purchase books written by me.

purchase books written by me.
harga buku Rp. 21.000,- atau US$ 7.00

Thursday, August 31, 2017

Alasan Mengapa Muhammad Benci Anjing

Mengapa Anjing Harus Dibenci

Mengapa anjing sangat direndahkan di dunia muslim?
Mengapa tradisi muslim mempersulit sedemikian rupa untuk memelihara anjing di rumah anda?
Mengapa, misalnya, seorang supir taksi muslim menolak orang buta dan anjingnya untuk masuk ke dalam taksinya?


Sudah menjadi tradisi di lingkungan muslim  dimana-mana memandang dan memperlakukan anjing sebagai binatang yang kotor, haram, sehingga jika kita menyentuh anjing pemahamannya adalah wudhu kita menjadi batal, dan menyentuh anjing membuat kita tidak suci lagi. Bahkan anjing harus dikutuk sebagi jelmaan iblis dan harus dibasmi. Najis besar dari air liur, seluruh tubuh dan bulu-bulunya, mungkin juga bekas tapak kakinya.

Semua itu bukan didasarkan pada ayat Al-Quran tetapi didasarkan dari sunnah nabawiyah. Kalau anda cari di dalam Al-Quran, tidak akan didapat dalilnya.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Bila seekor anjing minum dari Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Sucinya wadah kalian yang dimasuki mulut anjing adalah dengan mencucinya 7 kali." Dan menurut riwayat Ahmad dan Muslim disebutkan salahsatunya dengan tanah." (HR Muslim 279, 91, Ahmad 2/427)

Bahwa Rasululah SAW diundang masuk ke rumah salah seorang kaum dan beliau mendatangi undangan itu. Di kala lainya, kaum yang lain mengundangnya dan beliau tidak mendatanginya. Ketika ditanyakan kepada beliau apa sebabnya beliau tidak mendatangi undangan yang kedua, beliau bersabda, "Di rumah yang kedua ada anjing sedangkan di rumah yang pertama hanya ada kucing. Dan kucing itu itu tidak najis." (HR Al-Hakim dan Ad-Daruquthuny).

Dari riwayat Imam Muslim, terjemahan bebas riwayat tersebut begini : "Rasul telah memerintahkan kepada kita untuk membunuh anjing. Sampai [suatu saat] datanglah seorang wanita badui dengan membawa anjingnya, lalu ingin membunuhnya, begitu dia ketahu adanya perintah Rasul sebelumnya. Tapi, Rasul melarang dan bersabda : [Diwajibkan] atas kalian [cukup] membunuh anjing hitam yang memiliki dua bintik di matanya, sebab itu [bukan anjing melainkan] syetan.

Hadits yang menceritakan penantian Rasul atas Jibril, tapi ternyata Jibril tidak mau masuk ke kediaman Rasul karena di dalamnya ada anjing. 'Kami tidak [mau] masuk rumah yang ada anjing dan gambar', demikian alasan Jibril tidak mau menemui Rasul SAW. [Dalam riwayat Bukhori melalui Abu Tholhah].

“Apabila kamu mendengar ayam jago berkokok (di waktu malam), mintalah anugerah kepada Allah, sesungguhnya ia melihat Malaikat. Jika kalian mendengar lolongan anjing dan ringkikan keledai pada malam hari maka berlindunglah kepada Allah darinya karena ia melihat setan yang tidak dapat kalian lihat.”

(HR. Abu Dawud no. 5103, Ahmad 3/306, 355-356 Shahih al-Adabul Mufrad no. 937 serta Ibnu Sunni no. 311 dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu.)

Anjing adalah mahluk ciptaan Allah yang sangat luar biasa. Mereka sangat dekat dengan manusia, melindungi dan melayani manusia semenjak manusia ditempatkan di bumi ini. Jadi apakah masuk akal jika nabi Muhammad atau rasul Allah yang manapun melarang dan mengharamkan mahluk seperti ini padahal Allah sendiri tidak pernah melarangnya?

Wahai nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu?

Wassalam.

Kita semua tahu bahwa Muhammad sangat membenci anjing dari ahadis:
Image
Selama ini kita tidak tahu asal-usul mengapa Muhammad benci anjing. Keterangan dari As Suyuthi ini menjelaskan asal-usul kebenciannya.
Image
Image
Bayangin betapa joroknya si Mamad. Bau bangkai mamalia itu sangat menyengat, tapi rupanya Muhammad malah doyan dengan aromanya sehingga mendiamkan saja bangkai binatang berhari-hari di kolong ranjangnya. Orang sehat normal mana coba yang gak bisa mencium bau bangke mamalia di kolong ranjangnya ndiri? Bukti lain Muhammad senang aroma busuk bisa dilihat di sini:
Muhammad senang bau darah menstruasi
Hadis Sahih Bukhari, Volume 9, Book 93, Number 639:
Narrated ‘Aisha:
The Prophet used to recite the Quran with his head in my lap while I used to be in my periods (having menses).
bhs Indonya:
Dikisahkan oleh Aisyah:
Nabi sering melafalkan Qur’an dengan menyandarkan kepalanya di pahaku saat aku lagi mens.

Image
Ini bukti tambahan dari Abu Daud:
Sunaan Abu Dawud: Book 1, Number 0270:
Narrated Aisha, Ummul Mu’minin:
Aisha said “ One night Prophet of Allah entered (upon me) while I was menstruating He said: Come near me. I said: I am menstruating. He said: Uncover your thighs. I, therefore, uncovered both of my thighs. Then he put his cheek and chest on my thighs and I lent upon him until he became warm and slept.
It seems that he had also recited Quran before falling asleep.
bhs Indonya:
Dikisahkan oleh Aisyah:
Aisyah berkata, “Di suatu malam, Nabi mengunjungiku saat aku lagi mens. Katanya: Kesini dekat aku. Aku berkata: Aku lagi mens tuh. Dia bilang: Buka pahamu. Karena itu aku lalu membuka kedua pahaku. Lalu dia menempelkan pipinya dan dadanya ke paha2ku dan aku membiarkannya sampai dia jadi hangat dan tertidur.
Bau bangke anjing, bau darah mens ternyata sangat disukai Nabi.

Asbabun Nuzul Surah Ad Dhuha

Syaikhain atau Imam Bukhari dan Imam Muslim serta selain keduanya, semuanya mengetengahkan sebuah hadis melalui Jundab yang menceritakan, bahwa Nabi saw. mengalami sakit, karena itu beliau tidak melakukan salat malam selama satu atau dua malam.

Lalu datang kepadanya seorang wanita seraya berkata, "Hai Muhammad! Aku tidak berpendapat lain kecuali aku yakin bahwasanya setanmu itu telah meninggalkanmu." Maka Allah menurunkan firman-Nya, "Demi waktu Dhuha, dan demi malam apabila telah sunyi. Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tidak (pula) benci kepadamu." (Q.S. Adh Dhuhaa 1-3).

Ad: Main Facebook dan Twitter Dapat Uang, Pulsa, Sekaligus Sedekah. Caranya..? Silahkan KLIK DI SINI
Imam Sa'id bin Manshur dan Imam Faryabi kedua-duanya mengetengahkan sebuah hadis melalui Jundab yang menceritakan, bahwa malaikat Jibril sudah cukup lama tidak muncul kepada Nabi saw. Maka orang-orang musyrik mengatakan, "Muhammad telah ditinggalkan." Lalu turunlah ayat tadi.

Imam Hakim mengetengahkan sebuah hadis melalui Zaid bin Arqam r.a. yang menceritakan, bahwa Rasulullah saw. tinggal selama beberapa hari tanpa ada wahyu yang turun kepadanya. Maka Umu Jamil istri Abu Lahab mengatakan, "Aku tiada berpendapat melainkan bahwa temanmu itu (yakni malaikat Jibril) telah meninggalkanmu dan membencimu." Lalu Allah menurunkan firman-Nya, "Demi waktu Dhuha..." (Q.S. Adh Dhuhaa 1, dan beberapa ayat berikutnya).

Imam Thabrani dan Imam Ibnu Abu Syaibah di dalam kitab Musnad, juga Imam Wahidi serta lain-lainnya, semuanya mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang di dalamnya terdapat seseorang perawi yang identitasnya masih belum dikenal. Hadis ini diketengahkan melalui Hafsh bin Masirah Al Qurasyi, kemudian Hafsh menerimanya dari ibunya, ibu Hafsh menerimanya dari ibunya yang bernama Khaulah. Khaulah ini menjadi pelayan Rasulullah saw.; ia telah menceritakan, bahwa ada seekor anak anjing memasuki rumah Nabi saw. lalu anak anjing itu memasuki kolong ranjang beliau, dan anjing itu mati di situ.

Maka Nabi saw. tinggal selama empat malam tanpa ada suatu wahyu pun yang turun kepadanya. Nabi saw. berkata, "Hai Khaulah! Apakah gerangan yang telah terjadi di dalam rumah Rasulullah, Jibril sudah cukup lama tidak berkunjung kepadaku?" Kemudian aku berkata di dalam hati, "Seandainya aku bersihkan terlebih dahulu rumah ini alangkah baiknya." Segera aku menyapu rumah, lalu aku membungkukkan badanku untuk membersihkan bawah kolong ranjang dengan sapu, lalu aku mengeluarkan bangkai anak anjing dari kolong ranjangnya.

Ketika Nabi saw. datang, tiba-tiba tubuhnya bergetar sehingga pakaian jubah yang disandangnya pun ikut bergetar. Sesungguhnya Nabi saw. apabila turun wahyu kepadanya, maka tubuhnya tampak gemetar, lalu Allah menurunkan firman-Nya, "Demi waktu Dhuha..." (Q.S. Adh Dhuhaa, 1) sampai dengan firman-Nya, ."..lalu (hati) kamu menjadi puas." (Q.S. Adh Dhuhaa, 5).

Sehubungan dengan hadis di atas Hafiz Ibnu Hajar memberikan komentarnya bahwa, kisah mengenai terlambatnya malaikat Jibril disebabkan adanya anak anjing, hadis mengenai kisah ini sudah terkenal, hanya saja keadaan hadis tersebut kalau dianggap sebagai Asbabun Nuzul ayat ini, maka hal ini garib yakni, aneh bahkan Syadz dan ditolak karena ada bukti yang menyanggahnya di dalam kitab sahih.

Imam Ibnu Jarir mengetengahkan sebuah hadis melalui Abdullah bin Syaddad, bahwa Siti Khadijah berkata kepada Nabi saw., "Sesungguhnya aku melihat bahwa tiada lain Rabbmu telah meninggalkan kamu." Lalu turunlah ayat tersebut. Imam Ibnu Jarir mengetengahkan pula hadis lainnya melalui Urwah yang menceritakan, bahwa malaikat Jibril terlambat datang kepada Nabi saw., maka Nabi saw. merasa sangat berduka cita.

Selanjutnya Siti Khadijah berkata, "Sesungguhnya aku memandang bahwa Rabbmu membencimu karena sikapmu yang selalu kelihatan berduka cita itu", lalu turunlah ayat tersebut. Kedua hadis tersebut perawinya adalah orang-orang yang dapat dipercaya dan predikat kedua hadis tersebut sama-sama mursal.

Hafiz Ibnu Hajar memberikan komentarnya, menurut pendapat yang kuat ialah bahwa masing-masing dari Umu Jamil dan Siti Khadijah benar-benar mengatakan hal tersebut. Hanya saja Umu Jamil mengatakannya atas dorongan kebencian, sedangkan Siti Khadijah mengatakannya karena ikut berduka cita.
Wednesday, 31 May 2017

KISAH – Nabi Musa dan Bangkai Seekor Anjing


Light-through-tree
IslamIndonesia.id – KISAH – Nabi Musa dan Bangkai Seekor Anjing

Sebagaimana tergambar dalam berbagai ayat Al-Quran, Nabi Musa As. merupakan Nabi yang paling banyak bercakap-cakap langsung dengan Allah Swt. Sekaligus, Nabi yang diberikan padanya Kitab Taurat itu konon juga menjadi yang paling banyak ditegurTuhan.
Alkisah, Allah suatu kali berfirman, “Musa, temukan seseorang atau sesuatu yang lebih rendah derajatnya darimu, dan bawalah ia padaKu.”
Memenuhi perintah Allah itu, Nabi Musa pun mulai berkeliling mencari, namun apa dikata, sulit sekali baginya menemukan orang atau benda yang derajatnya lebih rendah dari dirinya. Setiap kali bertemu orang, Nabi Musa berpikir: Tak mungkin ia lebih rendah dariku. Pasti ia punya banyak kebaikan, sedang aku masimemiliki banyak kelemahan.
Begitupun setiap kali akan mengambil sebuah benda, selalu terbetik dalam benak Nabi Musa bahwa benda itu pasti memiliki manfaat, jadi tak mungkin derajatnya lebih rendah darinya. Akhirnya Nabi Musa memutuskan untuk kembali menghadap Allah Swt. dengan tangan hampa, untuk melapor pada Sang Maha Agung bahwa ia tak menemukan orang atau benda yang lebih rendah darinya.
Dalam perjalanan menghadap Allah itulah, di tengah jalan Nabi Musa menemukan bangkai seekor anjing yang sudah hancur dan berbau menyengat. Sejenak Nabi Musa sempat berpikir, “Bangkai anjing ini pasti lebih rendah derajatnya dariku,” tetapi kemudian bangkai itu dilepaskannya kembali.
Nabi Musa pun meneruskan perjalanan menghadap Allah, dan melaporkan kegagalannya, “Hamba tak mampu menemukan satu pun makhluk di dunia ini yang lebih rendah derajatnya daripada hamba.”
“Bahkan bangkai anjing pun hamba rasa masih lebih baik dari hamba,” lanjut Nabi Musa.
Mendengar perkataan rasulNya itu Allah berfirman: “Musa, andai tadi jadi kau pungut bangkai anjing itu dan membawanya padaKu sebagai yang lebih rendah derajatnya darimu, maka akan Kucabut kenabian darimu.”
Bayangkan, bahkan Allah Swt. pun melarang seorang nabi (seorang Nabi!) merasa lebih tinggi dari bangkai seekor anjing yang sudah hancur dan bau. Lantas bagaimana mungkin kita yang hanya manusia biasa, berhak mengatakan bahwa diri kita lebih tinggi ketimbang sesama makhluk Tuhan yang lain?
Kisah Guru Sufi Junaid barangkali relevan untuk melengkapi Kisah Nabi Musa dan Bangkai Anjing ini.
Pada suatu hari, Junaid berpapasan dengan seekor anjing, dan Guru Sufi itu menepi untuk memberi jalaan lebih dulu pada binatang itu.
Melihat sikap gurunya, murid-murid Junaid memprotes, “Engkau seorang Guru Sufi yang mulia, mengapa menyisih dan memberi jalan pada seekor binatang najis?”
Dengan tenang Junaid menjawab, “Saat berpapasan tadi, anjing itu bertanya padaku, ‘apa dosaku di awal penciptaan hingga diciptakan jadi seekor anjing, dan apa jasaatau kebaikanmu di awal penciptaan hingga kau dijadikan manusia?’ Aku tak mampu menjawabnya, maka aku beri ia jalan lewat terlebih dahulu.”
Begitulah, kisah-kisah yang barangkali membawa kita pada firman Allah Swt.:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa….”(QS. 49:13)
(Disarikan dari ceramah Dr. Haidar Bagir pada Ramadhan 1434 H, dengan tambahan seperlunya.)

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...