purchase books written by me.

purchase books written by me.
harga buku Rp. 21.000,- atau US$ 7.00

Sunday, March 19, 2017

Sedikit Ttg Strategi Ahok Di Putaran 2 Pilkada DKI

Add to Favorite
0

Chirpstory

pedopil n sodomi - warisan nabi PALSU mamad ke negara2 eslam

Biadab, Pedofil dan Sodomi Sudah Jadi Budaya di Beberapa Negara Islam Ini !!!

 50
Beberapa hari yang lalu kita dikejutkan oleh kasus pedofil yang sangat aktif di dunia maya dengan nama grup “Loly Candy”. Yang jadi sasarannya tentu anak yang masih polos dan mudah diiming-imingi hadiah permen, coklat, dan mainan, yaitu anak berusia 2 hingga 13 tahun.  Saat sebuah tv swasta mewawancarai pelakunya, seorang dari mereka mengungkap pernah melakukan kekerasan seksual pada anak usia 2 tahun.
Saat menonton berita itu, saya sebagai ibu, sangat geram dan rasanya ingin teriak sambil mencakar muka si pelaku. Bayangkan, anak usia dua tahun yang masih bau bayi, jalan masih belum tegap, giginya belum genap, bicaranya masih seputar mama-papa-maem itu tega diporotin pampers dan celananya, dipaksa mengangkang untuk dimasuki ‘sesuatu’ ke lubang vagina atau anusnya. Saya tak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang didera balita tak berdosa yang jadi korban tersebut. Saya marah membayangkan kencang tangisan si kecil yang lemah tak berdaya. Sungguh biadab si pelakunya. Hukuman mati bahkan tak cukup baginya!!!
Jika pedofil baru terungkap di Indonesia belakangan ini dan menjadi ketakutan luar biasa bagi para ibu, maka pedofil dan praktek sodomi telah mengakar kuat di beberapa negara, yaitu Pakistan dan Afghanistan. Dua negara yang menerapkan hukum Islam sebagai bentuk pemerintahannya, ternyata menyembunyikan segudang kekejaman dan kemaksiatan.
Afghanistan semula negara demokratis berubah menjadi Emirat Islam Afghanistan, sedangkan Pakistan menggunakan nama Islamic Republic of Pakistan. Menjadi negara Islam rupanya bukan hal baik terlebih bagi anak lelaki yang tinggal di daerah tersebut. Perang berkepanjangan dan kemiskinan menyebabkan anak laki-laki diperjual-belikan dan dijadikan budak seks. Ya, bahkan dua negara ini bahkan menjadikan pedofil dan praktek sodomi sebagai budaya. Praktik ini disebut “Bacha Bazi”. Dan tragisnya, praktek seperti ini dilindungi oleh polisi!
Saat saya masih kuliah di Libya, sekitar tahun 2010, saya disodori film “The Dancing Boys of Afghanistan” oleh seorang teman dari India. Ini adalah sebuah film dokumenter yang mengungkap kekejaman praktik pedofil anak dan sodomi, atau Bacha Bazi yang marak terjadi di Afghanistan dan Pakistan. Dalam bahasa Persia ‘Bacha’ artinya dengan anak laki-laki, sedangkan Bazi berarti mainan. Artinya melakukan seksual atau sodomi dengan anak lelaki.  Dalam film tersebut dikisahkan bagaimana anak lelaki dibeli dari keluarganya, lalu dipaksa melayani lelaki yang punya seks menyimpang. Anda bisa menontonnya di Yotube saat ini.

Praktik Bacha Bazi ini telah dilakukan sejak lama dan sangat mengerikan, dan puncaknya setelah Afghanistan dikuasai pasukan Taliban. Mereka memaksa perempuan memakai burqa (pakaian tertutup hanya terlihat kedua buah bola mata) dan sangat memperlakukan deskriminasi terhadap para perempuan. Menari, menyanyi, bekerja, haram dilakukan perempuan. Imbasnya sex dilampiaskan pada anak lelaki yang berumur enam hingga belasan tahun. Lelaki yang menjadi Bacha Bazi tidak diperkenankan menumbuhkan kumis dan jenggot, dan ini neraka bagi mereka. Selayaknya perempuan, mereka dipaksa memakai gaun tari, dipakaikan lonceng kecil di tangan nya, dan melakukan tarian gemulai ditengah lelaki srigala yang penuh hawa nafsu. Untuk menarik minat, wajah mereka juga dipolesi kosemteik.  Lelaki dewasa yang menontonnya yang berhasrat akan membawa pulang si anak untuk disetubuhi.
Anak-anak ini biasanya dibeli dari keluarga yang miskin. Mereka dijanjikan pendidikan dan uang. Tapi apa yang terjadi? mereka dipekerjakan oleh lelaki bejat. Ditawarkan kepada lelaki dewasa lain untuk dipaksa sodomi. Film dokumenter lain pernah menayangkan (saya lupa judulnya) bahwa anak laki-laki tersebut bahkan sampai meringis kesakitan karena dubur nya berdarah-darah akibat perlakuan kasar pelaku sodomi.
Mereka tak hanya memasukkan penis  ke lubang dubur si anak, bahkan alat alat tumpul lain untuk fantasi seks mereka. sebagian anak sampai tak bisa berdiri karena menahan sakit. Bagi lelaki buas itu, semakin si anak merintih kesakitan, semakin besar pula hasrat seksualnya. Jika si anak tidak mau, siap-siap besi panas akan dimasukkan ke lubang duburnya biadab! Sangat biadab!!! Laknatullah Alaih (semoga Allah melaknat mereka). Tak heran anak korban sodomi bahkan sampai harus memakai narkoba karena tekanan fisik yang mereka dapatkan. Ketika dewasa mereka akan balas dendam dengan merekrut anak kecil lain untuk dijadikan korban. Oleh sebab itu Bacha Bazi ini menjadi rantai yang tak pernah putus. Lihat videonya: klik di sini.
Dan anda tau siapakah mereka yang sangat doyan sodomi ini? Tak lain adalah pasukan Taliban. Ya, mereka yang katanya berjihad membela Islam justru melakukan hal yang sangat menjijikkan dan tidak manusiawi.  Kelompok ini ditakuti di Afghanistan dan Pakistan. Perbuatan mereka bahkan  dilindungi oleh polisi, sebab polisi pun tak mampu menindak mereka. Yang sangat menyedihkan tentu kaum ibu yang telah melahirkan anak lelakinya. Mereka tak kuasa melepas anaknya karena kelaparan dan kemiskinan. Dnegan harapan sang anak hidup layak, meski kenyataannya sang anak malah akan tersiksa karena kelakuan keji tentara Taliban dan laki-laki brengsek lainnya.
Para istri disana tak mampu menghalangi suami yang melakukan sodomi pada anak. Para suami di sana tidak pernah mendengarkan para istri, mereka hanya berbuat sekenanya. Sungguh sangat kontras kehidupan kaum Taliban di Pakistan, saat siang mereka beribadah, sholat, mengaji, dan berjihad. Tapi saat malam mereka menghadiri pesta Bacha Bazi dan sangat menikmati sodomi dengan anak dibawah umur. Para lelaki di dua negara ini bahkan dicap kuat jika punya banyak ‘anak lelaki simpanan’. Seorang yang sangat kaya bahkan bisa punya ribuan Bacha Bazi. (Silakan googling dengan kata kunci Bacha Bazi in Afghanistan and Pakistan, maka anda akan menemukan ratusan artikel dan film pendek terkait praktik laknat ini).
Jika perlakuan pedofil, homo, dan sejenisnya dianggap dosa besar dan sangat dilaknat oleh Allah, maka di negara yang mengusung hukum Islam ini malah dilindungi. Indonesia menjadi negara yang ingin diobok-obok oleh orang yang mengaku Islam Wahabi. Mereka berusaha menjadikan Indonesia sebagai negara Islam layaknya Afghanistan dan Pakistan. Dan bukan tak mungkin praktik “Bacha Bazi’ ini masuk ke Indonesia jika negara ini telah dikuasai oleh orang-orang radikal. Karena itulah sesepun dan Kyai NU sedang melakukan upaya memberangus pemahaman radikal dan menolak mati-matian Indonesia menjadi negara Islam dengan mengembalikan Islam dimana agama sangat lentur pada budaya dan kearifan lokal.
Tolonglah, jika kalian tidak mau Indonesia menjadi kandang sodomi, jangan pilih pemimpian yang dibelakangnya didukung oleh kelompok radikal yang menginginkan khilafah Islam atau Indonesia bersyariah. Sungguh saya tak mampu membayangkan nasib anak-cucu kita kelak.
Tulisan lain bisa dibaca di: klik di sini atau FB : AnisatulFadhilah
22650 total views, 22650 views today
sumber: https://seword.com/umum/biadab-pedofil-dan-sodomi-sudah-jadi-budaya-di-beberapa-negara-islam-ini/SLAEN NEGARA DI ATAS, IRAN N ARAB SAUDI JUGA PENUH MA PEDOPIL N SODOMI. BAHKAN AYATULLAH KHOMEINI JUGA PELAKU PEDOPIL N SODOMI.

Monday, March 13, 2017

Usaha Penghapusan Kekristenan Dalam Sejarah Timur Tengah

Usaha Penghapusan Kekristenan Dalam Sejarah Timur Tengah

Sementara Kekristenan secara terus-menerus dihapuskan secara fisik dari Timur Tengah, tidak banyak yang tahu bahwa kedudukan historis dan keberadaan Kekristenan secara sistematis juga berusaha dihapuskan dari ingatan.
Pertengahan 2016 lalu sebuah video muncul yang menayangkan anggota Negara Islam, ISIS, melemparkan ratusan buku-buku Kristen, kebanyakan di antaranya dengan hiasan salib, ke dalam api unggun. Seperti dilaporkan, ISIS “membakar buku-buku Kristen dalam suatu usaha untuk menghapuskan seluruh jejak-jejak” Kekristenan dari wilayah kuno Mosul, dimana Kekristenan dulunya berkembang selama berabad-abad sebelum kebangkitan Islam.
ISIS pada akhirnya merupakan contoh ekstrem dari pendekatan normatif Islam, yang juga dikonfirmasi dalam konferensi di Amman, Yordania yang diadakan oleh Pusat Studi Politik Yerusalem. Sementara presentasi, Dr. Hena al-Kaldani, seorang Kristen, mengatakan bahwa “terjadi penghapusan total terhadap sejarah Kekristenan Arab di dalam zaman pra-Islam,” “banyak terjadi kesalahan-kesalahan historis,” dan “lompatan-lompatan sejarah yang tidak dapat dibenarkan di dalam kurikulum Yordania kami.” “Buku-buku pelajaran kelas sepuluh menghilangkan sebutan apa pun terhadap Kristen atau sejarah gereja di wilayah itu.” Kapan pun Kristen disebutkan, itu dihilangkan dan disebar-luaskan karakterisasi yang salah, termasuk penggambaran bahwa Kekristenan itu merupakan suatu usaha kolonisasi dari negara Barat (asing),” kata al-Kaldani.
Minoritas Kristen di wilayah Timur Tengah – tidak hanya di Yordania – telah lama mengerti bahwa pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah umum, biasanya memberangus warisan Kristen di wilayah tersebut, dan sebaliknya mengagung-agungkan Islam.
graphic
“Ini kedengarannya aneh, tapi Muslim kurang lebih tidak tahu apa-apa tentang Kristen, meskipun mereka adalah mayoritas populasi dan bahkan merupakan orang-orang Mesir asli,” kata Kamal Mougheeth, seorang pensiunan guru di Mesir. “Mesir adalah wilayah Kristen selama enam hingga tujuh abad sebelum invasi Muslim sekitar tahun 640. Hal yang menyedihkan adalah selama bertahun-tahun, buku-buku sejarah melompat dari zaman Cleopatra lalu ke penaklukan Muslim di Mesir. Era Kekristenan tidak disebutkan. Hilang. Seluruhnya gelap.”
Ini sangat sesuai dengan yang diceritakan para orang tua, bekas murid sekolah di Mesir, mengenai pengalaman pelajaran sejarah di kelasnya kira-kira lebih dari lima puluh tahun yang lalu: sama sekali tidak disebutkan tentang Helenisme, Kekristenan, atau Gereja Koptik – selama seribu tahun sejarah Mesir pra-Islam. Sejarah dimulai dengan para firaun, lalu meloncat ke abad ke-7 ketika Muslim Arab “membuka” Mesir bagi Islam. Penaklukan Muslim terhadap wilayah non-Muslim, secara eufemisme disebut “pembukaan,” fath, tidak disebut “penaklukan.”
graphic
Sharara Yousif Zara, seorang politisi berpengaruh yang menangani Kementerian Pendidikan Iraq juga menyetujuinya, “Situasi yang sama terjadi di Iraq. Hampir tidak ada apa pun tentang Kristen dalam buku-buku sejarah Iraq, dan sekiranya ada, itu isinya benar-benar salah. Tidak disebutkan apa pun tentang Kristen di sini, sebelum kedatangan Islam. Satu-satunya Kristen yang disebutkan adalah yang berasal dari Barat. Banyak orang Iraq percaya, orang Kristen di Iraq itu pendatang, dari Barat. Bahwa Kristen itu adalah tamu-tamu di negeri ini.”
christian-mideast
Pendekatan sejarah yang dipalsukan di Timur Tengah terhadap Kekristenan secara turun-temurun telah berhasil mengindoktrinasi murid-murid Muslim untuk menaruh rasa curiga dan membenci Kekristenan, yang secara umum dipandang sebagai sisa-sisa parasit asing yang ditinggalkan oleh kolonisasi Barat, meskipun sebenarnya, Kekristenan telah berkembang mendahului Islam di wilayah tersebut selama enam abad.
Ini juga menjelaskan ironi pahit di dalam Islam Timur Tengah: sejumlah besar orang Kristen Timur Tengah masa kini yang dianiaya oleh Muslim – termasuk seperti ISIS – yang nenek moyangnya sendiri dulunya adalah orang-orang Kristen yang dianiaya, kemudian berpindah ke dalam Islam untuk mengakhiri penderitaan mereka. Dengan kata lain, keturunan-keturunan Muslim dari mantan orang-orang Kristen yang pada zaman dahulu dianiaya ini sekarang membantai saudara sepupu Kristen mereka sendiri. Kristen dipandang sebagai bagian “pengkhianat asing” karena banyak Muslim yang tidak mengenal nenek moyang Kristen mereka sendiri.
Karena revisi sejarah yang sudah mendarah daging ini, para ‘ahli-ahli’ Muslim Mesir dapat memasukkan thesis-thesis yang sangat meragukan dan ahistoris, seperti terlihat dari buku Dr. Fadel Soliman 2011, Koptik: Muslim Sebelum Muhammad. Ia mengklaim bahwa, pada zaman Muslim menaklukkan Mesir, bagian terbesar orang Mesir bukanlah orang Kristen (seperti yang selama berabad-abad diajarkan oleh sejarah Muslim) tetapi merupakan proto-Muslim, atau muwahidin, yang ditindas oleh orang-orang Kristen Eropa: maka dari itu, invasi Islam di Mesir sebenarnya adalah “membebaskan” saudara-saudara Muslim.
Tidak perlu dikatakan, tidak ada sejarawan yang pernah menulis bahwa Muslim menduduki Mesir untuk membebaskan orang-orang “proto-Muslim.” Sebaliknya, para penulis sejarah Muslim yang menulis sumber-sumber utama Islam di Mesir, secara sembunyi-sembunyi dan terus-menerus menggambarkan “pembukaan-pembukaan” sementara mereka menaklukkan, yang tidak jarang disertai dengan pembunuhan, perbudakan, dan pengusiran orang Kristen dan penghancuran ribuan gereja di tempat itu.
coptic
Gabriel Naddaf
Gabriel Naddaf, seorang pendeta Israel dari Gereja Yunani Orthodox, mengatakan dalam wawancara dengan Algemeiner bahwa “Negara Yahudi adalah satu-satunya negara di Timur Tengah dimana orang Kristen dapat menjalankan iman mereka bebas dari penindasan,” dia mengatakan, “Komunitas Kristen di Israel telah bertambah empat kali lipat sejak kemerdekaan Israel tahun 1948, dari 34 ribu menjadi 158 ribu pada tahun 2012.”
Meskipun tidak sebanyak atau mendapatkan keuntungan seperti hubungannya dengan Kristen, bangsa Arab juga bertambah banyak di Tanah Israel. Sebelum diberikannya Mandat dari Inggris, tanah Palestina, merupakan suatu wilayah yang terabaikan di salah satu sudut Kerajaan Ottoman, dengan hanya 700.000 orang penduduk yang tinggal di negeri itu. Sementara populasi orang Yahudi bertambah di antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II, populasi penduduk Arab juga meningkat 120 persen.

Referensi:


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...