Saudi Arabia menjelaskan tentang ayat 82 sebagai berikut:
Setan² menyelam bagi Sulaiman, masuk ke dalam laut untuk mengambil permata mustika dan mutiara. Mereka membuat bangunan² besar bagi Sulaiman, termasuk istana²nya.
Setan² digambarkan di Qur’an sebagai pelayan² berguna bagi Sulaiman dan para nabi. Mereka digambarkan sebagai pelayan² Tuhan, dan Tuhan sendiri yang menempatkan mereka untuk melayani Sulaiman. [129] Ajaran seperti ini diambil dari agama Jin yang meninggikan para setan bagi mata orang² Arab sehingga setan² disembah dan dihormati. Ayat² Qur’an ini menyiratkan hubungan antara Tuhan di Perjanjian Lama dan setan², sepertinya Tuhan hendak melindungi para setan tersebut. Ini jelas bertentangan dengan ajaran Alkitab, di mana setan² adalah makhluk terkutuk, dan tidak ada hubungan kerjasama antara Tuhan dan para setan.
[129] Sabuni, Safwat al-Tafasir, 2, hal. 270
Ayat² Qur’an lain yang menunjukkan pengaruh agama Jin dalam Qur’an adalah Sura S’ad (38), ayat 37-39, yang masih tentang Sulaiman:
dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam,
dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu.
Inilah anugerah Kami, maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab.
Di ayat² di atas, setan² digambarkan sebagai pemberian Tuhan bagi Sulaiman, yang lalu berterima kasih pada Tuhan atas anugrah setan²-Nya. Pernyataan seperti ini berasal langsung dari agama Jin Arab, yang memberi kedudukan tinggi bagi setan² dan menganggap mereka adalah pemberian berharga pada para nabi Perjanjian Lama. Ajaran seperti ini bertentangan dengan ajaran Alkitab. Alkitab memperingatkan kita akan setan², setan² ditampilkan sebagai makhluk terkutuk, dan musuh Tuhan dan manusia. Alkitab memperingatkan kita untuk tidak berhubungan dengan para setan.
Tidak hanya di Qur’an kita melihat setan² bekerja bagi Sulaiman, tapi juga di puisi² pra-Islam yang ditulis orang² yang suka berhubungan dengan para Jin. Contohnya adalah puisi² al-Nabighah النابغة yang mengatakan para Jin bekerja bagi Sulaiman, membangun kota Tadmur di gurun pasir Syria baginya. [130] Contoh lain ditemukan di tulisan Al-Aasha’, puisi Arab jaman pra-Islam. Al-Aasha’ menulis nama Jin-setan yang memberi inspirasi pada puisinya. Dia menyebut nama Jin-setan itu Musahhal المسحل, dan menyebutnya sebagai “ yang terkasih.” Al-Aasha’ berkata: “Saudaraku, sang Jin, telah menyapaku. Jiwaku berbakti baginya.” [131] Puisi ini hanyalah satu dari banyak puisi yang dibaktikan bagi agama Jin Arab. Dalam puisi² ini, para Jin dianggap sebagai saudara, dan mereka mencomba menyatukan umat manusia dengan para Jin.Muhammad juga mengutarakan pemikiran yang sama. Dia mengatakan pergi ke surga dan bertemu Allah yang mengutusnya membawa pesan bagi umat manusia dan para Jin. Muhammad mengatakan umatnya adalah para manusia dan para Jin. [132] Dia seringkali mengatakan para Jin jadi Muslim, [133] dan dia menganggap mereka bagaikan saudaranya. [134]
[130] Al-Jaheth, Al Haiwan, 6, hal. 223; dikutip oleh Jawad Ali, Al-Muffassal, vi, 723
[131] Al-Tha’alibi, Abd al-Malik ibn Mohammed, Kitab Thimar al-qulub, hal. 69 and 70
[132] Halabiyah 2, hal. 130
[133] Sahih al-Bukhari, 5, hal. 227
[134] Halabiyah 2, hal. 63
Al-Aasha’ menulis dalam salah satu puisinya bahwa “Para Jin bekerja bagi Sulaiman, membangun kubah². [135] Muhammad mencontek tulisannya dan memasukkannya ke Sura Saba (34), ayat 12-13 yang berbunyi:
[135] Taj Al Aruss, 9, hal. 165
Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.
Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih.
Qur’an menggambarkan Tuhan meminta Sulaiman, putra Daud, untuk berterima kasih padaNya karena Dia mengirim para Jin untuk membuat berbagai karya seni dan bangunan. Ini adalah anggapan yang salah tentang Tuhan. Sangkaan bahwa Tuhan mengirim para Jin sebagai pekerja² yang baik adalah pengertian langsung dari para Kahin di Arabia, agar orang² Arab menghormati dan menyembah Jin. Ini juga menyebabkan orang² Arab konsultasi dengan para dukun Kahin untuk minta berkat dari pada para Jin.

sumber : http://allahswtadalahiblis.blogspot.com/2014/10/akhirnya-terungkap-setan-adalah-pemilik.html

Berbagai ayat dalam Alquran
mendeklarasikan bahwa Alquran diturunkan oleh Allah (Surat 3:3; Surat 4:105; Surat 4:113;
Surat 31:21; Surat 42:17; Surat 76:23). Tetapi kalau kami merujuk pada Alquran melalui
ayat-ayat yang terkandung di dalamnya untuk menentukan siapa pengarangnya, kami akan
sampai pada sebuh jawaban yang tidak definit. Sebagai contoh, Surat 26:192-194 dan Surat
16:102 menyatakan bahwa Muhammad menerima Alquran dari “Roh Suci”. Tetapi dalam
Surat 53:2-18 dan Surat 81:19-24, kami membaca bahwa inspirasi Alquran diantarkan
langsung secara pribadi kepada Muhammad oleh “utusan Allah yang mulia, yang mempunyai
kedudukan tinggi di sisi Allah”, dan bahwa Muhammad melihat utusan Allah tersebut. Di
bagian lain dari Alquran kami membaca bahwa malaikat Jibril yang membawa Alquran turun
ke dalam hati Muhammad dengan seizin Allah (Surat 2:97). Selanjutnya dalam Surat 15:8,
kami mengetahui bahwa yang menurunkan Alquran sesungguhnya bukan Allah sendiri,
bukan Jibril, dan bukan Roh Suci, melainkan “para malaikat” yang menamakan diri “kami”
(bentuk jamak).

Al-Barra bin Ma’rur Memberikan Masukan Kepada Muhamad SAW “Sholat Menghadap Ka’bah”
Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 398-399
Al-Barra’ bin Ma’rur Shalat Sendirian Menghadap Ka’bah
Ibnu Ishaq berkata bahwa Ma’bad bin Ka’ab bin Malik bin Abu Ka’ab bin Al-Qain, saudara Bani Salimah berkata kepadaku bahwa saudaranya. Abdullah bin Ka’ab, orang Anshar yang paling pandai berkata kepadanya. bahwa ayahnya, Ka’ab berkata kepadanya -Ka’ab hadir pada peristiwa baiat Al-Aqabah Kedua dan ikut berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam-, “Kami berangkat bersama para jama’ah haji kaum kami yang masih musyrik. Kami terbiasa shalat dan belajar. Ikut bersama kami AI-Barra’ bin Ma’rur, pemimpin dan orang tua kami.
Ketika kami telah siap untuk berangkat dan keluar dari Madinah, Al-Barra’ bin Ma’rur berkata, `Hai kaumku, demi Allah, aku mempunyai pendapat. Aku tidak tahu, apakah kalian sependapat denganku dalam hal ini atau tidak?’ Kami bertanya, `Apa itu?’
Al-Barra’ bin Ma’rur berkata, `Aku berpendapat bahwa aku tidak akan meninggalkan Ka’bah berada di belakang punggungku dan aku tidak berhenti dari shalat menghadap kepadanya.’ Kami berkata, `Demi Allah, kami mendapatkan informasi bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat menghadap Syam (Baitul Maqdis) dan kami tidak ingin menentang beliau.’
Al-Barra’ bin Ma’rur berkata, `Sungguh, aku akan shalat menghadap Ka’bah.’ Kami berkata, `Kami tidak akan melakukannya.’
Jika waktu shalat telah tiba, kami shalat menghadap Syam (Baitul Maqdis), sedang Al-Barra’ bin Ma’rur menghadap Ka’bah, hingga kami tiba di Makkah. Kami dibuat lelah oleh tindakan Al-Barra’ bin Ma’rur, karena ia tidak mau shalat kecuali dengan caranya sendiri. Ketika kami telah tiba di Makkah, Al-Barra’ bin Ma’rur berkata kepadaku. `Hai anak saudaraku, pergilah kepada Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallam dan bertanyalah kepadanya tentang perbuatanku selama dalam perjalanan. Karena demi Allah, aku melihat telah terjadi sesuatu pada diriku ketika aku melihat kalian menentang perintahku.’
Kami pun pergi kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kami tidak kenal beliau dan tidak pernah melihat beliau sebelumnya. Kami bertemu dengan salah seorang dari penduduk Makkah, kemudian kami bertanya kepadanya tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Orang tersebut berkata, `Apakah kalian kenal dengannya?’ Kami menjawab, `Tidak.’ Orang tersebut bertanya, `Apakah kalian kenal pamannya, Al-Abbas bin Abdul Muththalib?’ Kami menjawab, `Ya, kami kenal dengannya. Kami kenal Al-Abbas, karena ia sering datang kepada kami untuk berdagang.’ Orang tersebut berkata, ‘Jika kalian masuk ke dalam masjid, maka orang yang sedang duduk bersama Al-Abbas itulah yang kalian cari.’ Kemudian kami masuk ke dalam masjid, ternyata di dalamnya terdapat Al-Abbas bin Abdul Muththalib sedang duduk dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam duduk bersamanya. Kami ucapkan salam dan duduk kepadanya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada Al-Abbas, `Hai Abu Al-Fadhl, apakah engkau kenal dengan dua orang ini?’ Al-Abbas menjawab, ‘Ya. Ini Al-Barra’ bin Ma’rur, tokoh di kaumnya dan ini ialah Ka’ab bin Malik.’ Demi Allah, aku tidak lupa akan pertanyaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, `Apakah Ka’ab bin Malik yang penyair itu?’ Al-Abbas menjawab, ‘Ya betul.’
Al-Barra’ bin Ma’rur berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, `Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku berada dalam perjalanan ini dan Allah telah memberiku petunjuk kepada Islam, kemudian aku berpendapat untuk tidak menjadikan Ka’bah berada di belakang punggungku, kemudian aku shalat menghadap kepadanya. Sikapku itu tidak disetujui sahabat-sahabatku hingga terjadi sesuatu dalam diriku, maka bagaimana pendapatmu, wahai Rasulullah?’
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, `Engkau telah berada dalam kiblat, jika engkau bersabar terhadapnya.’
Kemudian Al-Barra’ kembali kepada kiblat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan shalat bersama kami menghadap ke Syam (Baitul Maqdis). Ada yang mengatakan Al-Barra’ tetap shalat menghadap ke Ka’bah hingga ia meninggal dunia. Ini tidak benar, karena kami lebih tahu tentang AI-Barra’ bin Ma’rur daripada orang-orang tersebut.”
lbnu Hisyam berkata bahwa Aun bin Ayyub Al-Anshar berkata, Di kalangan kami, terdapat manusia pertama yang shalat Menghadap Kabah Ar-Rahman di antara Masyair. Yang dimaksud dengan manusia pertama tersebut ialah Al-Barra’ bin Ma’rur.
Jadi jelaslah sudah, bahwa ide sholat menghadap Kabah (rumah 360 berhala) adalah berasal dari Al-Barra bin Ma’rur.
Di kemudian hari, setelah Barra meninggal, Muhammad mengarang ayat tentang pemindahan kiblat dari Yerusalem (baitul maqdis) ke Mekkah di mana terdapat Kabah (360 berhala):
QS 2:144. Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.
QS 2:149. Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
QS 2:150. Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.
Ide Al-Barra itu tidak salah, karena memang di situlah letak kedudukan tuhannya Muhammad. Ayat berikut dikarang Muhammad jauh sebelum peristiwa baiat Al-Aqabah:
QS 27:91. Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) Yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.
Tuhannya ada di Kabah, maka sungguh tepat kalau sholatnya juga harus menghadap Kabah.
Ide Al-Barra benar-benar ide yang sangat brilian yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh Muhammad.

INISIATIF ORANG-ORANG ANSHAR

Juli 13, 2012

Semula sewaktu di Mekkah, sebelum Muhammad bertemu (bergaul) dengan orang-orang Anshar Medinah, belum ada terpikir dalam benaknya bahwa dia perlu memakai cara kekerasan untuk membuat sukses cita-citanya menjadi nabi. Orang-orang Anshar yang merupakan golongan tersisih di kota Medinah, kaum marjinal yang kerap melakukan tindakan kriminal dan melakukan penjarahan terhadap warga kelas atas (Yahudi), mulai menanamkan ide baru kepada Muhammad: Bila kau ingin sukses diakui nabi, gunakan cara kekerasan. Hanya lewat perang-lah, cita-cita menjadi “PEMIMPIN UMAT MANUSIA” akan tercapai.

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 401

Teks Baiat Yang Diambil Rasulullah SAW dari Kaum Anshar
Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berbicara. Beliau membaca Al-Qur’an, mengajak mereka kepada agama Allah dan mengharapkan keislaman mereka. Setelah itu, beliau bersabda, `Aku membait kalian agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi anak-istri kalian.’ Al-Barra’ bin Ma’rur memegang tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sal-lam kemudian ia berkata, `Ya, demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, kami pasti melindungimu sebagaimana kami melindungi anak istri kami. Baiatlah kami wahai Rasulullah! Demi Allah, kami ahli perang dan ahli senjata. Itu kami wariskan dari satu generasi kepada generasi lainnya.’ Ketika Al-Barra’ bin Ma’rur sedang berkata kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ucapannya dipotong Abu Al-Haitsam bin At-Tayyahan. Abu Al-Haitsam bin At-Tayyahan berkata, `Wahai Rasulullah, sesungguhnya kita mempunyai hubungan dengan orang-orang (orang-orang Yahudi) dan kami akan memutusnya. Jika kami telah melakukannya, kemudian Allah memenangkanmu, maka apakah engkau akan pulang kepada kaummu dan meninggalkan kami?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tersenyum, kemudian beliau bersabda, `Tidak. Darah (kalian) ialah darah(ku). Kehormatan (kalian) adalah kehormatan(ku). Aku bagian dari kalian dan kalian bagian dari diriku. Aku memerangi siapa saja yang kalian perangi dan berdamai dengan orang-orang yang kalian berdamai dengannya.’
Setelah itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, `Pilih untukku dua belas naqib (pemimpin) agar mereka menjadi pemimpin bagi kaumnya.’ Mereka memilih dua belas naqib dari mereka; sembilan dari Al-Khazraj dan tiga dari Al-Aus.”

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 404

Perkataan Al-Abbas bin Ubadah pada Malam Al-Aqabah
Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa ketika kaum Anshar berkumpul untuk membaiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka Al-Abbas bin Ubadah bin Nadhlah Al-Anshari, saudara Bani Salim bin Auf berkata, “Hai orang-orang Al-Khazra, tahukah kalian, untuk apa kalian membaiat orang ini?” Mereka menjawab “Ya, kami tabu.” Al-Abbas bin Ubadah berkata, “Sesungguhnya kalian membait orang ini untuk memerangi orang-orang berkulit merah dan orang-orang berkulit hitam. Jika harta kalian yang habis itu kalian anggap sebagai musibah dan meninggalnya pemimpin-pemimpin kalian itu kalian anggap sebagai pembunuhan, maka menyerahlah kalian sejak sekarang. Demi Allah, jika kalian melakukan hal yang demikian, itulah kehinaan di dunia dan akhirat. Jika kalian yakin bahwa kalian memenuhi apa yang ia serukan kepada kalian, kendati hal tersebut mengurangi harta kalian dan menewaskan orang-orang terhormat kalian, ambillah dia. Demi Allah, itu kebaikan di dunia dan akhirat.” Mereka berkata, “Kami mengambilnya kendati hal ini mengurangi harta kami dan menewaskan orang-orang tehormat kami. Jika karena melakukan hal tersebut, kami mendapatkan apa wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW bersabda, “Surga.” Mereka berkata, “Ulurkan tanganmu!” Rasulullah SAW mengulurkan tangannya kemudian mereka membaiat beliau. Ashim bin Umar bin Qatadah berkata “Demi Allah, Al-Abbas berkata seperti itu untuk menguatkan rantai Rasulullah SAW di leher mereka.”

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 405

Ka’ab bin Malik berkata, “Setelah kami membaiat Rasulullah Shallallahu a!aihi wa Sallam, syetan menjerit dari atas Al-Aqabah dengan teriakan keras yang bisa aku dengar, `Hai penduduk Al-Jabajib, ketahuilah bahwa Muhammad dan orang-orang murtad bersamanya telah bersatu untuk memerangi kalian.’
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, `Ini Azab, syetan Al-Aqabah. Ini anak Azyab. Dengarkan wahai musuh Allah, demi Allah, aku pasti mematikanmu.’
Setelah itu, Rasulullah SAW bersabda kepada kaum Anshar, `Pulanglah kalian ke pos kalian’.”

Sebagian Orang-orang Anshar Ingin Segera Perang
Al-Abbas bin Ubadah bin Nadhlah berkata kepada Rasulullah SAW, “Demi Allah yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, jika engkau mau, kami akan pergi kepada orang-orang di Mina dengan pedang-pedang kami.” Rasulullah SAW bersabda, “Kami tidak diperintahkan untuk itu. Pulanglah kalian ke pos kalian.”

Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 421

Sebelum terjadinya baiat AI-Aqabah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak diizinkan berperang dan darah tidak dihalalkan bagi beliau. Beliau hanya diperintahkan berdakwah kepada jalan Allah, bersabar terhadap semua gangguan dan memaafkan orang ****. Ketika itu, orang-orang Quraisy menyiksa kaum Muhajirin yang mengikuti beliau hingga mengeluarkan mereka dari agama mereka dan mengusir mereka dari negeri mereka. Kaum Muslimin Makkah berada di antara disiksa karena agamanya dan disiksa di depan mereka atau lari ke negeri-negeri lain. Di antara mereka ada yang lari ke Habasyah, ada yang lari ke Madinah dan ada yang lari ke negeri-negeri lain.

Ketika orang-orang Quraisy semakin membangkang kepada Allah Azza wa Jalla, menolak kehendak Allah untuk memuliakan mereka, mendustakan Nabi-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam, menyiksa dan mengusir (?) hamba-hamba-Nya yang menyembah-Nya, mentauhidkan-Nya, membenarkan Nabi-Nya dan berpegang teguh kepada agama-Nya, maka Allah Azza wa Jalla mengizinkan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam berperang, menahan, mengalahkan orang-orang yang mendzalimi kaum Muslimin dan menindas mereka. Ayat pertama yang turun kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mengizinkan beliau berperang, darah dihalalkan bagi beliau dan memerangi orang-orang yang menindas beliau seperti dikatakan kepadaku dari Urwah bin Az-Zubair dan ulama-ulama lain ialah firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah.” Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS 22:39-41)

Jelas sekali, bahwa alasan Muhammad “DIIJINKAN BERPERANG” oleh awloh kayalannya adalah karena dia mendapat dukungan dari orang-orang Anshar. Kalau saja dia tidak pernah berjumpa dengan orang-orang Anshar yang beringas dan doyan merampok itu, mungkin saja ayat-ayat palsu tentang “JIHAD” tidak akan pernah dikarangnya.

Ide “Jihad” ini memang berasal dari orang-orang Anshar.

sumber : http://gerimispagihari.wordpress.com/2012/07/13/muhamad-saw-jihad-memerangi-kafir-atas-inisiatif-orang-orang-anshar/


Ada bukti dari hadits bahwa Nabi Muhammad pernah melakukan kontak dengan kaum Nestorian Asiria, teristimewa, Bahira.
Beberapa pengkritik islam mengatakan bahwa Allah dalam Islam adalah Dewa Bulan. Ini tidak Benar! Penulis yang lain mengatakan bahwa Allah dalam Quran berasal dari dewa bulan pada masa sebelum Islam. Ini mungkin benar! Kebenaran yang tak dapat disangkal adalah: konsep Allah dalam Quran berhubungan dengan penyembahan dewa bulan, dan secara tidak langsung terhadap dewa bulan itu sendiri sebagai objek penyembahan pada masa sebelum Islam. Lebih dari itu, pusat penyembahan dewa bulan pada masa sebelum Islam sama dengan tempat pusat ibadah haji pada masa kini yaitu Kabah di Mekah. Hampir semua ritual keagamaan Islam pada masa kini sama dengan semua ritual pada masa sebelum Muhammad, masa dimana Arab masih menyembah dewa bulan.
Ibnu Kathir mengatakan:
Ibnu Hismah menyatakan bahwa orang terpelajar mengatakan padanya bahwa ‘Amir Bin Luhayy pergi dari Mekah ke Syiria untuk urusan bisnis dan mencapai Ma’ab (kemungkinan Moab) didaerah Balija. Amir kemudian meminta mereka untuk memberikan kepadanya berhala yang dapat di bawa ke tanah Arab dimana berhala itu dapat disembah, dan mereka memberikan kepadanya berhala bernama Hubal. Berhala ini dia bawa ke Mekah dan mempersiapkan acuan dan memerintahkan orang untuk menyembahnya dan memuliakannya. (The Life of The Prophet Muhammad (Al-Sira al-Nabauiiyya), Volume I, J, p42)
Selain Hubal di Kabah juga terdapat Al-Lat, Al-Uzza, dan Manat. Dikatakan bahwa Al-Lat telah dibawa Hijaz dari Palmyra, melalui Tayma (kota yang telah menjadi pusat penyembahan dewa bulan). Al-Lat mungkin bentuk dewa Arab dari dewi Astarte, Ishtar, dalam Alkitab ‘Asherah” atau yang dikenal sebagai dewa matahari. Di sisi lain, beberapa orang berpikir bahwa Al-Lat sebenarnya dewa bulan didaerah Arab Utara. Al-lat memiliki batu kubik, dan tegak berdiri di dalam kuil kecil kecilnya di Al-Taif. Nama Al-lat adalah bentuk feminis dari kata Al-lah!
Al-Uzza adalah dewi cinta dan kecantikan, dia diidentifikasikan dengan planet Venus, bintang fajar {bintang yang biasanya dilihat bersamaan dengan bulan sabit jauh sebelum masa Muhammad). Patungnya berdiri tegak di Nakhlat. Pemujaan terhadapnya sangat kuat. Manat adalah dewi yang asli berasal dari Arab. Nama Manat muncul di kuil Baal, di Palmyra, di naskah yang berasal dari tahun 32 M. Manat memiliki batu hitam di jalan antara Mekah dan Medina. Patungnya berdiri tegak dekat Qudayd. Manat adalah dewi takdir. Ketiga dewi ini sangat terkenal. Ketiga dewi ini, dan juga Hubal, sangat senang dengan persembahan korban manusia.
Ka’abah adalah tempat persemayaman Hubal, dewa Arab purba tertinggi, sesembahan utama suku Quraish (Karen Armstrong, Muhammad: A Biography of the Prophet [Harper San Francisco; ISBN: 0062508865; Reprint edition, October 1993], hal. 61-62)
“… Menurut legenda, sekembalinya Qusayy dari perjalanan ke Syria ia membawa tiga dewi sesembahan ke Hejaz (note: jazirah Arab) yaitu al-Lat, al-Uzza dan Manat, juga memahkotai dewa Hubal di dalam Ka’abah …” (Armstrong, hal. 66;)
Hubal adalah dewa sesembahan penduduk Mekkah yang ditempatkan di dalam Ka’abah (The Oxford Dictionary of Islam (Oxford University Press, 2003, hal. 117)
Baal dalam dialek Arab disebut juga Hubal. Nama ini berasal dari Ha-Baal, yang dalam dialek Arab artikel berupa konsonal `ha/hu’ (S. Noja, “Hubal = Allah”, Reconditi: Instituto Lombardo Di Scienze E Lettere, Vol. 28 (1994), hal. 283-295)

 Di daerah mana Baal disembah? Di Moab! Ini adalah “dewa kesuburan”


Israel menyembah Baal-Peor ( Bilangan 25:1-18 ).
1 Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan Moab.
2 Perempuan-perempuan ini mengajak bangsa itu ke korban sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut makan dari korban itu dan menyembah allah orang-orang itu.
3 Ketika Israel berpasangan dengan Baal-Peor, bangkitlah murka TUHAN terhadap Israel;
4 lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Tangkaplah semua orang yang mengepalai bangsa itu dan gantunglah mereka di hadapan TUHAN di tempat terang, supaya murka TUHAN yang bernyala-nyala itu surut dari pada Israel."
5 Lalu berkatalah Musa kepada hakim-hakim Israel: "Baiklah masing-masing kamu membunuh orang-orangnya yang telah berpasangan dengan Baal-Peor."
6 Kebetulan datanglah salah seorang Israel membawa seorang perempuan Midian kepada sanak saudaranya dengan dilihat Musa dan segenap umat Israel yang sedang bertangis-tangisan di depan pintu Kemah Pertemuan.
7 Ketika hal itu dilihat oleh Pinehas, anak Eleazar, anak imam Harun, bangunlah ia dari tengah-tengah umat itu dan mengambil sebuah tombak di tangannya,
8 mengejar orang Israel itu sampai ke ruang tengah, dan menikam mereka berdua, yakni orang Israel dan perempuan itu, pada perutnya. Maka berhentilah tulah itu menimpa orang Israel.
9 Orang yang mati karena tulah itu ada dua puluh empat ribu orang banyaknya.
10 TUHAN berfirman kepada Musa:
11 "Pinehas, anak Eleazar, anak imam Harun, telah menyurutkan murka-Ku dari pada orang Israel, oleh karena ia begitu giat membela kehormatan-Ku di tengah-tengah mereka, sehingga tidaklah Kuhabisi orang Israel dalam cemburu-Ku.
12 Sebab itu katakanlah: Sesungguhnya Aku berikan kepadanya perjanjian keselamatan yang dari pada-Ku
13 untuk menjadi perjanjian mengenai keimaman selama-lamanya bagi dia dan bagi keturunannya, karena ia telah begitu giat membela Allahnya dan telah mengadakan pendamaian bagi orang Israel."
14 Nama orang Israel yang mati terbunuh bersama-sama dengan perempuan Midian itu ialah Zimri bin Salu, pemimpin salah satu puak orang Simeon,
15 dan nama perempuan Midian yang mati terbunuh itu ialah Kozbi binti Zur; Zur itu adalah seorang kepala kaum--yaitu puak--di Midian.
16 Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa:
17 "Lawanlah orang Midian itu, dan tewaskanlah mereka,
18 sebab mereka telah melawan kamu dengan daya upaya yang dirancang mereka terhadap kamu dalam hal Peor dan dalam hal Kozbi, saudara mereka, yakni anak perempuan seorang pemimpin Midian; Kozbi itu mati terbunuh pada waktu turunnya tulah karena Peor itu."

Seperti buah-buah anggur di padang gurun Aku mendapati Israel dahulu; seperti buah sulung sebagai hasil pertama pohon ara Aku melihat nenek moyangmu. Tetapi mereka itu telah pergi kepada Baal-Peor dan telah membaktikan diri kepada dewa keaiban, sehingga mereka menjadi kejijikan sama seperti apa yang mereka cintai itu ( Hosea 9:10 ).


TAHUKAN KALIAN QURAN = TALMUD YAHUDI VERSI MUHAMMAD
1. TALMUD: Semua orang diluar Yahudi adalah Binatang ( Yebamont 98a)
QURAN: Semua orang diluar Islam adalah Binatang (An-Anfal 55, Al A'raf 179)
INJIL: Yesus pun menyebut mrk diluar umat Israel dgn sebutan Anjing, tp itu
untuk mematahkan tradisi talmud diatas (Mat 15:24-8)
Pengajaran Yesus ini sering diklaim oleh orang2 diluar kristen sbg
pengajaran yg rasialis (mat 15:24-28),padahal justru dibalik itu ada
pengajaran yg sangat berharga dari ayat itu.
Yesus kala itu berada didalam lingkungan masyarakat yg memiliki pola
pikir bahwa orang2 Yahudi adalah umat pilihan Allah; sedangkan bangsa
lain tdk berhak menerima berkat Allah,mrk lbh rendah.
Yesus menjawab dgn "Aku diutus hanya kpd domba2 yg hilang dari umat
Israel" hal ini adalah untuk menguji iman perempuan tsb dan bahkan lbh
jauh lg Yesus mengucapkan kata yg kedengarannya kasar sekali yaitu anjing,mengapa Yesus menggunakan kata anjing dlm kasus tersbt?
Krn memang orang2 Yahudi menganggap orang2 Kanaan rendah dan
menyebut orang2 Kanaan "anjing", Yesus "Sengaja" mengangkat topik ini.
Satu hal yg kita harus perhatikan dlm kisah ini adalah bhw Yesus telah menyembuhkan banyak orang tetapi tidak semua memiliki IMAN seperti
perempuan Kanaan ini,yg justru dari kalangan yang hina dgn sebutan anjing,
Bukan itu saja perempuan kanaan ini mempunyai kebenaran ; ayat 27,kata perempuan itu "Benar Tuhan,namun anjing itu memakan remah2 yg jatuh dari meja tuannya" perempuan kanaan yg datang kpd Yesus,dgn
berani meminta agar anak perempuannya di sembuhkan.Ia menyatakan bhw ia hanya meminta yg layak ia dapat,yakni remah2nya,disini kita
melihat dgn Imannya,krn ia tdk memaksakan kehendaknya tetapi ia benar2 memfokuskan permohonan kpd belas kasihan dari Yesus,ia tetap
menganggap suatu anugerah bila ia pun hanya mendapat remah2,sesuatu
yg sudah tdk lg dihargai orang lain.
Pelajaran besar yg diambil Iman perempuan ini bhw dia tdk goyah ketika
Yesus menjawab dgn sedikit kasar bhw " tidak patutlah mengambil roti yg
disediakan bagi anak-anak"dia balik menjawab dgn kebenaran yg luar biasa "bhw anjing yg berada dibwh meja itu memakan roti anak2 tsb"
seorang perempuan dari kalangan kafir dan seorang dr warga kelas dua,keprihatinannya terhadap anak perempuan itu yg telah membuat dia
berani menembus batas2 budaya tradisi,dan gender dgn tabah,inilah yg kemudian membuat Tuhan Yesus jadi kagum.
Mk kemudian kita melihat bukti bhw pelayanan Yesus pun menembus kebiasaan2 eksklusifitas Yahudi dan dari pihak-Nya,maka Yesus berkata
"Hai Ibu, Besar Imanmu;maka jadilah kepadamu seperti yg kau kehendaki"
lalu "dan seketika itu juga anaknya Sembuh"
KeIman dan pola pikir Ibu itu menjadi berkenan pada Tuhan Yesus. Matius
8:10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.."
Markus 16:15 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia,
beritakanlah Injil kepada segala makhluk.
Kisah Para Rasul 1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus
turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di
seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
Matius 28:19,20 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah
mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
2. TALMUD: Semua orang diluar Yahudi disebut Kafir.
QURAN: Semua orang diluar Islam adalah Kafir
INJIL: Matius 5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah
terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada
saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang
berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
3.TALMUD: Oranp Yahudi boleh membunuh dan merampas harta kafir dgn mengatas namakan Allah(Sanhedrin 57a)
QURAN: Orang Islam boleh membunuh kafir dan merampas hartanya dgn alasan atas seijin Allah (QS 9:29/4:91)
INJIL: Kel 20:17, Matius 5:43-45 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah
sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang disorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang
baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
4. TALMUD: Jika seorang Yahudi membunuh kafir tidak ada hukum baginya(Sanhedrin 57a)
QURAN: Jika seorang Islam membunuh kafir cukup bayar harga/ganti rugi(QS 4:92)
INJIL:Matius 5:21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
5. TALMUD: Orang Yahudi percaya dijamban WC banyak setan (Gittin 70a)
QURAN: Muhammad percaya dijamban ada setan laki2 dan setan
perempuan (HS MUSLIM 563)
6. TALMUD: Seorang Yahudi boleh menikahi anak dibawah umur 9 tahun,
tiada dosa bgnya (sanhedrin 54/55b)
QURAN: Muhammad menikahi anak dibwh umur bernama Aisyah
(BaSemTa)
7. TALMUD: harus dihafal
QURAN: harus dihafal.
8. TALMUD: menolak Yesus adalah Tuhan.
QURAN:menolak Yesus sbg anak maupun Tuhan.
9. TALMUD: penyembuhan penyakit dgn cara pengobatan aneh/gila:ambil
debu jamban+ madu lalu dimakan (Gittin 69a)
QURAN: sayap lalat sebelahnya adalah obat, minum kencing onta adalah obat dll.
INJIL:Amsal 17:22 Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.
10. TALMUD: Nyawa ganti nyawa
QURAN: Nyawa ganti nyawa, qisash.
Bulan haram dibalas dgn bulan haram.
Quran hanyalah jiplak dari kitab talmud yg sesat krn isinya jauh dari Taurat
sendiri.
Ini bukti Quran bukan wahyu Allah tp karangan muhammad krn
muhammad tdk pernah melihat Allah maupun bercakap2 dgn-Nya dan lg juga muhammad tdk pernah melihat wajah Jibril..muhammad hanya mendengar dan mendengar itupun katanya.
TINGGALKAN ISLAM SADARLAH KALIAN SESAT..!
Semoga tercerahkan.
Akhir kata : salam damai saudaraku sebangsa.
nb : TALMUD BUKAN BERASAL DARI TUHAN/FIRMAN TUHAN.
TALMUD DITULIS OLEH RABBI/GURU/ULAMA YAHUDI. HASIL PERENUNGAN MEREKA DENGAN MENGUTIP FIRMAN TUHAN. KALO MINJEM ISTILAH ESLAM = TAPSIRAN. HA...7X
ANEHNYE ADALAH YAHUDI LEBIH PERCAYE TALMUD DIBANDINGIN MA FIRMAN TUHAN YANG ASLI ( DALAM ALKITAB DISEBUT PERJANJIAN LAMA ).
JADI YAHUDI DE TERSESAT KARNE SALAH SATU AJARAN TALMUD ADALAH CUME PERCAYE YESUS = NABI. N MREKA BAHKAN BERANI MENGHINA YESUS. DEMIKIAN JUGE MA KAPIR ESLAM. HA...7X
DALAM UUD NEGARA ISRAEL TERDAPAT LARANGAN BUAT PERCAYA MA YESUS SBAGE TUHAN N JURUSELAMAT ( MESIAS ).
MAMAD YANG GA NGERTI BILANG ISA ALMASIH. ARTI ALMASIH ADALAH JURUSELAMAT/MESIAS. KALO YESUS BUKAN TUHAN, KNAPE ISA/YESUSDIKASEH GELAR ALMASIH MA MAMAD ? KARNE MAMAD KIRA ALMASIH NTU NAMA LENGKAP ISA/YESUS. HA...7X
DARE PEMBERIAN GELAR ALMASIH KE YESUS MAKE KITE BISE TAUK KALO MAMAD PENGARANG QORAN. HA...7X

==========

pada tahun 1947. ketika gulungan Naskah laut Mati ditemukan di Qumran, Komunitas masyarakat Qumran sudah dihancurkan oleh kekaisaran Romawi setelah memenangkan pertempuran
melawan Yahudi dari tahun 66-70 M. Dalam gua itu ditemukan 40.000 kitab dan
fragmen. 500 kitab di antaranya telah berhasil diidentifikasi. Sekitar 100 di
antaranya adalah salinan dari kitab Perjanjian Lama
Banyak kitab yang membentuk Perjanjian Lama dapat ditemukan secara
lengkap dalam gulungan naskah ini. misalnya kitab Nabi Yesaya, kitab Imamat dan
kitab Mazmur. Hampir seluruh naskah Perjanjian Lama telah ditemukan, paling
sedikit dalam bentuk kepingan-kepingannya. Hanya kitab Ester yang tidak
ditemukan dalam gua itu.
Naskah-naskah kuno itu ditulis dengan tanpa disalin dengan tulisan tangan
pula, kurang lebih pada seratus tahun sebelum Yesus dilahirkan. Sekarang kita
dapat memperbandingkan Alkitab kita dengan naskah-naskah yang berasal dari
2.100 hingga 1.100 tahun lampau sebelum kehadiran Kodeks Leningrad. Apakah
naskah-naskah itu sama jika diteliti satu kata demi satu kata? Tidak! Ada
perbedaan-perbedaan kecil, seperti yang telah kita lihat dalam kitab-kitab
Perjanjian Baru, yang kita bahas dalam pasal terdahulu buku ini. Menurut fakta
ada lagi perbedaan lainnya. Naskah kitab Mazmur memuat nyanyian mazmur
tambahan, yang tidak ada dalam Alkitab yang kita miliki sekarang ini.

Kisah-Kisah Alkitab dalam Al-qur'an?
Kisah-kisah yang diceritakan dalam Al-qur'an berasal dari cerita rakyat kuno
dari Ibrani dan Kristen., beberapa diantaranya dari cerita rakyat Persia, tetapi
bukan berasal dari Alkitab. Mereka sering memakai nama-nama yang kita kenal
dalam Alkitab, tetapi hanya sekedar itu! Sura 8:31 mengatakan bahwa pengikut
Muhammad mengisahkan wahyu baru dalam Al-qur'an, orang Kristen dan Ibrani
mencemoohkan mereka, dan berkata "kami telah mendengar cerita ini
sebelumnya" itu hanya cerita rakyat kuno, dongeng dari masa lalu. Mereka benar.
Lihat dalam Sura 12 :3 "Kami menceritakan kepadamu cerita yang paling baik
dengan mewahyukan Al Qur'an ini kepadamu..."(Sura 12:3)
Orang Kristen dan Yahudi tidak mengeluh bahwa cerita-cerita itu telah di
ambil dari kitab Suci mereka. tidak sama sekali! Mereka hanya mengatakan bahwa
cerita itu hanyalah cerita dongeng kuno, seperti cerita Malin Kundang atau
Tangkuban Perahu, yang kita ketahui saat kecil, dan, mereka benar. Keluhan
mereka jelas dari pertanyaan mereka: "bagaimana kamu dapat menaruh cerita
rakyat dalam kitabmu, dan mengatakan bahwa itu adalah "Firman Allah"?
· Sura 2:65; 7:163-6 Cerita mengenai seluruh penduduk desa yang diubah
menjadi kera karena mereka melanggar hari Sabat karena memancing, cerita
ini adalah legenda terkenal pada masa Muhammad.
· Sura 3:45-51; 5:110 "Injil Thomas dari Israel" di tubs pada tahun 150 M, hampir
500 tahun sebelum Muhammad, termasuk cerita mengenai Yesus pada masa
kecil membuat burung dari tanah liat, dan membuatnya menjadi hidup. Cerita
yang sama di temukan juga dalam versi Arab di "Gospel o/ In/ancy" pada bab
36 dan 46.
· Sura 5>31-32 Cerita mengenai burung gagak yang menunjukkan kepada
manusia cara mengubur Habel adalah cerita rakyat dari Pirke rabbi Eleazer,
sekitar tahun 150-200.
· Sura 7:148; 20:88 Cerita mengenai anak lembu emas yang melompat keluar
dari api dan melenguh adalah cerita lainnya dari Pirke Rabbi Eleazer.
· Sura 7:171 Cerita mengenai Allah mengangkat gunung Sinai diatas kepala
orang Israel sudah tertulis dalam buku cerita Yahudi 'Abodah Sarah" jauh
sebelum masa Muhammad.
· Sura 12 Cerita mengenai Yusuf yang digambarkan dalam Al-qur'an di ambil
dari Midrash Yalqut 146
· Sura 1&9-26 Cerita mengenai tujuh orang Kristen melarikan diri dari
penganiayaan dan bersembunyi di gua, kemudian bangkit 309 tahun kemudian,
diambil dari cerita "Story o/ Martyrs" ditulis oleh Gregory o/ Tburs, yang hidup
jauh sebelum masa Muhammad.
· Sura 19:29-31 Cerita rakyat mengenai Yesus, pada saat ia masih bayi,
terbaring dalam ayunannya dan berbicara pada orang. Kisah ini ada dalam
pasal pertama dari buku fiksi Kristen yang terkenal "Gospel o/the In/ancy!' Buku
ini juga ditulis jauh sebelum masa Muhammad, sekitar tahun 150 M.
· Sura 21:51-71; 29:16-17; 37:97-99 Cerita mengenai Abraham yang dilepaskan
dari api Nimrod adalah dongeng Yahudi, di tulis di "Midrash Rabbah" 400 tahun
sebelum masa Muhammad (Shorosh, 205). Tentu saja, Nimrod sendiri hidup
ribuan tahun sebelum Abraham. Al-qur'an seringkali membuat kesalahan dalam
hal ini
· Sura 27:17-44 Dongeng popular tentang Salomo, berbicara kepada binatang,
seperti burung dan semut, dan juga cerita mengenai Ratu Sheba yang berpikir
bahwa lantai Salomo yang mengkilat adalah air, dan karena itu menaikkan
roknya. Cerita ini di tulis dalam n Targum dari buku Ester, kumpulan dongeng
yang terkenal sekitar tahun 200 SM-400 tahun sebelum Muhammad lahir.
(Tentu saja, masih banyak contoh lain. Kami hanya memberikan contoh -
contoh yang terutama)

SANG PUTERA DAN SANG BULAN HAL 136

Sumber Al-Quran ini seperti berasal dari buku apokripa/dongeng abad ke-2 yang berjudul "Thomas’ Gospel of The Infancy of Jesus Christ" (Buku Thomas tentang masa kanak-kanak Yesus Kristus):

Maka diambilnyalah sedikit tanah lembut dari pematang sungai itu dan membentuk 12 ekor burung pipit…Kemudian Yesus menepukkan telapak tangan-Nya serta berseru kepada burung-burung itu, sambil katanya: "Pergi, terbanglah jauh."
Tidak ada satu pun dari kutipan di atas ataupun sumber-sumbernya yang diakui oleh ahli-ahli Alkitab, ahli-ahli sejarah atau ahli-ahli teologi sebagai peristiwa benar dalam hidup Yesus.
Informasi Tambahan :
Apa itu Apokripa?
Apokripa artinya "tersembunyi" atau "tertutup". Kitab-kitab itu tidak pernah dianggap sah baik oleh Perhimpunan orang Yahudi maupun oleh jemaat yang mula-mula. Yesus Kristus tidak pernah mengakui Apokripa. Dalam Perjanjian Baru tidak ada kutipan-kutipan yang diambil dari kitab-kitab Apokripa itu. Apokripa tidak diterima dalam kekanonan Perjanjian Lama.
Dr. Anis Shorrosh dalam bukunya ISLAM REVEALED, mengungkapkan:
Ternyata sumber dari kisah tentang mujizat Yesus dalam ayunan itu
terdapat dalam buku apokrip/dongeng Mesir abad kedua, yaitu dalam
First Gospel of the Infancy of Jesus Christ. … Yesus berbicara ketika
Dia masih bayi di dalam ayunan dan berkata kepada ibuNya: “Maria,
saya Yesus, Anak Allah, Firman (kalimat) yang engkau lahirkan menurut
pernyataan malaikat itu…”
Dari pelbagai kisah tentang Isa yang disampaikan secara berbeda antara
Injil dan Quran, maka Encyclopedia Britannica memberi tanggapan bahwa
pengertian Muhammad tentang Alkitab banyak terbaur dengan kisah dan
cerita-cerita ajaib yang terdapat pada Kitab-kitab Apokrip yang memang
berbeda dari Alkitab. (Encyclopedia Britannica, Volume 15 hlm. 648).
Quran disajikan dalam bentuk puitis yang tidak terikat dengan kronologi
kesejarahan, maka petikan kisah-kisah lepas ini mampu memberikan
kesan seolah-olah orisinil berasal dari Muhammad” (R.W. Thomas,
Islam, Aspects and Prospects, Villach, Austria, Light of Life, hal. 12-
13)
Bagi kita, sekalipun sinyalemen Dr. Shorrosh, Thomas, dan Encyclopedia
Britannica di atas mau diperdebatkan, namun suka atau tidak suka kita tetap
dihadapkan pada suatu kepastian bahwa kedua Kitab Suci itu memang telah
berbeda sejak “kelahiran” aslinya!
sumber :http://diskusiismail-ishak1.blogspot.com/2011/03/alkitab-inferior-karena-terbukti-isinya.html

Vitria Sassanti
Ateis Bertanya Islam Menjawab
20 jam · Disunting · 


Sumber2 Dongeng Arab yang dipakai Muhammad
(G.G. Pfander, Balance of Truth, pp. 283).
1. Kisah unta betina yang jadi nabi telah lama dikenal sebelum Muhammad mengumumkan dirinya sebagai nabi (QS 7:73-77,85; 91:14; 54:29).
2. Kisah seluruh masyarakat desa dirubah jadi kera karena melanggar peraturan hari Sabbath dengan memancing ikan merupakan legenda popular di jaman Muhammad (QS 2:65; 7:163-166).
3. Kisah 12 mata air memancar di QS 2:60 merupakan legenda Arab pra Islam.
4. Kisah Ashaabul Kahfi di mana tujuh orang dan binatang2 peliharaannya tidur selama 309 tahun dalam gua dan lalu bangun segar bugar (QS 18:9-26) diambil dari dongeng masyarakat Kristen Syria kuno tentang “Tujuh Orang Efesus yang Tertidur” (“Seven Sleepers of Ephesus”) atau bahkan di dunia Barat dikenal juga kisah yang sama berjudul “Rip Van Winkle”.
5. Kisah empat ekor burung dicincang dan kemudian hidup lagi (QS 2:260) telah banyak dikenal masyarakat Arab di jaman Muhammad.
6. Sudah jelas Muhammad menggunakan karya sastra Saba Moallaqat oleh Imra’ul Cays untuk mengarang QS 21:96; 29:31,46; 37:59; 54:1, dan 93:1.
Vitria SassantiMEMBUKA NALAR ISLAM
20 jam · 


Sumber2 kisah, dongeng, kitab suci Yahudi yang dipakai Muhammad
Seperti yang sudah saya jelaskan di posting2 sebelumnya, banyak kisah dalam Qur’an yang diambil dari buku tradisi dan budaya Yahudi Talmud, Midrash, dan kitab suci Yudaisme Taurat dan kitab2 Perjanjian Lama.
Hal ini juga diterangkan oleh Abraham Geiger (1833), dan lalu dibukukan oleh ilmuwan Yahudi bernama Dr. Abraham Katsh, diterbitkan oleh New York University, tahun 1954.
(The Concise Dictionary of Islam, p. 229; Jomier, The Bible and the Quran -- Henry Regency Co., Chicago, 1959, 59ff; Sell, Studies, pp. 163ff.; Guillaume, Islam, p. 13.
1. Sumber QS 3:35-37 adalah buku berjudul The Protevangelion's James the Lesser. Buku apokripa dongeng Kristen Koptik ini ditulis di abad ke 2 M. Dalam buku ini tertulis kisah tentang Zachariah, istrinya, dan Yohannes Pembaptis.
2. Sumber QS 87:19 adalah Taurat Kitab Kejadian tentang Abraham dan Musa.
3. Sumber QS 27:17-44 adalah Kitab Kedua Targum Esther.
4. Kisah fantasi Tuhan membuat orang mati selama seratus tahun dan menghidupkannya kembali (Sura 2:259) berasal dari dongeng masyarakat Yahudi.
5. Kisah Musa dibangkitkan kembali (QS 2:55, 56, 67) berasal dari kitab Talmud Yahudi.
6. Kisah dalam QS 5:30,31 berasal dari karya2 tulisan bangsa Yahudi pra-Islam seperti Pirke Rabbi Eleazer, Targum Yonathan ben Uzziah dan Targum Yerusalem.
7. Kisah Abraham yang diselamatkan dari api Nimrod (see QS 21:51-71; 29:16, 17; 37:97,98 ) diambil dari Midrash Rabbah.
Perlu diingat bahwa Abraham dan Nimrod tidak hidup dalam jaman yang sama; Nimrod hidup beberapa abad lebih dahulu daripada Abraham. Muhammad seringkali menyatukan kisah2 para tokoh yang hidup di waktu yang berlainan.
8. Kisah kunjungan Ratu Saba (Sheba) di QS 27:20-44 diambil dari kitab Kedua Targum Esther.
9. Sumber QS 2:102 sudah pasti Midrash Yalkut bagian 44.
10. Kisah dalam QS 7:171 di mana Tuhan mengangkat Gunung Sinai ke atas kepala bani Yahudi sebagai ancaman untuk menggencet mereka jika menolak hukum Tuhan sudah pasti diambil dari kitab Yahudi Abodah Sarah.
11. Kisah pembuatan anak lembu emas di padang gurun (QS 7:148; 20:88 ) diambil dari Pirke Rabbi Eleazer.
12. Tujuh neraka dan tujuh surga dalam Qur’an diambil dari kitab Yahudi Zohar Kabalah dan Mishnah Hagigah.
13. Muhammad mengambil ide dari kitab Perjanjian Abraham tentang hari akhir untuk mengisahkan timbangan yang digunakan di Hari Kiamat untuk menimbang perbuatan jahat dan baik untuk menentukan siapa yang akan masuk surga dan neraka (QS 42:17; 101:6-9).



Ide ini berasal dari Umar bin Khattab.

Kitab Asbabun Nuzul Jalaludin As-Suyuti halaman 54
    Pertama, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dari Jabir, dia berkata, "Ketika Nabi saw. melakukan tawaf, Umar berkata kepada beliau, 'Apakah ini tempat berdiri ayah kami, Ibrahim?' Beliau menjawab, 'Ya.' Umar kembali bertanya, 'Mengapa tidak kita jadikan tempat shalat?' Maka Allah menurunkan firmanNya, 'Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat.'" (al-Baqarah: 125)

    Kedua, Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari jalur Amr bin Maimun dari Umar ibnul-Khaththab bahwa dia berdiri di tempat berdirinya Nabi Ibrahim, lalu dia bertanya kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, bukankah kita sedang berdiri di tempat berdirinya Kekasih Tuhan kita?" Rasulullah menjawab, "Benar." Maka Umar bertanya lagi,"Mengapa tidak kita jadikan tempat untuk shalat?" Lalu tidak lama dari itu turunlah firman Allah,
    "Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat."
     (al-Baqarah: 125)

    Secara zhahir dari riwayat ini dan yang sebelumnya bahwa ayat tersebut turun pada haji wada'.

Buku Sejarah Para Khalifah, terbitan Pustaka Al-Kautsar, cetakan pertama, April 2008, halaman 12
    Umar pernah berkata, "Saya menepati Tuhanku pada tiga permasalahan. Saya berkata, 'Wahai Rasulullah, andaikan kita menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat,' maka turunlah ayat, "... dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat..." (Al-Baqarah 125)

http://islamdalamfakta.blogspot.com/2013/01/ide-muhammad-menjadikan-maqam-ibrahim.html


There are so many religions out there and they all teach something different
the Bible was the ONLY religious book that had no factual errors. The Bible has been proven to be 100% accurate history, through over 25,000 archeological digs and historical facts known from other sources.
With over 25,000 archeological digs proving the Bible is accurate history in every way, and every single prophecy proving true without a single failure, how can we doubt its authenticity?
 There are many biblical prophecies that have already come to pass, but there are many that are coming to pass right now.  
----------------------

According to the New Testament, Jesus Christ lived a perfect and sinless life (2 Corinthians 5:21).
When His enemies came to accuse Jesus before Pilate and Herod, they had to invent charges because no one could find anything against Him.
But when we turn to the life of Muhammad, we find that he was a normal human being engaged in the same sins which afflict all of us. He lied; he cheated; he lusted; he failed to keep his word, etc. He was neither perfect nor sinless.
In Sura 18:110, and elsewhere, Muhammad is commanded by Allah:
"Say, I am but a man like yourselves."
Nowhere in the Quran is Muhammad said to be sinless. Instead, Allah tells Muhammad that he is no different than any other man.
Those Muslims who claim that Muhammad was sinless have failed to note Sura 40:55, where Allah told Muhammad to repent of his sins!
Muhammad Pickthal translates Sura 40:55 as saying:
"Ask forgiveness of thy sin".
The only way out of this passage is to state that Allah was wrong to ask Muhammad to ask for forgiveness because he had nothing to forgive!
Pickthal's translation of Sura 48:1, 2 states:
"Lo! We have given thee,  
      (O Muhammad), signal victory,
that Allah may forgive thee
of past and that which is to
come, and may perfect His
favor unto thee, and guide
thee on a right path"          
Not only was Muhammad commanded to repent of his sins and to seek forgiveness, but he was also reminded off his past sins that Allah had already forgiven and of future sins which would need future forgiveness!
Muhammad was not sinless according to the Quran. He was just one more poor sinner in need of forgiveness and redemption.
the Quran texts are a mass of confusion, contradiction and inconsistencies
One interesting way that some off the original verses of the Quran were lost is that a follower of Muhammad named Abdollah Sarh would make suggestions to Muhammad about rephrasing, adding to, or subtracting from the Suras. Muhammad often did as Sarh suggested.
Ali Dashti explains what happened:
"Abdollah renounced Islam on the ground that the revelations, if from God, could not be changed at the prompting of a scribe such as he. After his apostasy he went to Mecca and joined the Qorayshites" (Dashti, 23 Years, p. 98).
It is no wonder that when Muhammad conquered Mecca one of the first people he killed was Abdollah, for he knew too much and opened his mouth too often.
Not only have parts of the Quran been lost, but entire verses and chapters have been added to it.
For example, Ubai had several Suras in his manuscript of the Quran which Uthman omitted from his standardized text.
Thus there were Qurans in circulation before Uthman's text which had additional revelations from Muhammad that Uthman did not find or approve of, and thus he failed to place them in his text.


Some of the pre-Islamic Sources for material in the Quran




Arabian Sources

The Quran repeats fanciful Arabian fables as if they were true.
"Arabic legends about the fabulous jinns fill its pages" (G.G. Pfander, Balance of Truth, pp. 283).
"The story of the she-camel who leapt out of a rock and became a prophet was known long before Muhammad" (Suras 7:73-77,85; 91:14; 54:29).
The story of an entire village of people who were turned into apes because they broke the sabbath by fishing was a popular legend in Muhammad's day (Suras 2:65; 7:163-166).
The gushing 12 springs story found in Sura 2:60 comes from pre-Islamic legends.
In what is called the "Rip Van Winkle" story, seven men and their animals slept for 309 years in a cave and then woke up perfectly fine (Sura 18:9-26)!
This legend is found in Greek and Christian fables as well as Arabian lore.
The fable of the pieces of four dead, cut-up birds getting up and flying was well known in Muhammad's time (Sura 2:260).
It is also clear that Muhammad used such pre-Islamic literature as the Saba Moallaqat of Imra'ul Cays in his composition of Suras 21:96; 29:31,46; 37:59; 54:1, and 93:1.

Jewish Sources

Many of the stories in the Quran come from the Jewish Talmud, the Midrash, and many apocryphal works.
This was pointed out by Abraham Geiger in 1833, and further documented by another Jewish scholar, Dr. Abraham Katsh, of New York University, in 1954 (The Concise Dictionary of Islam, p. 229; Jomier, The Bible and the Quran -- Henry Regency Co., Chicago, 1959, 59ff; Sell, Studies, pp. 163ff.; Guillaume, Islam, p. 13).
1. The source of Sura 3:35-37 is the fanciful book called The Protevangelion's James the Lesser.
2. The source of Sura 87:19 is the Testament of Abraham.
3. The source of Sura 27:17-44 is the Second Targum of Esther.
4. The fantastic tale that God made a man "die for a hundred years" with no ill effects on his food, drink, or donkey was a Jewish fable (Sura 2:259ff.).
5. The idea that Moses was resurrected and other material came from the Jewish Talmud (Sura 2:55, 56, 67).
6. The story in Sura 5:30,31 can also be found in pre-Islamic works from Pirke Rabbi Eleazer, the Targum of Jonathan ben Uzziah and the Targum of Jerusalem.
7. The tale of Abraham being delivered from Nimrod's fire came from the Midrash Rabbah (see Suras 21:51-71; 29:16, 17; 37:97,98).
It must be also pointed out that Nimrod and Abraham did not live at the same time. Muhammad was always mixing people together in the Quran who did not live at the same time.
8. The non-biblical details of the visit of the Queen of Sheba (Saba) in Sura 27:20-44 came from the Second Targum of the Book of Esther.
9. The source of Sura 2:102 is no doubt the Midrash Yalkut (chapter 44).
10. The story found in Sura 7:171 of God lifting up Mount Sinai and holding it over the heads of the Jews as a threat to squash them if they rejected the law came from the Jewish book Abodah Sarah.
11. The story of the making of the golden calf in the wilderness, in which the image jumped out of the fire fully formed and actually mooed (Suras 7:148; 20:88), came from Pirke Rabbi Eleazer.
12, The seven heavens and hells described in the Quran came from the Zohar and the Hagigah.
13. Muhammad utilized the Testament of Abraham to teach that a scale or balance will be used on the day of judgment to weigh good and bad deeds in order to determine whether one goes to heaven or hell (Suras 42:17; 101:6-9).

Heretical Christian Sources

One of the most documented and damaging facts about the Quran is that Muhammad used heretical "Christian" Gnostic gospels and their fables for material in the Quran.
Encyclopedia Britannica comments:
"The gospel was known to him chiefly through apocryphal and heretical sources" (15:648).
This has been demonstrated many times by various scholars (Richard Bell, Introduction to the Quran, pp. 163ff. See also: Bell, The Origin of Islam in Its Christian Environment, pp. 110ff, 139ff; Sell, Studies, pp. 216ff. See also Tisdall and Pfander).
For example, in Suras 3:49 and 100:11O, the baby Jesus speaks from the cradle! Later on, the Quran has Jesus making clay birds come alive.
The Bible tells us that the first miracle Jesus did was at the wedding at Cana (John 2:11).

Sabean Sources

Muhammad incorporated parts of the religion of the Sabeans into Islam (Encyclopedia off Islam (ed. Eliade), pp. 303ff.; International Standard Bible Encyclopedia,pp. 1:219ff.).
He adopted such pagan rituals as:
Worshiping at Kabah
Praying five times a day towards Mecca (Muhammad chose five of the same times the Sabeans prayed).
Fasting for part of a day for an entire month.

Eastern Religious Sources

Muhammad derived some of his ideas from Eastern religions such as Zoroastrianism and Hinduism. All of these things were in existence long before Muhammad was born.
The Quran records the following things which are ascribed to Muhammad but in reality were previously known stories now attributed to him for the first time (Sell,Studies, pp. 219ff.).
The story of a flying trip through seven heavens.
The Houries of paradise.
Azazil and other spirits coming up from Hades.
The "light" of Muhammad.
The bridge of Sirat.
Paradise with its wine, women, and song (from the Persians).
The king of death.
The peacock story.

Arab Racism

According to the literal Arabic translation of Sura 3:106, 107, on Judgment Day, only people with white faces will be saved. People with black faces will be damned. [This is a carnal understanding of a common expression. The Arabic term "ibyaddat wujuhahum" literally meaning "their faces turned white" is used as well as the term "iswaddat wujuhahum"literally meaning "their faces turned black". These are common expressions used among all Arabs, including the Christians, with reference to good behavior and bad behavior, or good morals and bad morals].

A Carnal Heaven

The Quran promises a heaven full of wine and free sex (Suras 2:25; 4:57; 11:23; 47:15).
If drunkenness and gross immorality is sinful on earth, how is it right in Paradise?
The Quran's picture of paradise is exactly what a seventh-century pagan Arab would have thought wonderful.
The carnal concept of a harem of beautiful women and all the wine you can drink is in direct conflict with the spirituality and holiness of the Biblical concept of heaven (Revelation 22:12-17).

Conclusion

While the devout Muslim believes with all of his heart that the rituals and doctrines of Islam are entirely heavenly in origin and thus cannot have any earthly sources, Middle East scholars have demonstrated beyond all doubt that every ritual and belief in Islam can be traced back to pre-Islamic Arabian culture.
In other words Muhammad did not preach anything new. Everything he taught had been believed and practiced in Arabia long before he was ever born. Even the idea of "only one God" was borrowed from the Jews and the Christians. islam.htm
(Excerpts from "The Islamic Invasion" by Dr. Robert Morey; Harvest Home Publishers, 1992. ISBN 0-89081-983-1)


sumber : http://www.biblebelievers.org.au/islam.htm 
 pembuktian secara ilmiah dan arkeologi
Muhammed dengan tidak mengherankan beralih pada teman Kristen-Byzantinnya, di antaranya adalah Jaber. Kita membaca dalam Ibn Hisham, buku yang berisi kebanyakan pembacaan mengenai kehidupan Muhammed:
Sang nabi Allah sangat sering duduk bersama dengan seorang kristiani bernama Jaber. Jaber adalah seorang budak untuk anak2 al-Khathrami. Masyarakat Mekah sering mengatakan,” Banyak hal yang Muhammed ajarkan, diajarkan padanya oleh Jaber, budak Kristen untuk anak2 al-Khathrami.”
Tuduhan oleh para penduduk Mekah terhadap Muhammed tidaklah tanpa dasar. Mengapa Muhammed duduk dengan seorang budak yang malang hampir setiap hari ? Hal yang lain untuk diketahui adalah bahwa Muhammed meremehkan budak2. Dia mengatakan bahwa seorang budak tidak dapat bersaksi dalam sebuah pengadilan kecuali kalau dia dipukuli. Jika seorang dari para pengikutnya ingin memerdekakan seorang budak, Muhammed keberatan, menuntut pengikutnya menjual sang budak daripada memerdekakannya. Tetapi di sini adalah seorang budak Kristen yang tidak pernah menjadi muslim, tetap saja Muhammed meluangkan waktu untuk pergi kepadanya setiap hari. Muhammed pergi kepada Jaber. Bukan Jaber yang datang kepada Muhammed. Ini mengungkapkan pentingnya Jaber sebagai sebuah sumber informasi bagi Muhammed tentang Bible, doktrin Kristen, dan mitos2 yang dikristenisasi dalam masa Byzantin. Sumber2 Arab mengatakan Jaber sebagai seorang “Romawi.” Sebuah istilah yang dipakai di jazirah Arab terhadap penduduk kerajaan Byzantin. Mereka juga mengatakan bahwa Jaber mengumpulkan buku2. Pembaca2an kuno menyebutkan keluarga al-Khathrami memiliki dua orang budak, Jaber dan Yasar, dan ketika mereka membaca Bible, Muhammed akan mendengarkan pembacaan2 mereka sambil lalu.
Kontak lainnya oleh Muhammed adalah “Balaam,” juga disebut “Yaish”, atau “Addass.”{56} Balaam adalah seorang Kristen Byzantin yang menjadi seorang budak bagi Huitab Bin Abed al-Uzei. Masyarakat Mekah sering melihat Muhammed ketika dia menemui Balaam, dan mereka mengatakan bahwa Balaam biasanya mengajar Muhammed. Tetapi kelihatannya Jaber dan Balaam adalah orang2 yang tidak rasional, tidak seperti orang2 kristen berpendidikan di masa mereka yang membedakan antara legenda2 dan fakta2 sejarah.
TAU GA SEH LO.
QURAISH TAU KALO MAMAD ENTU RASUL PALSU KARNE MAMAD NYONTEK.
QS 6:105. Demikianlah kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supaya (orang-orang
yang beriman mendapat petunjuk) dan yang mengakibatkan orang-orang
musyrik mengatakan: "Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari
Ahli Kitab)", dan supaya Kami menjelaskan Al Qur'an itu kepada orang-orang
yang mengetahui.
QS 44:13. Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang
kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan,
14. kemudian mereka berpaling daripadanya dan berkata: "Dia adalah
seorang yang menerima ajaran (dari orang lain) lagi pula seorang yang
gila.
MAMAD LEWAT OLO BERUSAHA MEMBANTAH KALO DIE ENTU NGARANG QORAN DARE HASIL BELAJAR MA ORANG LAEN.
QS 16:101. Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain
sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang
diturunkan-Nya, mereka berkata: "Sesungguhnya kamu adalah orang yang
mengada-adakan saja". Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.
102. Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari
Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah
beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang
berserah diri (kepada Allah)".
103. Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata:
"Sesungguhnya Al Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya
(Muhammad)". Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad
belajar kepadanya bahasa Ajam, sedang Al Qur'an adalah dalam bahasa
Arab yang terang.

ha...7x parah lo. de salah, ngotot lagi.
MANGKENYE KALO DIKASIH LINK ENTU BACA TAUK.
SUSAH DEBAT MA KAPIR ESLAM, GA PERNAH MAU BACA LINK YANG DIKASIH, TAPI MAKSA ORANG BACA LINK YANG DIE KASIH. HA...7X
WOI, LINK YANG LO KASIH, GUE BACA TAUK. DEMIKIAN JUGE MA LINK2 YANG DIKASIH DEBATER ESLAM LAENNYE. MALAHAN GUE KOMENTARIN N GUE AJAK DEBAT ADMIN LINK YANG DIKASIH. N GUE BUKTIIN KALO MREKA SALAH. HA...7X
YESUS ITU NAMA YAHWE ( TUHAN MUSA, TUHAN ABRAHAM, ISHAK, YAKUB, TUHAN ISRAEL ) SAAT JADI MANUSIA.
YESAYA 63:8-9
8 Bukankah Ia berfirman: ''Sungguh, merekalah umat-Ku, anak-anak yang tidak akan berlaku curang,'' maka Ia menjadi Juruselamat mereka 
9 dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala. 

BACA N PLOTOTIN TUH. BUKAN DUTA ATO UTUSAN, TAPI YAHWE SENDIRI YANG SELAMATIN BANGSA ISRAEL.

JURUSELAMAT ENTU CUMA SATU, NAMANYE YAHWE.
N YAHWE MENJELMA JADE MANUSIE, NAMANYE YESUS.

MAMAD BILANG ISA ALMASIH, ISA JURUSELAMAT.
TAPI MAMAD GA NGERTI, KALO CUMA ADE 1 JURUSELAMAT, YAITU TUHAN SENDIRI. HA...7X

MALAHAN MAMAD YANG NGARANG KALO DIE NTAR NYANG JADE JURUSELAMAT UMAT ESLAM. HA...7X

QS 63:5
Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri.”

NTAR DI PADANG MASYAR MAMAD DOA SYAFAAT BUAT UMAT ESLAM N DOA MAMAD BISE ANTAR MREKA KE SORGE.

CUMA KAPIR ESLAM NYANG IDEOT MO DITEPU MAMAD.

KALO DOA MAMAD BISE ANTAR LO KE SORGE, KOK SI MAMAD MALAH MINTE DIDOAIN MA UMAT ESLAM BIAR GA DIBAKAR DI NRAKE SAAT SOLAT ?
QS 7:188. Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku
dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah.
Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan
sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak
lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi
orang-orang yang beriman".
QS 46:9. Katakanlah: "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul
dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak
(pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang
diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi
peringatan yang menjelaskan".
QS 72:21. Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu
kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan".
22. Katakanlah: "Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang
dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan
memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya".
23. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan
risalah-Nya. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka
sesungguhnya baginyalah neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya.
24. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka,
maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan
lebih sedikit bilangannya.
25. Katakanlah: "Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan
kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku menjadikan bagi (kedatangan) azab
itu, masa yang panjang?".
NAH LO ? MAMAD AJE GA YAKIN MASUK SORGE, TRUS GIMANE CRETANYE SI MAMAD BISE TULUNGIN LO SAAT DI PADANG MASYAR ? HA...7X

QS 47:19. Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak)
melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang
mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu
berusaha dan tempat tinggalmu.

NAH LO. MAMAD AJE MESTI MINTE AMPUN ATAS DOSA2NYE. HA...7X
CUME KAPIR ESLAM NYANG IDEOT NYANG GA MRASE ANEH ? KARNE OTAK MREKA GA BISE MIKIR PAKEK LOGIKA. HA...7X

Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendati pun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka ( QS 9:80 ). 

NAH LO. BIAR SI MAMAD MINTE AMPUN ATAS DOSE2 KAPIR ESLAM KEK LO AMPE 70 KALI, TAPI OLO GA MO AMPUNIN DOSE KAPIR ESLAM. HA...7X
QS 34:50. Katakanlah: "Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas
kemudaratan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu
adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya
Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat".

NYADAR WOI. JIKE MAMAD SESAT MAKE ...,.

QS 19:71. Dan tidak ada seorang pun dari padamu, melainkan mendatangi neraka
itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.

JADI JIKE MAMAD SESAT MAKE LO, SMUE KAPIR ESLAM MASUK NRAKE TAUK. HA...7X

QS 40:12. Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja yang
disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan, maka putusan
(sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

PERTANYAANNYE SKARANG ADALAH KNAPE SMUE KAPIR ESLAM MASUK NRAKE ?

QS 29:52. Katakanlah: "Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu.
Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang
percaya kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang
yang merugi.
53. Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau
tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan benar-benar telah datang
azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka
dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya.
54. Mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Dan
sesungguhnya Jahanam benar-benar meliputi orang-orang yang kafir,
55. pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah
kaki mereka dan Allah berkata (kepada mereka): "Rasailah (pembalasan
dari) apa yang telah kamu kerjakan"
56. Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka
sembahlah Aku saja.
Mohon kalian simak baik-baik, kata-kata siapa di sebelah kanan "KATAKANLAH": Kata-kata Muhammad ataukah kata-kata Allah SWT? Siapakah "aku"?
    QS 6:56. Katakanlah: "Sesungguhnya aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah."Katakanlah: "Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku jika berbuat demikian dan tidaklah (pula) aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk."

"Aku" adalah Muhammad. Jadi, dengan model ayat seperti itu (ada tambahan kata "katakanlah" di awal), Muhammad maksudkan agar tampak seolah-olah ucapan itu adalah atas perintah awloh, bukan ucapan atas kemauannya sendiri.

QS 39:53. Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dengan ayat itu, Muhammad sedang membuka kedoknya sendiri bahwa DIRINYA adalah ALLAH SWT.
Kalian yang masih muslim bukanlah HAMBA TUHAN, melainkan HAMBA MUHAMMAD.
"Aku" dalam ayat itu bukanlah awloh, karena itu adalah kalimat yang mesti diucapkan sebagai ucapan Muhammad (lihat kata "katakanlah" di awalnya).
Muhammad telah keseleo lidah sehingga ketahuan bahwa dirinya-lah sang pemeran AWLOH yang sesungguhnya.

Menjadi hamba awloh bukanlah menjadi hamba Tuhan, melainkan hamba (budaknya) Muhammad.
Muhammad-lah SANG PEMERAN TUNGGAL tokoh "awloh".
QS 10:104. Katakanlah: "Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan
tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah
selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan
aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman",

QS 6:108. Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang
mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha
Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

QS 38:8. mengapa Al Qur'an itu diturunkan kepadanya di antara kita?"
Sebenarnya mereka ragu-ragu terhadap Al Qur'an-Ku, dan sebenarnya
mereka belum merasakan azab-Ku.

QS 5:72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya
Allah adalah Al Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri)
berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu"
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka
pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka,
tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.

QS 16:51. Allah berfirman: "Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya
Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut".

JADE SMUE KAPIR ESLAM HARUS MASUK NRAKE ( QS 19:71 ) KARNE ESLAM = AGAMA MAMAD ( QS 10:104 ) N UMAT ESLAM CUME HAMBA MAMAD ( QS 29:56, 39:53 ) N UMAT ESLAM MEMPERSEKUTUKAN OLO N MAMAD ( QS 5:72 ). N OLO BUKAN TUHAN ( QS 16:51 ). HA...7X

YBU AMEN

NB : TAPI KARNE LO MEMPERBODOH DIRI LO SENDIRI ( QS 2:130 ). N OLO DE TUTUP ATI, MATE N KUPING LO ( QS 2:6 ), MAKE LO MASIH GA MO MURTAD DARE ESLAM WALAU DE GUE KASIH LIAT PAKTA BERDASARKAN AYAT2 QORAN. HA...7X


TUESDAY, FEBRUARY 23, 2010


Bab 4 - SUMBER WAHYU-WAHYU MUHAMMAD

· Islam meminjam dari Yudaisme, Kekristenan dan Zoroastrianisme
· Tanggapan Muhammad yang penuh kemarahan atas tudingan bahwa ia meminjam materi
· Hal-hal tambahan untuk kenabian: wahyu-wahyu yang menenteramkan
· Efek negatif terhadap kaum wanita dan yang lainnya oleh karena wahyu-wahyu yang menenteramkan
· Apologetika Islam berusaha untuk menjelaskan tulisan-tulisan yang menggusarkan dalam tradisi Islam.

MEMINJAM DARI YUDAISME
Salah-satu tantangan yang terberat terhadap klaim Muhammad sebagai seorang nabi, baik selama 23 tahun karirnya dan di sepanjang sejarah Islam, adalah ketergantungannya yang sangat jelas terlihat pada Yahudi, Kristen dan sumber-sumber lainnya.

Banyak pengamat di sepanjang sejarah telah memperhatikan banyak kesamaan antara Islam dan Yudaisme, termasuk monoteisme “murni”, urutan nabi-nabi, proliferasi hukum, arah kiblat ke kota suci saat bersembahyang, dan banyak lagi. Tidak diragukan lagi Muhammad mempunyai kontak yang ekstensif sebagai seorang pedagang muda, demikian pula saat ia menjadi nabi, dengan suku-suku Yahudi yang kuat di dalam dan di sekitar kota Mekkah. Muhammad menghormati mereka dan berusaha mendapat restu mereka untuk misi profetisnya.

Pada kenyataannya, Muhammad menempatkan dirinya sendiri setara di dalam sejarah keselamatan orang Yahudi. Dalam rekaan Qur’an, Muham-mad adalah nabi yang terakhir dan terbesar di sepanjang jajaran para nabi yang juga terdapat dalam Alkitab dan yang lainnya.
Setelah Setan menipu Adam dan Hawa sehingga berpaling dari kebenaran (sebuah kisah yang langsung dikutip dari Kitab Kejadian, dengan modifikasi-modifikasi dan penambahan-penambahan penting), Allah mengutus nabi-nabi-Nya untuk memanggil umat-Nya agar kembali kepada penyembahan yang benar. Beberapa bagian dalam Qur’an mendaftarkan figur para nabi, baik yang tercantum dalam kitab suci Yahudi maupun Kristen:...(Sura 6:84-86). Allah menambahkan Muhammad ke dalam bilangan ini:...(Sura 4:163).

Bersama dengan para nabi Alkitab, Qur’an penuh dengan kisah-kisah dari Alkitab. Sura ke-12 menceritakan kisah Yusuf dan saudara-saudaranya, walaupun ...signifikansi Israel sebagai sebuah bangsa.

Bahtera Nuh muncul dalam Sura 10; Yunus dan ikan pausnya dalam Sura 37. Figur Musa sangat mewarnai keseluruhan kitab – terutama dalam satu seri kisah alegoris dalam Sura 18. Kita dapat berharap, jika Muhammad sedang berusaha untuk mempresentasikan dirinya sebagai salah satu nabi dalam jajaran para nabi dalam Alkitab, maka ia akan mengulang sedikitnya beberapa materi Alkitab. Tetapi beberapa kisah dan detil dalam Qur’an mengenai karakter-karakter Alkitab sebenarnya berasal dari sumber-sumber di luar Alkitab itu sendiri – terutama, Talmud.

Tulisan-tulisan Talmud, yang dikompilasi pada abad ke-2 M,beredar di kalangan orang Yahudi di Arab pada jaman Muhammad, dan beberapa perbedaan dan penambahannya terhadap catatan-catatan Alkitab dimuat di dalam Qur’an. Dalam versi Qur’’an mengenai “kisah 2 anak-anak Adam” (Sura 5:27), Kain dan Habel, Allah mengirimkan kepada Kain seekor gagak untuk menunjukkan padanya apa yang harus dilakukannya dengan tubuh saudaranya: “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Kabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkatalah Kabil: “Aduhai celakalah aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah ia seorang di antara orang-orang yang menyesal.” (Sura 5:31)

Gagak ini tidak ada dalam catatan kitab Kejadian mengenai Kain-Habel, tetapi ada di dalam beberapa dokumen para rabbi Yahudi,termasuk Pirqe de-Rabbi Eliezer, penciptaan kembali sejarah Alkitab dari penciptaan hingga perjalanan orang Israel di padang gurun. Para apologis Islam mengemukakan bahwa Pirqe de-Rabbi Eliezer dalam bentuk yang ada sekarang berasal dari abad ke-8 atau 9 M, seperti juga beberapa tulisan lain yang mencantumkan kisah tentang gagak tersebut – maka sangatlah mungkin bahwa para rabbi sebenarnya meminjam dari Muhammad.

Namun demikian, ayat berikutnya dalam Qur’an – yang merupakan ayat yang paling dihormati dan sering dikutip di seluruh kitab tersebut, setidaknya di negara-negara Barat dewasa ini – lebih memperjelas arah peminjaman. Sura 5:32 berkata: “Oleh karena itu Kami tetapkan satu hukum bagi bani Israel, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu orang lain, atau bukan karena orang itu membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan manusia semuanya....”

Tidak ada alasan yang pasti mengapa statement terhadap pembunuhan ini mengikuti kisah Kain dan Habel, ketika pembunuhan yang dilakukan Kain terhadap Habel tidak membahayakan suatu umat. Hubungan itupun tidak jelas dari konteks. Namun dalam Talmud jelas bahwa:
“Kami mendapati bahwa dalam kasus Kain yang membunuh saudaranya: “Dan Dia berfirman, “Apa yang telah engkau perbuat? Suara darah adikmu berseru kepada-Ku dari tanah” (Kej.4:10). Tidak dikatakan di sini bahwa darah itu dalam bentuk tunggal, tetapi dalam bentuk jamak, yaitu darahnya sendiri dan darah keturunannya. Manusia diciptakan tunggal/sendiri untuk menunjuk-kan bahwa barangsiapa membunuh seorang individu maka akan diperhitungkan padanya bahwa ia telah membunuh sebuah umat, tetapi barangsiapa yang memelihara hidup seorang individu maka ia dipandang telah memelihara hidup suatu umat.’”1

Di sini hubungan antara pembunuhan Habel dan juga seluruh umat manusia berasal dari penafsiran jamak terhadap kata “darah” (“bloods”, Inggris) dalam Kejadian 4:10. Berkaitan dengan hubungannya dengan sebuah ayat Alkitab, koneksi ini sebagaimana kemunculannya dalam Qur’an menyampaikan kepada banyak pembaca selama berabad-abad bahwa penulis atau para penyusun Qur’an bergantung kepada sumber Yahudi.

Demikian pula, di dalam Qur’an, Bapa Abraham menghancurkan beberapa berhala yang disembah oleh bapanya dan umatnya. Dengan penuh kemarahan, kaumnya melemparkannya ke dalam api, namun Allah mendinginkan api itu dan menyelamatkan Abraham: “Mereka berkata:
“Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.” (Sura 21:68-69).

Kisah mengenai Abraham yang dibuang ke dalam api muncul dalam Talmud – Midrash Genesis Rabbah, yang dikompilasi pada abad ke-6 M. 2

“KISAH-KISAH KUNO”
Masih ada banyak gema semacam itu di dalam Qur’an, dan berbagai versi kisah-kisah ini tidak dikenal banyak orang. Beberapa diantaranya dicatat dalam Qur’an: “Dan ingatlah ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul Al Quran ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih” (Sura 8:31). “Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan dari orang-orang dahulu kala” (Sura 23:83).

Allah menanggapi tuduhan ini secara langsung di dalam Qur’an: “Dan orang-orang kafir berkata, Al Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakah oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain; maka sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kelaliman dan dusta yang besar. Dan mereka berkata: “Dongengan-dongengan orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (Sura 25:4-6). Para pencemooh Muhammad membuat tuduhan ini dari kekerasan hati mereka: “Dan diantara mereka ada orang yang mendengarkan bacaanmu, padahal kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, sehingga mereka tidak memahaminya, dan Kami letakkan sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: Al Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu.” (Sura 6:25)

Muhammad bereaksi dengan kemarahan kepada orang yang membuat tuduhan-tuduhan ini. Dalam sebuah wahyu, Allah mengemukakan bahwa orang itu adalah anak haram dan berjanji untuk membuat cap di hidung mereka. (Sura 68:10-16) 3

Muhammad dengan teguh menegaskan kepastian bahwa pembaca yang berpikiran terbuka akan menemukan nubuatan-nubuatan mengenai kedatangannya dalam Kitab Suci Para Ahli Kitab – yaitu orang-orang Yahudi dan Kristen: “Berkatalah orang-orang kafir: “Kamu bukan seorang yang dijadikan rasul”. Katakanlah “ Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu dan diantara orang yang mempunyai ilmu Alkitab” (Sura 13:43). Orang Yahudi dan Kristen yang sejati akan menjadi orang Muslim: “Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Alkitab sebelum Al Quran, mereka beriman pula dengan Al Quran itu” (Sura 28:52).

Mereka yang tidak bertobat kepada Islam harus diingatkan bahwa orang Muslim, Yahudi dan Kristen menyembah Tuhan yang sama (Sura 29:46).

Allah bahkan mengatakan kepada Muhammad agar berkonsultasi pada orang Yahudi dan orang Kristen jika ia mempunyai keraguan terhadap kebenaran dari apa yang telah diterimanya: ”Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu....” (Sura 10:94).

Hanyalah ketegaran Para Ahli Kitablah yang membuat mereka tidak mengakui Muhammad dan kesejatian Qur’an. Dan pada puncaknya, ketegaran mereka itu membuat Muhammad berbalik memusuhi mereka, dan memproklamasikan bahwa komunitasnya yang baru adalah pemimpin mereka – dan juga pemimpin semua kaum lainnya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (3:110).

Keyakinan bahwa mereka adalah “umat yang terbaik”, dan juga kecurigaan Para Ahli Kitab sudah tidak asing lagi di kalangan orang Muslim di seluruh dunia bahkan hingga hari ini. Ketidaksetaraan sosial dan ketidakadilan dituduhkan kepada orang kafir; dan para jihadis di seluruh dunia mengemukakan bahwa hanya dengan menerapkan Islam secara keras maka orang Muslim akan tetap menjadi “umat yang terbaik”.

MEMINJAM DARI KEKRISTENAN
Dalam beberapa varian catatan Waraqa bin Naufal mengenai Muhammad sebagai Nabi, Waraqa menulis Injil tidak dalam bahasa Ibrani, namun dalam bahasa Arab.4 Tujuan dari varian-varian itu boleh jadi untuk menjauhkan Waraqa dari orang Yahudi, yang beberapa diantara mereka itu (dituduhkan) mengajari Qur’an kepada Muhammad. Allah sendiri menjawab tuduhan ini di dalam Qur’an: “Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, Sesungguhnya Al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.” (Sura 16:103)

Orang asing itu boleh jadi adalah orang lain lagi; lagipula, Waraqa bukanlah orang Yahudi terpelajar, Kristen, atau penyembah berhala yang mempunyai hubungan dengan Muhammad. Yang lainnya adalah seorang tokoh misterius yang penting dalam Islam mula-mula, yaitu Salman orang Persia. Kata “asing” dalam bahasa Arab dalam Sura 16:103 diterjemahkan dengan Ajami, yang berarti orang Persia atau orang Iran. Ketegaran Qur’an yang berulangkali bahwa kata itu adalah kata Arab malah akan memunculkan kecurigaan bahwa pengaruh asing (atau Persia). Lalu ada figur tak bernama, yang menurut Hadith, “adalah seorang Kristen yang memeluk Islam dan membaca Surat-al-Baqarah (Sura ke-2 dalam Qur’an) dan Al-Imran (Sura 3), dan ia biasa menulis (wahyu-wahyu) untuk Nabi.”

Dengan perkataan lain, ia biasa menuliskan bacaan-bacaan Qur’an Muhammad. Namun pengalaman ini kemudian membuat ia ragu bahwa wahyu-wahyu itu diinspirasikan secara ilahi, karena “kemudian ia kembali kepada kekristenan dan ia suka berkata: ‘Muhammad tidak tahu apa-apa selain dari apa yang saya tulis untuknya.’” Tradisi itu menyebutkan bahwa dosa orang ini sangatlah besar sehingga setelah ia meninggal, bumi bahkan tidak mau menerima tubuhnya, dan setelah kaumnya membuat beberapa usaha untuk menguburkannya namun bumi tetap menolaknya, mereka akhirnya menyerah. 5

Bahwa misi profetis Muhammad dikonfirmasi oleh seorang petobat Kristen dari Yudaisme telah menjadi hal yang memalukan orang Muslim, dan beberapa sumber Muslim telah menyangkal bahwa Waraqa adalah seorang Kristen. Sementara itu, beberapa sarjana modern mengemukakan bahwa Waraqa sebenarnya menolak Muhammad, dan bahwa teks versi Ibn Hisham mengenai Sira kemudian telah dipalsukan.

Mereka mengemukakan bahwa tidak ada catatan dalam banyak hadith mengenai pertobatan Waraqa kepada Islam atau detil-detil kematiannya. Lagipula, pertobatan seorang imam Kristen, sepupu Muhammad dan istrinya, pastilah suatu peristiwa yang sangat penting. Namun demikian, tidak diragukan lagi bahwa arus utama Islam menerima bahwa Waraqa mengakui status kenabian Muhammad, bahwa Waraqa bertobat kepada Islam, dan bahwa Alkitab – setidaknya dalam keadaan aslinya yang belum dipalsukan – menubuatkan kedatangan Muhammad.

Walau demikian, kecurigaan bahwa Waraqa mengajari Muhammad bagian-bagian yang penting dari apa yang dikemukakan Muhammad sebagai wahyu ilahi dalam Qur’an, telah menghantui Islam. Selama berabad-abad tidak ada cara untuk memastikan hubungan apa antara Muhammad dan Waraqa, demikian pula apakah sepupu istrinya itu adalah sumber apa-apa untuknya. Namun demikian, yang tidak diragukan lagi dan yang menarik adalah bahwa Qur’an menggunakan sumber-sumber Yahudi dan Kristen dan bahwa beberapa “kisah kuno” yang mendapatkan cara untuk masuk ke dalam Qur’an bukanlah berasal dari Injil kanonis tetapi dari sumber-sumber lain – yaitu sumber-sumber yang sangat mungkin ditemui Muhamad di Arabia,
dimana ada dominasi bidat-bidat Kristen.

Yesus di dalam Qur’an, walau tidak ilahi, adalah seorang pembuat mujizat yang sangat berkuasa. Ia bahkan berbicara dalam ayunan-Nya: “Dan Dia berbicara kepada manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan Dia termasuk di antara orang-orang yang saleh” (Sura 3:46). Mengetahui hal ini, Maria mengarahkan mereka yang meragukan kesuciannya untuk bertanya pada Sang Bayi saat mereka melihat-Nya: “Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami bisa berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?” Berkata Isa, “Sesungguhnya Aku ini adalah hamba Allah, Dia memberiKu Alkitab (Injil), dan Dia menjadikan Aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan Aku seorang yang diberkati dimana saja Aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaKu (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama Aku hidup. Dan berbakti kepada ibuKu, dan Dia tidak menjadikan Aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari Aku dilahirkan, pada hari Aku meninggal, dan pada hari Aku dibangkitkan hidup kembali.” (Sura 19:29-33)

Dalam sebuah Injil Arab mengenai kanak-kanak Yesus dari abad ke-6: “Yesus berbicara, dan sesungguhnya ketika Ia berbaring di ayunan Ia berkata kepada Maria ibunya: ‘Akulah Yesus, Putra Tuhan, Sang Logos (= Firman), yang telah engkau lahirkan, seperti yang disampaikan malaikat Gabriel kepadamu; dan Bapa-Ku telah mengutus Aku bagi keselamatan dunia.’” 6

Dalam Injil tersebut ada kisah berikut: “Maka, ketika Tuhan Yesus telah berusia 7 tahun, pada suatu hari Ia sedang bermain dengan teman-teman sebaya-Nya. Mereka bermain dengan tanah liat, yang mereka buat patung-patung keledai, lembu, burung dan binatang-binatang lain; dan mereka masing-masing menyombongkan kemampuannya, memuji-muji hasil karya masing-masing. Kemudian Tuhan Yesus berkata kepada anak-anak laki-laki itu: ‘Patung-patung yang telah Kubuat akan Aku perintahkan untuk berjalan. Mereka bertanya pada-Nya apakah Ia adalah Putra Sang Pencipta; dan Tuhan Yesus menyuruh mereka untuk berjalan dan mereka segera mulai melompat; dan kemudian ketika Ia memberikan mereka perintah, mereka kembali mematung. Dan Ia membuat patung burung yang dapat terbang setelah diperintahkan-Nya untuk terbang, dan kembali mematung ketika Ia memerintahkan mereka berdiam, dan makan minum ketika Ia memberi mereka makanan dan minuman. Setelah anak-anak laki-laki itu pergi dan menceritakan hal ini pada orang-tua mereka, ayah-ayah mereka berkata kepada mereka: ‘Anak-anakku, hati-hatilah agar jangan berteman dengan-Nya lagi, karena Ia adalah seorang tukang sihir: oleh karena itu, menjauhlah dari-Nya, dan hindarilah Dia, dan jangan bermain lagi dengan-Nya sesudah ini.’’” 7

Dan demikian pula dalam Qur’an, dimana hal itu menjadi suatu indikasi lain adanya pengkhianatan orang-orang Yahudi kafir: “Ingatlah ketika Allah mengatakan: “Hai, Isa Putra Maryam, ingatlah nikmatKu kepadamu dan kepada ibumu ketika Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia ketika kamu masih di dalam buaian dan sesudah dewasa. Dan ingatlah ketika Aku mengajar kamu untuk menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan ingatlah pula diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijinku, kemudian kamu meniup padanya, dan bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan ijinKu. Dan ingatlah waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizinku, dan ingatlah di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizinKu, dan ingatlah ketika
Aku menghalangi bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) dikala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata” (Sura 5:110).

Pengalaman Muhammad dengan kelompok-kelompok bidat Kristenjuga dapat menjelaskan pandangannya mengenai penyaliban Kristus. Orang Muslim percaya bahwa Ia diangkat ke surga hidup-hidup, dan tidak pernah mencicipi kematian; adalah tidak mungkin bagi Allah untuk mengijinkan salah satu nabi-Nya harus mati dengan malu dan kehinaan, maka Allah menggantikan seorang lain yang menyerupai-Nya sebelum Ia disalibkan. Orang Yahudi mengira bahwa mereka benar-benar menyalibkan Yesus, tetapi sebenarnya si penirulah yang disalibkan: “dan karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa Putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh adalah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka ...” (Sura 4:157)!

Ini sangat mirip dengan pandangan beberapa kelompok bidat Kristen yang dikenal dengan kelompok Gnostik. Kelompok Gnostik mengajarkan bahwa hal-hal fisik adalah jahat dan oleh karena itu Yesus, sebagai Juruselamat dunia, tidak mungkin mengenakan tubuh jasmaniah, dan tentu saja tidak mungkin disalibkan. Tuhan hanya membuat seolaho-lah Dia-lah yang tergantung di salib – atau, menurut beberapa teks Gnostik, membuat Yudas menyerupai Yesus dan menaruhnya di salib menggantikan tempat Tuhan.

Kenyataan bahwa Qur’an menghadirkan ayat ini sebagai sebuah penyelesaian terhadap pertikaian (“oleh karena itu mereka yang berbeda pendapat sebenarnya penuh keraguan, tanpa adanya pengetahuan [yang pasti], namun hanya ikut-ikutan, karena sesungguhnya mereka tidak membunuh-Nya”) menyarankan bahwa bisa jadi Muhammad telah bertemu dengan kelompok-kelompok Kristen yang bertikai dan bermaksud menghadirkan wahyunya sebagai resolusi akhir dari masalah tersebut.

Kita tidak usah berasumsi bahwa Muhammad benar-benar membaca bahan-bahan bidat Kristen tersebut yang nampaknya telah mempengaruhi Qur’an. Lebih besar kemungkinannya bahwa ia pernah mendengar materi ini tersebut dibacakan atau diajarkan, oleh karena peminjaman yang dilakukannya itu tidak dalam bentuk kata-per kata.

Kadangkala cara ia menyampaikan materi dari Alkitab memperlihatkan bahwa ia hanya sedikit mengenal kisah-kisah Alkitab yang ia ceritakan kembali; dalam catatan Qur’an mengenai kelahiran Yesus, kerabat-kerabat Maria ibu-Nya memanggilnya dengan “saudara perempuannya Harun” (Sura 19:28). Nampaknya, Muhammad mengalami kebingungan antara Miriam saudara perempuan Musa dan Harun dengan Maria ibunda Yesus. Dalam bahasa Arab kedua nama itu identik: Maryam. Namun demikian, ketika salah seorang pengikutnya dikonfrontasi dengan hal ini oleh orang-orang Kristen dari Najran, dan kembali pada Muhammad untuk menanyakan hal tersebut, sang Nabi Islam telah menyiapkan jawaban: “Umat di jaman lalu biasa memberikan nama (pada orang-orangnya) dengan nama para Rasul dan orang-orang saleh yang telah mendahului mereka.”8 Jadi Maria ibu Yesus dipanggil “saudara perempuan Harun” sebagai sebuah penghormatan, bukan sebuah kesalahan. Kekacauan ini seringkali berkaitan dengan klaim yang dikemukakan berulangkali bahwa Muhammad adalah seorang yang buta huruf. Ini adalah batu penjuru bagi apologetika Islam, sehingga membuat Qur’an lebih lagi penuh mujizat – karena menyebutnya sebagai “Yaitu orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi, yang namanya mereka dapati tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka...” (Sura 7:157).

Dari perspektif orang Muslim, bukanlah hal yang penting jika beberapa bagian Qur’an mempunyai gema/asal dari sumber-sumber terdahulu, apakah itu kanonikal atau tidak. Lagipula, teologi Islam tradisional berpandangan bahwa wahyu-wahyu terdahulu telah dipalsukan dan disusupi, dan dengan demikian memerlukan koreksi yang ditawarkan oleh Qur’an – tetapi oleh karena bentuk asli dari wahyu-wahyu terdahulu ada dalam Qur’an, maka tidaklah mengherankan kalau beberapa kitab yang terdahulu memuat bayang-bayang Qur’an.

Jadi bagi banyak orang Muslim, eksistensi jejak-jejak wahyu Qur’an dalam kitab-kitab terdahulu hanya mengkonfirmasi peran Qur’an sebagai yang memperbaiki dan menggantikan semua wahyu terdahulu.

Muhammad sendiri berbicara terang-terangan mengenai Islam yang menggantikan Yudaisme dan kekristenan, dan pada satu kesempatan menggunakan sebuah perumpamaan untuk menjelaskan mengapa demikian. 9

PEMINJAMAN-PEMINJAMAN LAINNYA
Qur’an memberikan deskripsi yang banyak dan terperinci mengenai firdaus. Orang yang diberkati akan dimuliakan dengan “gelang-gelang dari emas dan mutiara” (Sura 22:23) dan “berpakaian sutra yang halus dan banyak brokat” (Sura 44:53). Ia akan berbaring di atas “kursi-kursi hijau dan karpet-karpet yang indah” (Sura 55:76), duduk di “tahta yang dihiasi emas dan batu-batu mulia” (Sura 56:15), dan makan dari “piring-piring dan mangkuk-mangkuk emas” – yang di dalamnya berisi “semua yang diinginkan jiwa, semua yang menyenangkan mata mereka,” termasuk “buah-buahan yang berlimpah” (Sura 43:71, 73) bersama dengan “kurma dan delima” (Sura 55:68). Disana juga akan menikmati “daging burung dari apa yang mereka inginkan”(Sura 56:21). Firdaus itu sendiri terdiri dari “taman-taman, dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya” (Sura 3:198; bdk.3:136; 13:35; 15:45; 22:23). Di dalamnya ada “dua mata air yang terus memancarkan air dengan kelimpahan yang tidak berkesudahan” (Sura 55:66), bersama dengan “sungai-sungai susu yang rasanya tidak pernah berubah; sungai-sungai anggur, sukacita bagi mereka yang meminumnya; dan sungai-sungai dari madu murni dan jernih” (47:15). “Tidak ada dalam khamar itu alkohon, dan mereka tiada mabuk karenanya (Sura 37:47).

“Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari, dan tidak pula dingin yang bersangatan. Dan naungan pohon-pohon surga itu dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.” (Sura
76:13-14)

Makanan dan kesenangan tidak akan pernah habis: “Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang yang takwa ialah (seperti taman). Mengalir sungat-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti, sedang naungannya (demikian pula)” (Sura 13:35).
Dan yang paling hebat tentunya adalah “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan” (Sura 78:31): “Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya” (Sura 37:48), “Dan Kami berikan kepada mereka bidadari” (Sura 44:54), “Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan” (Sura 55:58) yang bertelekan di atas dipan berderetan, dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.” (Sura 52:20). “Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka, (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin” (Sura 55:56). Allah “membuat mereka gadis-gadis perawan” (Sura 56:36), dan berdasarkan tradisi Islam, mereka akan tetap menjadi perawan selamanya. “Dan berkeliling di antara mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan” (Sura 52:24), “Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda” (Sura 56:17): “Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan” (Sura 76:19).

Sudah barang tentu tidak satupun dari hal-hal ini ada dalam kitab-kitab suci orang Yahudi maupun orang Kristen, namun ada dalam tulisan-tulisan Zoroaster dari Persia, yang keberadaannya sangat penting di daerah-daerah di sekitar kekaisaran Persia sebelum munculnya Islam.

Menurut sejarawan W. St. Clair Tisdall, yang berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dalam monografnya “The Sources of Islam,” yang kemudian dikembang-kannya menjadi sebuah buku, dan juga dalam tulisannya yang lain, “kitab-kitab Zoroaster dan Hindu ... mempunyai kesamaan yang luar biasa dengan apa yang kita temukan dalam Qur’an dan Hadith. Maka di Firdaus, diceritakan pada kita bahwa, ‘houris yang mempunyai mata hitam yang indah,’ dan sekali lagi mengenai ‘houris bermata hitam dan besar, bagaikan mutiara yang tersembunyi dalam cangkangnya’... Sebutan houry juga berasal dari Sumber Pehlavi atau Avesta, demikian pula jinn untuk genii, dan bihist (Firdaus), yang dalam Avestik berarti ‘tanah yang lebih baik’. Kita juga menemui kisah-kisah serupa dalam tulisan-tulisan Hindu kuno, mengenai pasukan surgawi yang terdiri dari anak-anak laki-laki dan perempuan yang sama dengan para houris dan ghilman di dalam Qur’an.”10

WAHYU-WAHYU YANG MENENTERAMKAN?
Aisha pernah bertanya pada Muhammad seperti apa pengalaman menerima wahyu itu, dan ia menjawab: “kadang-kadang wahyu itu (diturunkan) seperti dering lonceng, inspirasi dalam bentuk ini adalah yang paling sulit dari semua dan kemudian keadaan ini berlalu setelah saya memahami apa yang diinspirasikan. Kadang-kadang malaikat datang dalam bentuk seorang manusia dan berbicara padaku dan saya mengerti apapun yang ia katakan.”11 Pada kesempatan lain ia menjelaskan:
“Wahyu turun padaku dalam dua cara – Gabriel membawanya dan menyampaikannya padaku seperti seseorang menyampaikan pesan kepada seorang lain dan itu membuat saya gelisah.12 Dan wahyu itu turun padaku seperti bunyi bel hingga masuk dalam hatiku dan ini tidak membuat saya gelisah.” Aisha mengatakan: “Ketika wahyu turun kepada utusan Allah (kiranya damai ada atasnya) bahkan dalam hari-hari yang dingin, dahinya berkeringat.”13 Juga, ketika wahyu itu datang kepadanya “ia merasakan sebuah beban karena hal itu dan wajahnya berubah
warna,” dan “ia menundukkan kepalanya dan para sahabatnya pun menundukkan kepala mereka, dan ketika (keadaan ini) telah berakhir, ia mengangkat kepalanya.”14

Seorang Muslim pernah berkata: “Seandainya saja aku dapat melihat Rasul Allah saat ia sedang menerima wahyu ilahi.” Lalu, seseorang bertanya kepada Muhammad. Muhammad “menunggu sejenak, dan kemudian Wahyu Ilahi turun kepadanya...Wajah nabi menjadi merah dan ia terus bernafas dengan berat untuk sesaat dan kemudian ia menjadi lega.” Kemudian ia memberikan jawaban kepada si penanya.15

Beberapa kesulitan lain yang ditemui orang non-Muslim dalam hal menerima Muhammad sebagai seorang Nabi berasal dari keadaan/situasi saat ia menerima wahyu. Seperti yang akan kita lihat, seringkali selama karir kenabiannya ia menerima wahyu untuk menjawab kritik, atau menyelesaikan perdebatan, atau memberikan pendapatnya mengenai satu seri kejadian.
Banyak kali keadaan di sekitar pewahyuan itu nampaknya mencerminkan keresahan Allah untuk mengabulkan keinginan nabi-Nya – seperti dalam kisah heboh mengenai salah satu istri Muhammad, Zaynab bint Jahsh. Zainab telah menikah dengan anak angkat Muhammad Zayd bin Haritha – sebuah penyatuan yang tidak diinginkan keduanya, menurut tradisi Islam, tetapi sangat dikehendaki oleh Muhammad: itu akan menunjukkan kesetaraan semua orang beriman, karena Zaynab berasal dari keluarga terpandang sedangkan Zayd adalah seorang budak yang dimerdekakan. Muhammad menerima validasi ilahi atas keinginannya:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasulnya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka (pilihan) yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasulNya, maka sungguhlah ia telah sesat, sesat yang nyata” (Sura 33:36).

Zaynab bint Jahsh sangatlah cantik. Menurut Tafsir al-Jalalayn, sebuah komentari Islam kuno mengenai Qur’an, setelah pernikahannya dengan Zayd, “Muhammad memandangnya, dan cinta untuk Zaynab menggelora dalam hatinya”16 Pada suatu hari, sambil mencari Zayd, Muhammad pergi ke rumah mereka dan sempat melihatnya hanya mengenakan chemise. Zaynab berkata, “Ia tidak ada disini, wahai Utusan Tuhan. Masuklah, wahai engkau yang terkasih bagiku seperti bapa dan ibuku!” Tetapi sang nabi Islam bergegas pergi dengan kemarahan, menggumamkan sesuatu yang tidak terdengar dan kemudian berteriak, “Terpujilah Tuhan Yang Maha Kuasa! Terpujilah Tuhan, yang menyebabkan hati berpaling!”17

Zayd, terkungkung dalam pernikahan yang tidak diinginkannya, melihat sebuah jalan keluar. Ia pergi menemui Muhammad dan mengulangi apa yang dikatakan Zaynab: “Mengapa engkau tidak masuk, wahai engkau yang terkasih bagiku seperti ayah dan ibuku?” Kemudian ia mengutarakan maksudnya: “Wahai Utusan Tuhan, mungkin Zaynab telah menyenangkan hatimu, maka aku akan memisahkan diriku darinya.”

Muhammad berkata kepadanya: “....Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah...” (Sura 33:37). Zayd mendatanginya berulangkali, tetapi Muhammad tetap mengulangi nasehatnya. Aisha kemudian menceritakan, “Jika Rasul Allah harus menghapus apapun (dari Qur’an) pasti ia akan menghapus ayat ini.”18 Akhirnya Zayd menceraikannya, dan tidak lama kemudian Allah sendiri campur tangan.

Menurut sejarawan Muslim Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Tabari (839-923), suatu hari Muhammad sedang berbicara dengan Aisha ketika “sebuah gagasan menguasainya.” Kemudian ia tersenyum dan berkata, “siapakah yang mau pergi kepada Zaynab untuk mengatakan padanya kabar yang baik, yaitu bahwa Allah telah menikahkannya denganku? ”

Kemudian ia mengucapkan wahyu yang baru saja diberikan Allah kepadanya, mengoloknya karena telah mengkuatirkan apa yang akan dipikirkan orang sehingga membuat ia menolak untuk menikahi Zaynab (Sura 33:37). Lalu Muhammad memperistri Zaynab, dan dilindungi dari
skandal oleh sebuah wahyu yang turun langsung dari Allah. Hingga hari ini, ketika orang Muslim membaca Qur’an mereka membaca peringatan-peringatan ini yang ditujukan kepada Nabi, yaitu bahwa ia tidak boleh menampik pemberian-pemberian Allah, dan tidak boleh ragu untuk menikahi mantan menantunya.

Istrinya yang baru ini, dan situasi pernikahannya dengan Muhammad, mengkuatirkan Aisha. “Saya menjadi sangat tidak nyaman oleh karena apa yang kami dengar tentang kecantikannya dan juga hal-hal lainnya, dan hal yang paling menghebohkan adalah apa yang telah dilakukan Tuhan dengan menikahkannya. Menurut saya, ia akan menyombongkan hal ini pada kita.”19 Dan benarlah, Zaynab mengatakan pada istri-istri Muhammad lainnya: “Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian, tapi saya dinikahkan (kepada Nabi) oleh Allah dari atas langit ketujuh.”20 Kemudian Aisha menjawab: “Saya adalah satu-satunya istri yang kesuciannya dinyatakan dari surga” – dan dengan demikian muncullah kisah lain yang mempertanyakan situasi-situasi di sekitar pewahyuan kepada Muhammad.21

Belum lama berselang Muhammad memerintahkan agar wanita berkerudung, maka Aisha, ketika menyertainya ke medan perang, dibawa dalam tandu yang tertutup di atas punggung unta – ini memicu timbulnya krisis yang efeknya masih terasa dalam dunia Islam. Aisha menceritakan kisahnya:
“(Kami berkemah) ketika kami mendekati kota Medina. Kemudian ia mengumumkan agar berangkat pada malam hari. Saya terbangun ketika mereka mengumumkan keberangkatan, dan
saya pergi dari perkemahan pasukan, dan setelah selesai buang hajat, saya kembali ke binatang tunggangan saya. Saya menyentuh dada saya dan ternyata kalung saya yang terbuat dari mote-mote Zifar (yaitu mote-mote dari Yaman, separoh berwarna hitam, separoh berwarna putih) sudah hilang. Maka saya kembali untuk mencari kalung saya dan pencaharian saya memisahkan saya dari rombongan. (Sementara itu) orang-orang yang biasa memikul saya di unta saya, datang dan mengambil Hawdaj saya dan menaruhnya di atas punggung unta saya yang biasa saya tunggangi, karena mereka menganggap saya ada di dalamnya.

Pada jaman itu, berat badan wanita sangat ringan karena mereka tidak memiliki lemak, dan tidak banyak daging di tubuh mereka karena mereka terbiasa hanya makan sedikit. Jadi, orang-orang itu tidak merasa ada perbedaan berat Hawdaj itu ketika mereka mengangkatnya, dan mereka menaruhnya di dekat unta. Pada waktu itu saya masih seorang wanita muda. Mereka menyuruh unta itu berdiri dan mereka semua pergi (dengan unta itu). Saya menemukan kalung saya setelah pasukan itu pergi. ”

Oleh karena peraturan mengenai kerudung berarti bahwa tidak seorangpun yang dapat melihatnya atau berbicara kepadanya, dan berat badannya tidak membuat suatu perbedaan yang berarti, orang-orang yang mengangkat tandu Aisha ke atas untanya tidak tahu kalau ia tidak ada di sana. Jadi istri favorit Muhammad terhilang.
“Ketika saya sedang duduk di tempat peristirahanku, saya sangat mengantuk dan jatuh tertidur. Safwan bin Al-Muattal As-Sulami Adh-Dhakwani berada di belakang pasukan. Ketika ia tiba di tempatku pada pagi hari, ia melihat seseorang yang sedang tertidur dan ia mengenaliku karena ia telah pernah melihatku sebelum kerudung diwajibkan (diperintahkan). Lalu saya terbangun ketika ia membacakan Istirja’ (Inna lillahi wa inna llaihi raji’un = Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada Allah kami kembali) segera ketika ia mengenali saya.22 Saya langsung menutupi wajah saya dengan kerudung saya, dan demi Allah, kami tidak berbincang sepatah kata pun, dan saya tidak mendengarnya mengucapkan apapun selain dari Istirja. Ia melepaskan kekang untanya dan membuat untanya berlutut, meletakkan kakinya di kaki depan unta itu dan ia bangun dan menungganginya. Dan ia menggiring unta yang membawa saya sampai kami bertemu dengan pasukan di siang hari yang terik ketika mereka sedang berhenti untuk beristirahat.”

Aisha telah sendirian dengan seorang pria yang bukan suaminya. Bagi beberapa orang, itu sudah cukup untuk menimbulkan isu yang buruk mengenai dia: “(Oleh karena kejadian itu) beberapa orang mendatangkan kehancuran atas diri mereka sendiri,” kata Aisha, “dan orang yang menyebarkan fitnah itu adalah ‘Abdullah bin Ubai Ibn Salul” – bersama 3 orang lainnya (termasuk seorang pria bernama Mistah bin Uthatha dan saudari dari Zaynab bint Jahsh), juga beberapa orang lainnya. Kabar burung beredar, bahkan Muhammad juga terpengaruh oleh kabar burung itu dan menjauhkan diri dari Aisha.

Aisha menceritakan: “Setelah kami kembali ke Medina, saya sakit selama sebulan. Orang-orang sibuk menyebarkan kabar buruk dan fitnah sedangkan saya sama sekali tidak mengetahuinya, tetapi saya dapat merasakannya dalam kesakitan saya, oleh karena saya tidak menerima kebaikan yang biasa diberikan Utusan Allah jika saya dalam keadaan tidak sehat. (Tetapi sekarang) Utusan Allah hanya datang, memberi salam pada saya dan bertanya, ‘Bagaimanakah (perempuan) itu?’ Lalu ia pergi. Hal itu menimbulkan keraguan saya, tapi saya tidak menemukan kejahatan (fitnah) hingga saya sembuh dari sakit saya dan saya pergi keluar dengan Umm Mistah (yaitu ibu dari Mistah) ke Al-Manasi’ dimana kami biasa membuang hajat...”

Akhirnya Umm Mistah menceritakan pada Aisha soal pergunjingan itu, yang tentu saja membuat Aisha yang masih lemah merasa semakin terpuruk:
“Lalu penyakit saya menjadi semakin parah, dan ketika saya tiba di rumah, Utusan Allah datang padaku, dan setelah ia memberi salam padaku, ia berkata, ‘Bagaimanakah (perempuan) itu? Saya menjawab, ‘Maukah engkau mengijinkan saya untuk mengunjungi orang-tua saya? Karena saya ingin mendapatkan kepastian mengenai kabar burung itu dari mereka. Utusan Allah mengijinkan saya (dan saya pergi kepada orang-tua saya) dan bertanya pada ibu saya, ‘Oh, Ibu! Apakah yang digunjingkan orang-orang? Ia berkata, ‘Oh anakku! Janganlah kuatir, karena bagi wanita yang cantik dan dicintai oleh suaminya hanya akan ditemukan sedikit kesalahan, sedangkan suaminya mempunyai banyak istri lain.’ Saya berkata, ‘’Subhan Allah (terpujilah Allah!) apakah orang-orang benar-benar membicarakan hal ini?’ Malam itu saya terus menangis hingga subuh, saya tidak dapat berhenti menangis dan saya juga tidak bisa tidur. Lalu di pagi hari saya masih terus menangis.”

Dan ia mempunyai alasan yang tepat untuk menangis: Muhammad pada akhirnya mempercayai kabar burung itu, walaupun Aisha mempunyai orang-orang yang membelanya:
“(Ketika turunnya Wahyu Ilahi ditunda), Utusan Allah memanggil ‘Ali bin Abi Talib dan Usama bin Zaid untuk bertanya dan meminta nasehat mereka soal menceraikan saya. Usama bin Zaid mengatakan bahwa ia mengetahui ketidakbersalahan saya, dan ia menghormati saya. Usama berkata, ‘(Wahai utusan Allah!) Dia adalah istrimu, dan kami tidak tahu apa-apa selain hal yang baik mengenai dia.’ ”

Dengan gaya mencemoohkan, ‘Ali, yang kemudian menjadi orang saleh dan pahlawan yang hebat dalam kelompok Muslim Syiah, mengingatkan Muhammad bahwa “ada banyak perempuan” tersedia untuk nabi (Aisha tidak pernah melupakan hal ini, dan kemudian menyanggah klaim Ali bahwa Muhammad telah mengangkatnya menjadi penerusnya: “Kapan ia mengangkat orang itu melalui surat wasiat?

Sesungguhnya ketika ia wafat ia sedang beristirahat di dadaku dan ia meminta baskom air untuk mencuci muka dan kemudian tidak sadarkan diri, dan saya bahkan tidak melihat kalau ia telah wafat, jadi kapan ia mengangkat orang itu melalui wasiat?”).23

Cerita Aisha berlanjut:
“’Ali bin Abi Talib berkata, ‘Wahai Utusan Allah! Allah tidak menaruh engkau dalam kesulitan ini, dan ada banyak perempuan lain selain darinya, namun, tanyailah hamba perempuan itu (budak perempuan Aisha) yang akan mengatakan kepadamu tentang kebenaran.’ Maka Utusan Allah memanggil Barira (yaitu si budak perempuan) dan berkata, ‘Wahai Barira! Apakah kamu ada melihat sesuatu yang membangkitkan kecurigaanmu?’ Barira berkata padanya, ‘Demi Dia yang telah menurunkan padamu Kebenaran, saya tidak pernah melihat apa-apa padanya (yaitu Aisha) yang akan saya tutup-tutupi, kecuali bahwa ia adalah seorang perempuan muda yang tertidur dan membiarkan adonan roti untuk keluarganya begitu saja sehingga kambing-kambing datang dan memakannya.’”

Muhammad merasa puas dengan jawaban ini, dan kembali kepada orang-orang yang menuduh Aisha. Aisha menceritakan: “Maka, pada hari itu, Utusan Allah naik ke atas mimbar dan mengeluh tentang ‘Abdullah bin Ubai (bin Salul) di hadapan para sahabatnya 24, dan berkata, ‘wahai kamu orang-orang Muslim! Siapakah yang akan melepaskan aku dari orang yang telah menyakit aku dengan pernyataan-pernyataannya yang jahat mengenai keluargaku? Demi Allah, aku tidak tahu apa-apa selain hal yang baik mengenai keluargaku dan mereka telah menyalahkan seorang pria yang padanya hanya kuketahui hal-hal yang baik dan ia tidak pernah masuk ke dalam rumahku kecuali aku ada bersama dengannya’...Sepanjang hari itu saya menangis dengan air mata yang tidak ada habisnya, dan saya tidak pernah bisa tidur. Pada pagi hari saya dan orang-tua saya menangis selama dua malam dan satu hari, dan air mata saya tidak berhenti dan juga saya tidak bisa tidur hingga saya berpikir bahwa hati saya akan meledak karena saya terus menangis.

Sementara orang-tua saya duduk dengan saya dan saya sedang menangis, seorang wanita Ansari minta ijin pada saya untuk masuk, dan saya mengijinkannya masuk. Ia masuk, dan duduk dan mulai menangis bersama saya. Ketika kami sedang menangis, datanglah utusan Allah, memberi salam pada kami lalu duduk. Belum pernah ia duduk dengan saya sejak hari munculnya fitnah itu. Sebulan telah berlalu dan tidak ada Wahyu Ilahi yang turun padanya mengenai masalah saya. Kemudian Utusan Allah membaca Tashahhud (yaitu, La ilaha illallah wa anna Muhammadur- Rasul Allah – tidak ada yang lain yang dapat disembah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah) dan kemudian berkata, ‘Amma Ba’du’ (sekarang langsung ke masalahnya), Wahai Aisha! Aku telah diberitahu begini begitu mengenai engkau; jika engkau tidak bersalah, maka segera Allah akan menyatakan ketidakbersalahanmu, dan jika engkau telah melakukan suatu dosa, maka bertobatlah kepada Allah dan mintalah pengampunan dari-Nya, karena jika seseorang mengaku dosa-dosanya dan meminta pengampunan dari Allah, maka Allah menerima pertobatannya. ”

Sejak itu Aisha mulai bangkit melawan para penuduhnya, bahkan ia mengutip Qur’an sebagai pembelaannya: “Ketika Utusan Allah menyelesaikan perkataannya, airmataku benar-benar berhenti dan tidak ada setetes pun yang tertinggal. Aku berkata kepada ayahku, ‘Jawablah Utusan Allah untukku mengenai apa yang dikatakannya.’ Ayahku berkata, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Utusan Allah’. Kemudian aku berkata kepada ibuku, ‘Jawablah Utusan Allah untukku mengenai apa yang dikatakannya’. Ia berkata, ‘Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Utusan Allah.’ Tanpa mempedulikan kenyataan bahwa aku hanyalah seorang perempuan muda dan hanya mempunyai sedikit pengetahuan mengenai Qur’an, aku berkata ’Demi Allah, tidak diragukan lagi kalau aku mengetahui bahwa kamu telah mendengar perkataan (yang penuh fitnah) ini sehingga sudah tetaplah dalam pikiranmu dan kamu telah menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. Sekarang, jika aku mengatakan padamu bahwa aku tidak bersalah, kamu tidak akan mempercayaiku, dan jika aku membuat pengakuan palsu bahwa aku bersalah, dan Allah mengetahui bahwa aku tidak bersalah, tentu kamu akan mempercayaiku’ (Sura 12:18)...Kemudian aku berpaling ke sisi lain tempat tidurku, berharap bahwa Allah akan membuktikan ketidakbersalahanku.”

Dan Allah melakukannya: “Demi Allah, Utusan Allah tidak bangkit berdiri dan tidak seorangpun meninggalkan rumah itu sebelum Wahyu Ilahi turun kepada Utusan Allah. Lalu, ia dikuasai keadaan yang biasa menguasainya (ketika ia menerima wahyu ilahi). Keringat bercucuran dari tubuhnya seperti mutiara, walaupun hari itu dingin (di musim dingin) dan itu disebabkan oleh beratnya pernyataan yang sedang dinyatakan kepadanya. Setelah keadaan itu berlalu, Utusan Allah bangkit berdiri dan tersenyum, dan kata pertama yang diucapkannya adalah, ‘Wahai Aisha! Allah telah menyatakan ketidakbersalahanmu!’ (Sura 24:11-21).”25

Berikut adalah satu bagian yang panjang dalam Qur’an yang menyatakan ketidakbersalahan Aisha, mengejek orang-orang Muslim karena telah mempercayai tuduhan-tuduhan itu, dan menetapkan standar bagi bukti untuk kejahatan-kejahatan dosa seksual yang tetap menjadi bagian dalam hukum Islam hingga hari ini:
“...Mengapa mereka yang menuduh itu tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itulah pada sisi
Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Sedangkan dia pada sisi Allah adalah suatu yang besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar... ” (Sura 24:11-20).

KONSEKUENSI-KONSEKUENSI
Tentu saja Muhammad mencintai Aisha, dan benar-benar lega ketika wahyu mengenai ketidakbersalahannya datang dari Allah. Tapi di sini, seperti juga dalam kasus Zaynab, nampaknya seakan-akan Allah mengkhususkan Qur’an untuk Nabi-Nya, yang semestinya Qur’an itu adalah berita universal yang dapat diaplikasikan oleh semua orang pada segala waktu dan tempat, dan menjadikannya hanya terlokalisir pada bidang-bidang tertentu saja. Bahkan Aisha sendiri terheran-heran: “Tetapi demi Allah, aku tidak mengira kalau Allah, (akan menyatakan ketidakbersalahanku), menurunkan Wahyu Ilahi yang kemudian dibacakan, karena aku menganggap diriku sangat tidak penting untuk dibicarakan Allah melalui Wahyu Ilahi yang dibacakan, tapi aku berharap bahwa Utusan Allah mendapatkan mimpi yang melaluinya Allah menyatakan ketidakbersalahanku.”26 Sudah tentu, banyak orang lain juga terheran-heran mengenai hal ini selama berabad-abad. Tentu saja dalam kasus ini, seperti juga kasus Zaynab, ada pembenaran yang telah ditetapkan melampaui hasrat Muhammad: orang-orang Muslim diperintahkan melalui kisah Zaynab bahwa seorang pria dapat menikahi janda cerai dari anak angkatnya – tak peduli betapa janggalnya hal itu sehingga diperlukan adanya pengesahan mengenai perkara itu kapan saja, belum lagi sebuah insiden serius yang melibatkan sang Nabi Allah dan wahyu ilahi. Konsekuensi dari hal ini adalah melemahnya adopsi dalam budaya Islam, karena Zayd tidak lagi dikenal sebagai “Zayd bin Muhammad”, tapi sebagai Zayd bin Haritha, yaitu nama dari ayah kandungnya. Qur’an berkata: “Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah...” (Sura 33:5). 27

Tuduhan-tuduhan palsu terhadap Aisha memunculkan persyaratan bahwa 4 saksi pria Muslim harus dihadirkan untuk menentukan sebuah kejahatan perzinahan. Dalam kasus tingkah-laku seksual yang tidak pantas, 4 saksi pria wajib dihadirkan untuk menentukan perbuatan itu – berdasakan wahyu yang datang kepada Muhammad untuk membebaskan dari tuduhan, istrinya yang masih muda (Sura 24:13).28 Dan oleh karena perkataan Aisha tidak berarti apa-apa untuk menentukan kepalsuan tuduhan-tuduhan padanya, demikian pula hingga hari ini hukum Islam meremehkan validasi kesaksian seorang wanita – terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan immoralitas seksual. Qur’an berkata: “...Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu. Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang yang lain mengingatkannya...” (Sura 2:282).

Dan para pakar teori hukum Islam telah meremehkan kesaksian wanita bahkan lebih jauh lagi hingga memba-tasinya, seperti dalam kalimat sebuah buku panduan hukum seorang Muslim, “kasus-kasus yang melibatkan properti, atau transaksi-transaksi berkenaan dengan properti, seperti penjualan.”29

Selain daripada itu hanya pria yang boleh bersaksi. Akibatnya, bahkan hingga hari ini sangat tidak mungkin untuk membuktikan kasus pemerkosaan di negeri yang mengikuti hukum syariah. Pria mana saja dapat melakukan pemerkosaan dan lolos dari jerat hukum: jika mereka menyangkali tuduhan itu dan tidak ada saksi, mereka dapat melenggang bebas, karena penuturan si korban tidak dianggap. Lebih buruk lagi, jika seorang wanita menuduh seorang pria telah melakukan pemerkosaan, akhirnya dialah yang akan dituduh sebagai penjahatnya. Jika tidak ada saksi pria yang dapat dihadirkan, gugatan si korban tentang perkosaan akan berubah menjadi kasus perzinahan. Ini menegaskan kenyataan menyedihkan yaitu sebanyak 75% wanita di penjara Pakistan sebenarnya dipenjarakan karena telah melakukan kejahatan yaitu: menjadi korban perkosaan.30 Beberapa kasus besar di Nigeria baru-baru ini juga berkisar pada tuduhan perkosaan yang diputarbalikkan oleh pihak otoritas Islam menjadi tuduhan percabulan, yang menghasilkan hukuman mati yang baru kemudian dimodifikasi setelah adanya tekanan dunia internasional.31

Lebih jauh lagi, pelecehan-pelecehan semacam itu sangatlah resistan terhadap kritik dan reformasi – masalahnya semua itu berdasarkan pada teladan Nabi, yang adalah teladan sempurna bagi tingkah-laku manusia.

RASA MALU DI JAMAN MODERN
Namun demikian pada saat yang sama, banyak orang Muslim modern dan jurubicara Islam yang benar-benar merasa malu dengan hal ini – atau setidaknya mereka tidak terlalu menginginkan orang untuk banyak mengetahui tentang hal itu. Yahiya Emerick dalam The Life and Work of Muhammad hanya menceritakan bahwa Zaynab bint Jahsh dinikahi oleh Nabi, dan bahwa ia “belum lama berselang telah menceraikan Zayd bin Haritha oleh karena latar-belakangnya yang sederhana.”32 Ia tidak menyebutkan insiden yang melibatkan kebingungan Muhammad melihatnya tidak berpakaian, atau wahyu ilahi yang tertulis dalam Sura 33. Ia mengisahkan Muhammad mengadopsi Zayd dan kemudian dikenal dengan Zayd bin Muhammad, tanpa pernah menyebutkan mandat ilahi yang diterimanya sehingga kemudian mengubahnya menjadi Zayd bin Haritha.33

Muhammad Husayn Haykal, dalam karyanya Life of Muhammad, mengecam “kaum Orientalis” yang menggunakan kisah mengenai Zaynab untuk menghina Muhammad: “Kaum Orientalis Barat dan para misionaris berhenti sejenak untuk memberi angin kepada penolakan dan imajinasi mereka. Dalam pasal mengenai biografi Muhammad ini, beberapa diantara mereka bersusah payah untuk menggambarkan potret Zaynab yang sensual. Mereka mengemukakan bahwa ketika Muhammad melihatnya, waktu itu ia setengah telanjang, bahwa rambut hitamnya yang indah menutupi separuh tubuhnya, dan bahwa setiap lekuk tubuhnya penuh dengan nafsu dan hasrat. Yang lainnya mengemukakan bahwa ketika Muhammad membuka pintu rumah Zayd, hembusan angin menggoyangkan tirai kamar Zaynab, sehingga Muhammad dapat sedikit melihatnya berbaring di tilam dengan mengenakan gaun malamnya. Lalu mereka menceritakan kepada para pembacanya bahwa pemandangan ini menggetarkan hati Muhammad yang sangat berhasrat dalam cintanya dan kesukaannya pada wanita. Mereka mengatakan bahwa Muhammad telah menyembunyikan hasrat rahasianya, walau sulit baginya untuk menyembunyikannya selama itu! Gambaran ini dan juga banyak gambaran lainnya telah dilukiskan terus-menerus oleh para Orientalis dan misionaris dan dapat dibaca dalam tulisan-tulisan Muir, Dermenghem, Washington Irving, Lammens, dan yang lainnya. Tidak dapat disangkali bahwa kisah-kisah ini didasari pada biografi-biografi Muslim dan kitab-kitab Hadith. Tetapi buku-buku ini dapat dipertanyakan. Dan sangat disesalkan bahwa para penulis kita telah menggunakannya dengan kecerobohan. Sangatlah tidak termaafkan bahwa para sarjana ini telah membangun ‘Istana-istana di Spanyol’ berkenaan dengan hubungan Muhammad dengan wanita, istana-istana yang menurut mereka cukup dibenarkan dengan kenyataan bahwa Muhammad mempunyai banyak istri, kemungkinan besar sembilan, atau bahkan lebih, menurut beberapa versi.”

Haykal berespon terhadap hal ini dengan pertama-tama mengemukakan bahwa seandainya pun kisah pernikahan Zaynab dengan Muhammad adalah benar, itu masih tetap “tidak meninggalkan cacat dalam kenabian Muhammad, dalam kebesarannya ataupun ajaranajarannya.”

Mengapa tidak? Karena “peraturan-peraturan yang merupakan hukum bagi sejumlah besar orang tidak diterapkan pada jumlah yang lebih besar lagi. Suatu fortiori, mereka tidak menerapkan pada para nabi, para utusan Tuhan.” Dan di balik pandangan romantis yang mengejutkan ini, “kenyataan bahwa Muhammad bukanlah seorang pria yang penuh dengan nafsu seperti yang digambarkan oleh para Orientalis dan misionaris. Ia tidak menikahi istri-istrinya karena nafsu, hasrat ataupun cinta. Jika beberapa penulis Muslim dalam periode tertentu dalam sejarah telah mengijinkan diri mereka sendiri untuk mengenakan hal-hal seperti
itu kepada Nabi dan oleh karena itu menghadirkan dengan niat baik argumen-argumen untuk para musuh Islam, itu karena sifat mereka yang konservatif menyebabkan mereka mengadopsi cara pandang yang materialistis terhadap segala sesuatu. Dalam cara yang sedemikian mereka menggambarkan Muhammad sebagai yang terbesar dalam segala sesuatu termasuk nafsu dunia ini. Tetapi gambaran yang mereka buat jelas-jelas salah. Sejarah Muhammad terang-terangan menyangkalinya, dan logika kehidupan Muhammad sangat tidak konsisten dengan hal itu.”34

Sebaliknya, Karen Armstrong nampaknya lebih realistis. Ia bahkan mencatat komentar tajam Aisha setelah Muhammad menerima olok-olok ilahinya karena ingin menikahi Zaynab: “Sesungguhnya Tuhanmu bergegas untuk memenuhi permintaanmu.” Tetapi kemudian ia menjelaskan bahwa “orang Muslim di jaman ini menyangkal bahwa Muhammad menikahi Zaynab karena nafsu, dan tentu saja, nampaknya tidak mungkin wanita yang berusia 39 tahun yang telah hidup dalam kekurangan gizi sepanjang umurnya dan merasakan ganasnya matahari di jazirah Arab akan menginspirasikan badai emosi yang sedemikian terhadap payudara seseorang, sekalipun itu adalah seorang sepupu yang telah mengenalnya sejak ia masih kanak-kanak.”35

Namun demikian, hal ini bertentangan dengan kisah-kisah terdahulu, dalam mana seperti yang telah kita lihat, Muhammad benar-benar telah dikuasai oleh badai emosi ketika melihat Zaynab hanya mengenakan bagian dalam gaunnya, dan mengatakan kepada ayah angkatnya bahwa ia akan menceraikan istrinya jika istrinya itu telah “menyenangkan hatinya.”

Berkenaan dengan kabar burung di sekitar Aisha, Armstrong tidak mendiskusikan implikasi-implikasi dari kenyataan bahwa Muhammad tidak akan mempercayai perkataannya, tetapi nampaknya membutuhkan sebuah wahyu ilahi untuk membebaskannya. Ia tidak berfokus pada kejanggalan wahyu itu, dan juga tidak menyebutkan kerugian-kerugian yang jelas terlihat yang diderita oleh kaum wanita Muslim. Sebaliknya, ia melihat “kewibawaan Aisha dalam menghadapi situasi tersebut”, bukti bahwa ada “keyakinan yang dapat Islam berikan kepada seorang wanita.” Armstrong juga tidak menyebutkan kalimat Aisha yang lainnya yaitu: “Aku tidak pernah melihat wanita manapun yang lebih menderita daripada wanita beriman.”37
Dan mereka terus menderita.

Catatan Kaki:
1. Mishnah Sanhedrin 4:5.
2. Parts of this collections were added later, after the time of Muhammad – but not the section containing the material about Abraham. See harry freedman and Maurice Simon, Bereshit Rabbah, Soncino, 1961. Vol. I, xxix.
3. Some may even have tried to fool Muhammad. One man who used to come talk with Muhammad later derided him for perhaps being too credulous in accepting those “tales of the ancients”: “Muhammad is all ears: if anyone tells him anything he believes it.” Once again Allah answered through the Prophet of Islam: “Among them are men who molest the Prophet and say, ‘He is (all) ear.’ Say , ‘He listens to what is the best for you: he believes in Allah, has faith in the Believers, and is a Mercy to those of you who believe.’ But those who molest the Messenger will have a grievous penalty” (Qur’an 9:61). The Qur’an also calls down divine woe upon “those who write the Book with their own hands, and then say: “This is from Allah, ‘to traffic with it for miserable price! Woe to them for what their hands do write, and for the gain they make thereby” (2:79). And when speaking of the People of the Book, Allah tells Muhammad: “As for those who sell the faith they owe to Allah and their own plighted word for a small price, they shall have no portion in the Hereafter. Nor will Allah (deign to) speak to them or look at them on the Day of Judgment, nor will He cleanse them (of sin). They shall have a grievous penalty. There is among
them a section who distort the Book with their tongues: (As they read) you would think it is a part of the Book, but it is no part of the Book; and they say, “That is from Allah,” but it is not from Allah: It is they who tell a lie against Allah, and (well) they know it!... If anyone desires a religion other that Islam (submission to Allah), never will it be accepted of him; and in the Hereafter he will be in the ranks of those who have lost (all spiritual good). How shall Allah Guide those who reject Faith after they accepted it and bore witness that the Messenger was true and that clear signs had come unto them? But Allah guides not a people unjust” (Qur’an 3:77-78; 85-86). Did some of the Jews mock Muhammad’s prophetic pretension by representing their own writings, or folkloric or apocryphal material, as divine revelation, and selling them to him?
4. Bukhari, vol. 9, book 91, no. 6982.
5. Bukhari, vol. 4, book 61, no. 3617.
6. “The Arabic Gospel of the Infancy of the Savior,” 1, Wesley Center for Applied theology, http://wesly.nnu.edu/biblical_studies/noncanon/gospels/infarab.htm.
7. “The Arabic Gospel of the Infancy of the Savior,” 36.
8. Muslim, book 25, no. 5326.
9. “The example of Muslims, Jews and Christians is like the example of a man who employed labourers to work for him from morning till evening. They worked till mid-day and they said, “We are not in need of your reward.’ So the man employed another batch and said to them, ‘Complete the rest of the day and yours will be the wages I had fixed (for the first batch).’ They worked up till the time of the ‘Asr prayer and said, ‘Whatever we have done is for you.’ He employed another batch. They worked for the rest of the day till sunset, and they receive the wages of the two former batches.” Bukhari, vol. 1, book 9, no. 558.
10. W. St. Clair Tisdall, “The Sources of Islam,” in The origins of the Koran: Classic essays on Islam’s holy Book, Ibn Warraq, editor, (New York: Prometheus Books, 1998), 281.
11. Bukhari, vol. 1, book 1, no. 2.
12. Ibn Sa’d, vol. 1, 228.
13. Imam Muslim, Sahih Muslim, Abdul Hamid Siddiqi, trans., Kitab Bhavan, revised edition 2000, book 30, no. 5764.
14. Muslim, book 30, no. 5766 and 5767.
15. Bukhari, vol. 6, book 66, no. 4985.
16. Quoted in Ali Dashti, 23 Years: A Study of the Prophetic Career of Mohammed, F.R.C. Bagley, translator, (Costa Mesa:Mazda Publisher, 1994), 132.
17. Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Tabari, The History of al-Tabari, Volume VIII, The Victory of Islam, Michael Fishbein, translator, (New York:State University of New York Press, 1997), 2.
18. Bukhari, vol. 9, book 97, no. 7420. “Behold! Thou didst say to one who had received the grace of Allah and thy favor [Zaid]: ‘Retain thou (in wedlock) thy wife, and fear Allah.’ But thou didst hide in thy heart that which Allah was about to make manifest: thou didst fear the people, but it is more fitting that thou shouldst fear Allah. Then when Zaid had dissolved (his marriage) with her, with the necessary (formality), We joined her in marriage to thee.” Why? ”In order that (in future) there may be no difficulty to the Believers in (the matter of) marriage with the wives of their adopted sons, when the latter have dissolved with the necessary (formality) (their marriage) with them. And Allah’s command must be fulfilled.”
19. Tabari, vol. 8, 3.
20. Bukhari, vol. 9, book 97, no. 7420.
21. Ibn Kathir, Tafsir Ibn Kathir (Abridged), volume 7, Darussalam, 2000, 698.
22. This is a prayer said at a time of distress.
23. Bukhari, vol. 4, book 55, no. 2741.
24. The followers of Muhammad during his lifetime are known as his Companions. The Companions fall into two group: al-Muhajiroun, or the emigrants from Mecca, and al-Ansar (helpers), the inhabitants of Medina who took in those emigrants after the Muslim’s flight (hijra) from Mecca to Medina. The Aws and Khazraj were two Ansari tribes.
25. Bukhari, book 5, vol. 64, no. 4141.
26. Bukhari, vol. 9, book 97, no. 7500.
27. Zihar was a pre-Islamic method of divorce, whereby a man would declare that his wife was to him like the back of his mother.
28. See also Bukhari, vol. 3, book 52, no. 2661.
29. Ahmed Ibn Naqib al-misri, Reliance of the Traveller [‘Umdat al-Salik]: A Classic Manual of Islamic Sacred Law, translated by Nuh Ha Mim Keller. Amana Publications, 1999, o24.8.
30. See Sisters in Islam, “Rape, Zina, and Incest,” April 6, 2000, http://www.muslimtent.com/sisterinislam/resources/sdefini.htm.
31. See Stephen Faris, “In Nigeria, A Mother faces Execution,” www.africana.com, January 7, 2002.
32. Emerick, 213.
33. Emerick, 52.
34. Muhammad Husayn Haykal, The Life of Muhammad, Isma’il Razi A. al-Faruqi, translator, 1968. Http://www.witness-pioneer.org/vil/Books/MH_LM/default.htm.
35. Karen Amstrong, Muhammad: A Biography of the Prophet, (San Francisco: Harper San Francisco, 1992), 197.
36. Ibid., 202
37. Bukhari, vol. 7, book 77, no. 5825.

=================
INI DAFTAR BUKU BAGUS YANG SEBAENYE LO BELI N BACA. HA...7X
1. CHRIST, MUHAMMAD AND I by Mohammad Al Ghazoli 
  by Mark A. Gabriel
by Craig Winn 
4. LEFT BEHIND by Jerry B. Jenkins 
5. LEFT BEHIND by Tim F. LaHaye 
6. ISLAMIC INVASION by Robert A. Morey 
8. Antichrist: Islam's Awaited Messiah by Joel Richardson 
11. Islam: In Light of History By Rafat Amari
14. The Torn Veil by Gulshan Esther 
15. Why I Am Not a Muslim by Ibn Warraq 
16. Why I Am Not A Moslem by Dr. Peter S. Ruckman 
20. Islam And The Jews: The unfinished battle by Mark A. Gabriel 
22. Slavery, Terrorism and Islam by Peter Hammond 
24. Islam Exposed by Floyd McElveen 
27. The Destiny of Islam in the End Times by Faisal Malick 
28. 10 Amazing Muslims Touched by God by Faisal Malick 
32. The Hidden Life of The Prophet Muhammad by Dr. A. A. Ahmed 
34. Islam in the End Times by Ellis H. Skolfield
35. Muhammad is The Antichrist by Cole Steele 
36. Islam - The Dark Night Of Humanity by G. P. Geoghegan 
38. What the Koran Really Says by ibn warraq
    43. Iran: Desperate for God by The Voice of the Martyrs 


LO CUKUP BACA BEBERAPA AJE DARE REKOMENDASI BUKU DI ATAS. MAKA LO AKAN KAGET NGELIAT BETAPA JAHATNYE ESLAM. HA...7X

YAH JELAS JAHAT LAH KARNA ALLAH SWT ADALAH IBLIS N MAMAD ADALAH ANTIKRIS. HA...7X

SEBENERNYE SIH, ALLAH SWT PIKTIP ALIAS BERHALA DEWA BULAN ARAB N DI ISRAEL NAMANYE BAAL. HA...7X

N JIBRIL ADALAH IBLIS YANG MENYAMAR SBAGE MALAIKAT TERANG.

2 KORINTUS 11:14-15

14 Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang. 

15 Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka. 


FATHER - GOD

Yesus.
 1. Jesus Christ: The Real Story by United Church of God 
6. Jesus Humanity and the Trinity by Kathryn Tanner
9. Jesus Christ, Disciplemaker by Bill Hull 
11. Life of Christ by Fulton J. Sheen 
16. The Cross of Christ by John Stott 
17. Jesus for the Non-Religious by John Shelby Spong


Trinity.
3. Trinity by Joseph F. Girzone
8. The Trinity (Guides to Theology) by Roger E. Olson
9. The Biblical Doctrine of the Trinity by B.B. Warfield 


Holy Spirit.
1. Good Morning, Holy Spirit by Benny Hinn 
3. Baptism in the Holy Spirit by Derek Prince 
4. Experiencing The Holy Spirit by MURRAY ANDREW 
7. 7 Things The Holy Spirit Will Do In You by Pastor Chris Oyakhilome PhD 




others.
1. The Purpose Driven Life by Rick Warren 
3. The World On Fire by Rick Joyner 
5. The Final Quest by Rick Joyner 
7. Epic Battles of the Last Days by Rick Joyner 
8. The Prophetic Ministry by Rick Joyner 
9. The Harvest by Rick Joyner 
11. He Came To Set The Captives Free by Rebecca Brown 
12. Becoming A Vessel Of Honor by BROWN REBECCA 
13. Prepare For War by BROWN REBECCA 
14. The Gifts of the Body by Rebecca Brown 
15. Unbroken Curses by Rebecca Brown 
16. Church of Lies by Flora Jessop 
19. When God's Purpose Becomes Personal by Matthew Omaye Ajiake 
Buy new: $14.39 / Used from: $7.95
22. Blessing or Curse: You Can Choose by Derek Prince 
23. Secrets of a Prayer Warrior by Derek Prince 
24. Does Your Tongue Need Healing? by Derek Prince 
27. Entering The Presence Of God by Derek Prince 
33. Snakes in the Lobby by Scott MacLeod 
34. Why I Am A Christian by John Stott
36. Demons in the Church by Ellis H. Skolfield


41. The Bible Code by MichaelDrosnin 
42. Bible Code II: The Countdown by Michael Drosnin 
43. Bible Code III: Saving the World by Michael Drosnin 
45. Bible Code Bombshell by R. Edwin Sherman 





KALO MO NGELIAT YANG LEBIH BANYAK MAKA KLIK DI SINI :


---------------------------------


My blogs are now at the click of a variety of countries including Indonesia, the United States, Britain, Germany, France, Russia, Canada, India, Japan, Saudi Arabia, United Arab Emirates, Syria, Egypt, Australia, New Zealand, Malaysia, Brunei Darussalam, Hongkong, Singapore, China, Taiwan, Argentina, Colombia, Serbia, Morocco, Algeria, Brazil, Moldova, Macedonia, Netherlands, Spain, South Korea, Timor Leste, Norway, Belgium, Romania, Vietnam, Bulgaria, Albania, Azerbaijan, Mexico, Venezuela, Swedish, Irish, Turkey, Italy, Cile, Austria, and others.

Here's a list of my blogs:



so help me with prayer and purchase books written by me.

Here's a list of my books: 


English Version :


BELI BUKU GUE NYOK. ha...7x
Biar gue bisa full time menyebarkan injil.
BIAR NAMA YESUS DITINGGIKAN DAN DIMULIAKAN DI SELURUH BUMI. HA...7X

Filipi 2:5-11
5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 
7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 
10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 
11 dan segala lidah mengaku: ''Yesus Kristus adalah Tuhan,'' bagi kemuliaan Allah, Bapa! 

TRANSFER UANG PEMBELIAN BUKU/HAK LISENSI KE :

Richard Nata
Bank Central Asia, Tbk, Indonesia
002-157-6394

SETELAH ITU KIRIM EMAIL DISERTAI BUKTI TRANSFER KE  
guerich007@gmail.com

ATAU SMS KE 62-8889910822 ( SMS ONLY, NO PHONE CALL ).

Jangan lupa, beritahukan buku apa yang anda beli dari kami.

LORD JESUS BLESS YOU

AMEN


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...